BIARKAN AKU TETAP SEPERTI INI


Andai kau tahu, Rana, tertawa tanpamu itu sulit, tentu kau tak akan pernah melarangku menangis.

Ibu mengusap air mata yang perlahan jatuh di pipiku, ini kesekian kalinya Ibu melihatku menangis. Tapi tak sedikitpun Ibu bertanya padaku mengapa aku menangis. Aku sendiri pun telah melupakan alasan yang membuat air mata ini menciptakan aliran sungai di pipiku.

Ku lihat sekilas di mata Ibu ada air mata yang menetes. mungkin karenaku.

Din, mengapa tak mau ke Rumah Sakit? Andai saja kamu mengerti harapan Ibu padamu nak..” ucap Ibu sambil memeluk tubuh ku.

Dan andai ibu juga mengerti apa yang kurasakan saat ini, mungkin Ibu akan tahu mengapa aku lebih memilih disini, tetap begini. Aku berbisik dalam hatiku.

Ku paksakan sebuah senyum termanisku untuk Ibu, agar ia berhenti meneteskan air matanya, agar wajah ayunya tak tertutup oleh gurat gurat kesedihan. Aku tersenyum, kemudian mengajak Ibu tertawa melupakan kesedihan yang baru saja melingkupi kami. Ibu masih saja menangis, ah.. Ibu memang terlalu rapuh batin ku dalam hati. Ia tak bisa sepertiku yang selalu bisa tertawa. Ibu memang kerapkali seperti ini, aku sudah terbiasa melihatnya menangis. Kita memang seringkali menangis bersama-sama.

***

Saat aku membuka mata, kulihat seseorang menyuntikkan cairan padaku, tiba-tiba pandanganku mengabur dan hanya gelap yang bisa kulihat. Aku seperti ingin kembali tertidur. Dengan samar masih bisa ku dengar isak tangis Ibu di sampingku, aku merasakan tubuhku diangkat, entah akan dibawa kemana tapi aku mencurigai sesuatu.

Saat aku terbangun, kulihat Ibu dengan air mata yang masih menetes. Aku tersenyum pada Ibu, kupandangi wajahnya yang mirip dengan kekasihku Rana. Kutemukan tatapan mata penuh cinta, mirip tatapan Rana ketika menatap mataku.

Ah… tiba-tiba aku menjadi rindu dengan Rana, terlintas bayangan Rana berkelebat dalam pikiranku, senyumnya, tatap matanya, hangat peluknya. Rana kau memang mempesona, tak salah aku memilihmu menjadi kekasihku.

Aku kembali teringat dengan Ibu yang tadi menangis, aku pun segera menghempaskan bayangan Rana dari pikiranku. Aku tersenyum lagi, tapi Ibu tetap menangis.

Ibu jangan menangis” aku berkata padanya, ingin ku usap air mata itu dari pipinya, sama seperti yang selalu Ibu lakukan tiap kali aku menangis.

Saat akan kuangkat tanganku, kurasakan sesuatu menahannya, tanganku terikat pada sisi tempat tidur ini. Aku meberusaha melepasnya tapi tak bisa. Ikatan ini terlalu kuat. Aku berteriak, meronta-ronta. Aku menagis sekencang –kencangnya, ku maki semua orang yang ada disini, tapi mereka tak mau menolongku untuk melepaskan ikatan ini dariku. Kurasakan Ibu memelukku, berusaha menenangkanku.

Tenganglah nak, kini kau berada di tempat yang tepat, kau akan sembuh dan menyalakan lagi lentera kehidupan Ibu, kau anakku satu-satunya, Ibu tak mau kau terluka” suara Ibu terdengar samar diantara isak tangisnya.

Kini aku sadar Ibu telah membawaku ke Rumah sakit, tempat dimana aku akan disembuhkan. Tempat dimana akan membangun lagi kenangan yang sejauh ini berusaha kulupakan, meski terkadang aku mengingatnya dan aku menangis kala itu.

