Matamu


Jika ada yang tidak mencintai matamu

maka itu pasti kesedihan

tak pernah lagi ku lihat ia singgah, disana

 

Jika ada yang begitu mencintai matamu

itu pasti cahaya

yang membuatku selalu jatuh cinta tiap kali melihatnya

 

Maka ijinkan aku memanggilya surga

tempat segala keindahan tampak begitu sempurna

di matamu.

Rumah Baru Untukku Nanti


Jika kelak kau tak dapat menemukan aku dimanapun, ingatlah sebuah rumah yang dulu pernah kita buat dengan mimpi yang indah. Rumah yang hanya kita berdua yang memiliki kuncinya, rumah yang telah kita janjikan hanya akan selalu kita kunjungi saat salah satu dari kita telah pergi.

Jika kelak aku telah benar-benar tak ada lagi, temukan aku di dalam rumah yang kini tengah kau tuju, dan peluklah aku dengan begitu eratnya di dadamu, agar aku tetap bisa merasakan detak jantungmu yang mencintaiku.

Jika kelak watku itu benar-benar datang, suamiku, pergilah ke sebuah lemari dan temukan sebuah buku kumpulan puisi yang pernah kita simpan bersama-sama, bacalah sajak-sajakku dengan suara lantang dan kau rasakan betapa aku tak akan pernah benar-benar pergi.
Disanalah rumah baruku, rumah yang dapat kau kunjungi sepanjang waktu, rumah yang tak henti membisikkan doa dan cinta untukmu.

Malaikat Merindu Pelukan


Aku berjalan tertatih menyusuri jalan menuju rumahku. Sebuah gang kecil yang kumuh. Dari kejauhan aku melihat seorang gadis kecil berusia tiga tahunan duduk di samping tong sampah. Semakin dekat, kulihat ada kilatan cahaya dimatanya,wajahnya ayu, bersih. Tapi kenapa ia disini hatiku bertanya tanya.

“Ma..” ucap sigadis ayu tersebut ketika aku melewatinya. Aku tekesima mendengarnya memanggil ku mama. Aku membalikkan badan, ku hampiri anak tersebut. 

“Kamu siapa? kenapa disini malam malam?” ucapku perlahan. Dia diam tak menjawab, matanya menatap mataku. “baiklah ayo ikut aku” aku menggendong gadis itu menuju rumah.
**
Di sofa usang kududukkan ia, kuperhatikan sepasang sayap mainan yang ia kenakan. “Dimana rumahmu nak” kusodorkan segelas air putih. Dia hanya menggeleng. “Baiklah, sekarang kamu tidur besok kita cari rumahmu” kupegang
kedua sayap mainan itu untuk dilepas. Tapi merekat kuat.

“Ma, ini bukan mainan” ucapnya perlahan. Kutatap wajahnya, sinar terang terpancar disana. Aku duduk disampingnya.

“Ma, aku malaikat yang diutus Tuhan untuk menitis kedalam janin yg mama kandung. aku janin yang dulu mama tidak kehendaki.” ia terdiam sejenak. “Tadi, saat aku akan masuk dalam perut mama, kulihat mama sedang merintih sakit diruang dukun itu lagi. Dan ku saksikan ragaku berlumur darah didalam baskom” ia 
berkata tanpa ekspresi.

Aku diam air mataku meleleh, ku ingat baru saja aku menggugurkan kandungan ku di rumah seorang dukun langgananku. Aku hanya seorang pelacur, sering kali aku hamil dan sering pula kugugurkan. Aku tak mungkin bisa mendidik anak. Aku hanya pelacur jalang. Maka kuputuskan aku tak mau melahirkan anak.

“Ma, aku rindu pelukan. Tiga tahun aku mencoba pulang dan mama masih menolakku” ucap nya perlahan. Ada harapan di matanya yang mulai memudar.