***

Dear Dino,

Din, maafkan atas semua kesalahanku kali ini, aku tahu semua ini akan meyakitimu, tapi aku percaya kau akan sanggup melewati semua ini tanpa ku, aku percaya kau akan kuat membangun mimpi –mimpimu tanpa ku.

Andai saja aku memiliki pilihan, aku pasti memilih untuk tetap bersamamu dan andai saja aku bisa memutar waktu akan kuputar saat Ayah belum meninggal dunia dan membatalkan perjodohanku dengan Ardi.

Tapi kau tahu kan Din, aku tak sekuat itu untuk bisa melakukan perubahan yang kita harapkan.

Din, aku telah memutuskan untuk mengatakan semuanya pada Ayah, agar kelak ia merestui hubungan kita. Aku tak sanggup menata kehidupanku tanpa kamu. Berjanjilah padaku, jangan menangisi dan menyalahkan keputusanku, percayalah.. aku pasti bisa membujuk Ayah dan kita akan kekal abadi bersama nanti.

Yang selalu mencintaimu

Rana

Kubaca ulang surat Rana yang ia berikan pada Dino, sebelum kepergiannya. Masih ku ingat ekspresi Dino kala aku memberikan surat itu padanya, air matanya menetes deras, namun ia segera mengusapnya. Ia mencoba tersenyum, namun gagal dan air mata kembali menetes di pipinya. Isak tangisnya seperti tercekat di tengorokan tak ada suara hingga ku dengar Dino terawa tebahak-bahak sambil berkata ”aku tidak menangis Rana!!! Aku tidak menangis, lihatlah aku..” ”hahhahahahhaha… aku tidak akan menangis, percayalah. Hahahhahahha.” kemudian ia terjatuh dan tak sadarkan diri.

Saat ia sadar tak lagi kutemukan Dino putraku, yang kudapati hanyalah Dino yang tiba-tiba menangis lalu tertawa terbahak-bahak. Tatapan matanya selalu kosong, tak ada harapan apapun disana.

Sering kutemui ia bercakap-cakap dengan tembok di kamarnya, sering pula ku lihat ia menangis memeluk guling.

Sebagai ibu tentu hatiku sangat sakit menyaksikan anak kesayanganku seperti itu.

Dino selalu meronta tiap kali ku ajak ia kerumah sakit, ia selalu menolak dan mengamuk setiap kali dokter mencoba memeriksanya. Kini sudah enam bulan Dino berada dalam keterasingan hidupnya, dan aku sudah tak sanggup lagi membiarkan keadaanya.

Kulipat kembali surat itu, entah setiap kali aku membacanya aku ingin segara mencarikan Rana yang baru untuk Dino. Rana yang bisa menyembuhkan dan menumbuhkan semangat lagi dalam hidup Dino.

***

Ibu, andai Ibu tahu aku tidak pernah gila, andai Ibu tahu semua yang kulakukan hanya untuk menutupi luka yang menganga dalam hatiku, untuk melupakan bahwa sesuatu telah terjadi pada hidupku.

Dengan begini aku tak kan sadar bahwa Rana benar-benar telah pergi, aku bisa menganggapnya ada kapan pun aku mau, aku bisa mengajaknya bercengkerama meskipun saat itu yang Ibu lihat aku berbicara pada dinding.

Ibu aku lebih nyaman dengan hal yang Ibu anggap gila ini, aku lebih tenang karna aku tak pernah merasa kehilangan Rana.

Biarkan aku tetap seperti ini Ibu, menikmati hidupku dengan kegilaan ini, menciptakan kembali Rana dengan kenangan yang aku miliki bersamanya.

Biarkan aku gila Ibu…

Kesembuhanku nanti hanya akan menjadi awal dari kegilaanku tanpa Rana, hanya akan menjadi luka yang tak tunjung usai.