Kali ini airmataku menetes, baru kali ini aku merasa menyesal telah menggugurkan kandunganku. Ku peluk tubuh kecilnya. Tak berapa lama ku rasa ada yang aneh, kubuka mata dan kudapati hanya ada sepasang sayap yang kudekap erat. Malaikat 
kecil itu telah pergi. Aku kembali tersedu di sofa usang rumahku.

tuhan telah ciptakan


Tuhan menciptakan cinta, agar kau selalu punya alasan untuk tetap berdoa,

lalu Ia menciptakan rindu, untuk menguji ketabahanmu dalam mencintaiku.

ketika Tuhan menciptakan cemburu, Ia ingin kau sepenuh hati menjagaku,

kemudian Ia menciptakan patah hati agar engkau mencintaiku dengan hati hati.

Sajak kecil tentang CINTA


~ Cinta adalah nyala di dada, menerangi atau membakar, tergantung bagaimana kau meletakkannya.

~ Cinta adalah panah yang melesatkanku pada burung burung yang terbang di angkasa, mungkin sampai, mungkin hilang.

~ Cinta adalah dia yang berjalan penuh rahasia, kau tak akan pernah tahu ke mana dia akan melanjutkan langkah.

~ Cinta ialah ia yg mengendap diam diam saat datang; dan menamparmu paling kencang, sesaat sebelum menghilang.

~ Cinta itu air yang mengalir ke lautan, tak semua yang ia lewati adalah sungai yang jernih.

~ Cinta selalu membisikkan apa yang harus kulakukan dengan baik. Dan benci selalu memintaku menutup telinga.

~ Cinta dan doa, adalah dua hal yang bisa melakukan apa yang tak kau bisa.

~ Cinta hanyalah isyarat bahwa hati Tuhan telah dekat.

~ Cinta akan lebih tahu, kemana hatimu akan dibawa bertamu.

~ Yang selalu datang diam diam adalah cinta dan air mata, bahkan kau juga tak pernah tahu kapan perginya.

~ Cinta itu sayang, punya dua tikungan, berjalanlah perlahan, duka atau bahagia, kau akan tetap sampai pada tujuan.

~ Jadilah cinta yg tak pernah mempertanyakan, agar tak perlu mencari alasan untuk meninggalkan.

Maafkan aku, Rana.


Lagi dan lagi setiap pagi ia selalu menanyakan mengapa aku sudah tidur disampingnya, bukankah kami belum menikah dan hari ini adalah hari pernikahan kami. Setelah aku menjawab dan menjelaskan padanya, ia hanya mengangguk dan mencoba memahami apa yang aku katakan.

Lalu setelah itu ia akan mengajak ku berbincang tentang berita yang lalu berita yang sudah basi dan tiap hari selalu ia ceritakan padaku. Aku hanya bisa tersenyum pahit memandangnya, kadang aku mencoba menanggapi dan terkadang aku hanya bisa terdiam saja mendengarkan ia bercerita lalu sesekali mengusap rambut hitamnya.

Saat ku tinggal bekerja, ia masih mengantarkanku kemobil namun saat aku pulang ia kembali menanyakan mengapa aku pulang kerumahnya. Kembali aku harus dengan sabar bercerita padanya.

Ketika malam tiba, ia duduk di ruang baca membaca tabloid dan koran-koran lama, kemudian berteriak keheranan dan memangilku untuk memberi tahu berita yang menurutnya adalah berita terbaru.

Tarkadang aku lelah harus bercerita dan menjalaskan hal yang sama setiap hari, melihat muka bingungnya ketika menemukan aku tidur disampingnya. Sering air mata ini menetes dengan sendirinya tiap akli ku temui wajah bingung Rana. Namun, ketika Rana tersenyum, aku merasa segala beban itu hilang. Cintaku selalu mengalahkan segalanya, selalu.

**

Rana Istriku mengalami kecelakaan menjelang hari pernikahan kami, mobil yang dikendarainya ditabrak oleh Truk. Rana mengalami benturan dasyat dikepalanya. Beberapa hari seusai kecelakaan itu, kondisi Rana membaik namun, ia selalu bertanya dan melupakan semua hal yang baru saja terjadi. Menurut dokter yang menangani kasusnya Rana terkena Anterograde amnesia dimana ia tidak bisa mengingat atau menyimpan kejadian-kejadian yang ia alami usai kecelakaan itu. Ia hanya bisa mengingat senua kejadian sebelum kecelakaan itu menimpanya. Hidupnya seperti tidak pernah maju, ia selelu bercerita tentang hal yan lalu. Beberapa bulan kemudian, setelah kondisi fisik Rana dinyatakan pulih kami melangsungkan pernikahan kami yang tertunda.

**
Aku menangis ketika mendapati Rana kerkulai lemah di sebuah klinik bersalin. Wajahnya pucat dan ia tampak sangat lemas. Rana menggugurkan anak kami ketika aku bekerja, tampaknya ia kaget mendapati perutnya yang membesar.

Semua salahku. Aku meninggalkannya bekerja sebelum ia terbangun dan tidak menceritakan lagi padanya apa yang telah ia dan aku alami. Ia tidak mengingat aku suaminya, ia tidak mengingat bayi yang dikandungnya adalah anak kami.

Kado dari Ibu


Kumasukkan lipstik terakhir dari ibu ke laci, bersama lipstik-lipstik lainnya.
Lima tahun sudah aku menyimpannya, tanpa pernah kupakai.

”Kamu itu cantik, banyak pria tertarik padamu. Jangan pernah menyalahi kodrat
Tuhan, kau terlahir sebagai wanita, mati juga sebagai wanita,” kalimat sama yang
ibu ucapkan di setiap ulang tahunku sembari mengulurkan kado. Sebuah lipstik yang
diikat dengan pita.

Sejak ulang tahun ke-17 ibu mulai memberiku lipstik sebagai kado. Sejak itu ibu
mulai mengaturku, memaksaku memakai rok, melarangku potong rambut cepak,
mencomblangkanku dengan anak-anak sahabatnya. Semuanya agar aku menjadi wanita
seutuhnya.

Hari ini, ulang tahunku yang ke-23. Ibu mengetuk pintu kamarku, aku menyambutnya
dengan belati. Maaf ibu, aku jemu dengan nasehatmu, hidupku adalah milikku.

TERLALU MENCINTAIKU, ATAU SEBALIKNYA?


Sudah 15 tahun kami menikah, selama itu kami tak dititipi anak oleh Tuhan, tapi
suamiku tak pernah berniat menceraikanku. Mungkin ia begitu mencintaiku atau
malah sebaliknya? Padahal aku sudah berkali-kali meminta cerai.
Beberapa tahun terakhir ini, karier suamiku melesat, ia selalu dipromosikan oleh
perusahaannya. Sejak itu ia sering pulang larut malam, bahkan seringkali pagi.
Setiap kali kutemukan bukti dia chek-in di hotel, aku meminta cerai. setiap itu pula ia selalu mengulurkan sebuah cincin dan melamarku kembali.
“Aku hanya mencari ibu untuk anak kita,” alasannya.

Saat Cinta Tak Harus Dipertahankan


Tok.. Tok.. Tok.. Palu hakim diketukkan tiga kali, pertanda perpisahan kami telah sah di mata hukum. Ku seka air mata yang jatuh di pipiku, aku harus kuat, harus mampu menahan perih ini. Bagaimanapun juga ini adalah pilihan terbaik. Tak ada yang lebih baik, karna memang tak ada pilihan lain.
Aku masih tertunduk lesu di ruang persidangan. Laskar segera menghampiriku, memelukku, membenamkan kepalaku di bahunya yang kekar, bahu yang selalu menjadi tempat bagi luka-lukaku, tapi kini harus ku tinggalkan. Kami menangis, dan mencoba saling menguatkan.