Biarkan aku gila Ibu…

Iklan

Pagi Ini Aku Memikirkan Sesuatu


Pagi ini aku memikirkan sesuatu, tentang kita. Tentang hari esok, tentang suatu hari kelak yang kita sebut masa depan. Kita tak akan pernah tahu sampai kapan Tuhan terus merekatkan tangan kita, membiarkan kita terus saling menggenggam ketika berjalan.

Pagi ini aku membayangkan sesuatu yang mungkin, tapi tak pernah aku ingini. Sebab segala sesuatu selalu memiliki kemungkinan untuk terjadi. Entah setiap kali aku membayangkannya aku selalu merasa tak memiliki kesiapan untuk melewatinya.

Aku mulai berpikir tentang kamu, ketika kelak tanganku tak lagi bisa menghapus air matamu, aku akan selalu pastikan bahwa tangan ini tak akan alpa menengadahkan doa untukmu. Saat pelukanku tak lagi menjadi tempatmu menyandarkan kepedihan, aku berjanji lengan lengan doaku akan tetap memelukmu setiap waktu.

Lalu aku mulai membayangkan untuk menyiapkan kesendirianku. berjalan dengan tangan tak menggenggam, berusaha untuk tidak makan belepotan karna tak akan ada lagi yang mengusapnya, aku akan memilih berdiam di bawah selimut tebal saat hujan, menghilangkan sepi dengan lagu-lagu kesukaan, tidur tak lagi larut malam, banyak hal yang akan mulai kubayangkan untuk kulakukan sendiri.

Tapi ada yang tak pernah sanggup kubayangkan, ada yang tak terpecahkan dalam pikiran; kelak akan kita simpan dimana kenangan, saat kita benar-benar saling meninggalkan.

Menari di bawah hujan


Aku menari di bawah hujan, dan senja seolah melambat

menyempurnakan kepedihan

 

Aku menari di bawah hujan, daun – daun gugur diterpa angin

membuatku menyadari bahwa bukan hanya air mataku yang jatuh saat ini

 

Aku menari di bawah hujan, burung-burung mengepakkaan sayapnya perlahan

barkicau dengan suara lebih nyeri dari tangisan

 

Matahari masih terik bersinar, aku menari di bawah hujan yang terus jatuh dari mataku

Masa lalu telah mengatupkan payungnya dariku.

Sajak disuatu pagi


Selepas malam, aku selalu menunggu fajar meneteskanmu

seperti itulah kasih sayangku

sabar demi sebuah kesejukan

Dan aku, embun yang tabah mencintaimu

tak peduli seberapa sering kau meniadakanku

Percayalah, meskipun nyalaku terik

aku, akan selalu membuatmu tumbuh — di dalam dadaku

Aku menjauhkan engkau dari waktu

agar jari jemarinya tak dapat menyentuh hatimu

dan cinta adalah keabadian bagiku, bagi kita

Kita adalah pagi, embun dan matahari

kelak semua akan mengerti; tiada yang lebih abadi dari cinta yang kita miliki

Jika kelak sesuatu tak lagi mempertemukan kita pada pagi, kekasihku

maukah engkau menjadi daun daun tempatku menulis puisi

Aku tak hanya akan menjadi daun, kekasih

namun angin — yang rela tak kembali ke langit demi nampak dan kau tinggalkan jejak

by ; @susyillona & @dhehusnan

Cinta itu percaya


Cinta itu seperti hujan, tubuhmu selalu nampak gigil kedinginan dan tanganku selalu ingin melingkarkan pelukan.

Cinta itu seperti kota asing, engkau selalu berapi api untuk menemukan tempat yang unik, dan kakiku tak pernah tega membiarkanmu tersesat sendirian.

Sempurna. mungkin,

Sebelum kutahu engkau tak pernah memilih tanganku untuk menghangatkan saat telah kau miliki payung yang membuatmu terselamatkan dari hujan.

Sebelum kutahu, langkahku tak lebih berarti dari selembar peta yang kau beli, dan kau katakan kau bisa melewatinya sendiri.

Karenanya, apalah arti cinta, kekasih, jika kau tak pernah percaya pada bisikkannya.