**

Sudah dua hari badan Angel panas, ia terlihat pucat dan nafsu makannya menurun, ia juga tak pernah lagi menghabiskan susu botol yang ku buatkan. Malam itu aku dan Laskar segera membawanya ke rumah sakit, setelah menjalani pemeriksaan sana sini akhirnya dokter mengatakan apa penyakit yang diderita oleh Angel.
“Bu, bedasarkan pemeriksaan yang kami lakukan, dapat disimpulkan bahwa anak bapak dan ibu mengidap penyakit kelainan darah.” napasku terhenti sesaat, ketegangan merayap dalam tubuhku perlahan, aku mencoba menerka nerka kata dokter dan berusaha mensugesti diriku sendiri bahwa penyakit ini tidak berbahaya. Bagaimanapun juga kata kelainan darah cukup mengetarkan hatiku. Tapi aku gagal, setelah ku dengar apa kata dokter selanjutnya. “Penyakit ini merupakan kelainan darah yang diwariskan oleh orang tuanya dan di derita oleh anak sejak lahir. Kelainan ini berupa pendeknya usia sel darah merah yang dimiliki dan sel darah merah tersebut tidak bisa berkembang.” pikiranku seperti dipenuhi berkarung-karung tanda tanya yang sebentar lagi pasti akan terjawab. Tapi kelainan darah seperti apa? Tertular dari akukah? Laskar kah?
Aku berusaha tenang, meski pada saat itu aku tak bisa berpikir apapun, aku kalut, bingung, sedih, semua teramu dalam hatiku.
“Lalu bagaimana pengobatannya dok?” ucap Laskar sembari merangkul pundakku. Aku tahu ia mencoba menenangkanku.
“Sampai saat ini belum ditemukan obat untuk menyembuhkannya.” seperti mendengar suara petir yang cukup keras dan petir tersebut mengenai tubuhku dengan tepat, tanpa meleset satu incipun. Tak lagi ku rasakan apapun kecuali airmata yang tak berhenti mengalir dari sudut mataku. “untuk bisa membuatnya tetap bertahan hidup, sepanjang hidupnya anak bapak dan ibu harus menjalani tranfusi darah, hal ini untuk mengganti sel sel darah merah yang telah mati.” terang dokter.
“sepanjang hidupnya dok?” tanyaku. Dokter itu hanya mengangguk. Seluruh persendianku menjadi lemah, bahkan untuk menggerakkan tangan dan kakiku pun terasa sangat berat. Satu satunya anggota tubuh yang bisa ku gerakkan adalah kelopak mataku. Berkedip. Silih berganti ku dengar penjelasan dokter dan pertanyaan pertanyaan Laskar kepadanya, sementara aku tak mampu bersuara sedikitpun.

**

Belum genap satu tahun seusai vonis dokter, Angel menghebuskan napas terakhirnya. Mungkin ia telah lelah menjalani rutinitas hidupnya, obat, suntikan, obat, suntikan. Sementara aku dan Laskar harus banting tulang dan otak untuk membiayai pengobatan Angel. Bayangkan sepuluh juta rupiah harus kami siapkan tiap bulannya untuk biaya pengobatan. Andai saja kami adalah orang kaya, maka itu bukanlah masalah sulit.
Aku hanya ibu rumah tangga yang membuka usaha salon kecantikan di rumah, sementara laskar hanya hanya seorang pegawai disebuah perusahaaan swasta. Total pendapatan kami dalam satu bulan paling banter hanya lima juta rupiah. Itu masih harus digunakan untuk keperluan rumah tangga. Setahun berjuang membeli tiap tetes darah dan obat untuk napas Angel, kami telah menjual rumah yang kami tempati dan pindah kerumah kontrakan, sepeda motor yang biasa Laskar gunakan untuk bekerja pun telah terjual untuk pengobatan.
Kalian bisa bayangkan betapa sakit dan hancurnya hatiku menerima kenyataan Angel harus meregang nyawa diusianya yang baru 15 bulan. Padahal aku dan Laskar telah berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankanya. Saat itu aku merasa seluruh duniaku berguncang, tiap aku berjalan seperti hanya ragaku yang malayang-lanyang dan jiwaku masih tertunduk tersedu di kamar Angel.

**

”Laskar, aku tak bisa melanjutkan kisah ini” ucapku terbata dengan airmata yang mengalir deras di mataku.
”Maksudmu?” jawab Laskar dengan muka bingung. Aku tahu sebenarnya dia tahu apa yang aku katakan, dia pasti mengerti apa yang ku inginkan, namun ia hanya berusaha menahanku, pura-pura tak mengerti agar aku tak jadi mengucapkan semuanya. Tapi aku tak mau peristiwa yang sama terulang, aku tak sanggup harus kehilangan buah hatiku dengan penyakit yang sama.
Aku dan Laskar sama sama pengidap Thalasseamia minor, maka kelak anak (keturunan kami) berpeluang untuk mengidap thalasseamia mayor (seperti Angel) meskipun tidak 100% karna masih ada kemungkinan bahwa anak kami bisa saja normal karena mewarisi masing-masing gen baik dari kami, Thallasseamia minor karena mewarisi salah satu gen gagal, atau kemungkinan terburuknya adalah Thalasseamia mayaor karena mewarisi gen buruk dari kami berdua. Tapi aku tak mau main untung-untungan, kehilangan Angel telah membuat separuh hidupku hancur dan aku tak mau kelihangan lagi anak-anak ku kelak karena hal yang sama.
Bukan hanya karena ku takut kehilangan, jika saja pernikahan ini terus kulanjutkan maka dengan sengaja aku telah membiarkan calon anak kami terlahir dengan penyakit yang berbahanya hanya karena keegoisan cinta.
”Aku ingin mengakhiri pernikahan ini, agar kelak tak ada lagi Angel lain dalam hidup kita, agar tak ada perih lain yang mengiris-iris hati kita” aku berusaha kuat. Aku yakin ini adalah pilihan terbaik, meski adalah jalan tersulit.
”Aku menyayangimu Kinan, sangat menyayangimu, bagaimana aku bisa melepasmu, sungguh aku tak akan bisa hidup tanpamu,” Laskar mendekap tubuhku, aku tahu saat ini dia benar-benar bersedih.
”Aku tahu Laskar, kita memang saling mencintai. Tapi apakah cinta yang egois yang kita miliki? Apakah cinta yang sadis harus kita pertahankan? Mengorbankan kehidupan anak-anak kita kelak? Aku tak sanggup Laskar. Sungguh aku tak sanggup” tangisku pecah di bahunya.
Sesaat suasana hening, kami tenggelam dalam airmata masing-masing. Mencoba menemukan terang dalam kegelapan.
”Kinan kita bisa memilih tidak memiliki anak sayang, kita adopsi saja anak yatim untuk kita rawat” Laskar memecahkan kesunyian, berusaha memberi pilihan.
Ku tatap matanya tajam, masih kulihat bekas-bekas airmata disana. ”Dan kau rela tak memiliki keturunan yang akan terus mengelirkan darahmu?” Sejenak Laskar terdiam, aku tahu ia sulit untuk memilih, karna sama sekali tak ada pilihan dalam kisah ini. ”kita telah melewati ribuan hari bersama, mungkin bukan hal yang mudah untuk bisa melupakan semuanya, tapi kau tak boleh lupa bahwa ada ribuan hari yang jauh lebih banyak pernah kau lewati tanpaku, sebelum kau mengenalku. Aku yakin kita akan kuat. Kita pasti bisa.” entah mengapa aku menjadi begitu tegar dalam menghadapi masalah ini. Ya, mungkin karena kesedihanku telah terbawa oleh kepergian Angel.

**

Setelah mecoba mencari jalan keluar dan mencoba merenungi beberapa waktu, akhirnya kami sepakat untuk bercerai. Perpisahan yang sungguh tak pernah kami harapkan, tak pernah kami bayangkan. Dan yang paling terasa menyakitkan adah perceraian ini harus terjadi disaat hati kami masih saling mencinta. Tapi kami percaya bahwa memang ada saatnya cinta tidak harus dipertahankan.

Alasan Echa


“Pa, Cha dikasih duit sama Budhe Eni. Cha celengin ya?” ucap gadis kecilku yang baru berusia lima tahun sambil memasukan beberapa lembar uang puluhan ribu ke dalam celengan ayamnya. Aku mengangguk pelan sembari mengusap rambut hitamnya. Akhir-akhir ini kuperhatikan, Cha rajin menabung uang pemberianku maupun dari sanak saudara yang memberinya untuk jajan. Cha juga tak lagi rewel ketika harus kutitipkan pada adik perempuanku, saat kutinggal bekerja, setelah kuberi penjelasan bahwa aku bekerja untuk mencari uang. Sore itu, tangan mungil Cha membawa celengannya ke arahku. “Pa, celengan Cha udah mau penuh, nanti kalau udah penuh kita buka, buat beli Mama dari Tuhan ya, Pa,” ucapnya polos, namun menjatuhkan ribuan hujan di mataku.