Aku Masih Cemburu


Malam. Kami masih bersitegang. Entah siapa yang akan menang aku dengan keputusanku untuk tetap tinggal di Jakarta atau dia yang akan membawaku ke Padang. Dan detak jarum jam di kamar ini terdengar begitu nyaring , seperti sebuah aba-aba yang memintaku untuk terus menghadapi Mas Pram.

“Kau tetap tidak mau ikut aku?”

“Tidak”

“Tapi aku suamimu, seharusnya kau menurut”

“Tapi tidak untuk saat ini, tidak untuk sakit hati yang harus kubayar setiap hari.”

“Kumohon…”

Aku menggeleng.

Kami berdua kembali diam, dan ribuan kemungkinan kembali nenari-nari memasuki pikiranku. Aku menimbang-nimbang kembali keputusan yang akan kami ambil esok hari. Jakarta atau Padang. Malam telah melarutkan separuh wajahnya dalam kesunyian. Tak lagi ada nyanyian-nyanyian yang didendangkan langit. Gerimis perlahan turun mengetuk-ngetuk genting rumahku, dingin telah menyusup begitu cepat kadalam kamar, seperti seorang pencuri yang melihat kesempatan lalu masuk dengan cekatan. Kini kurasakan tanganku begitu kaku untuk menyentuhnya, mengharapkan pelukannya, aku tak berani. Kusisipkan sebuah doa sebelum terlelap “Tuhan, jika kami masih Kau takdirkan untuk bersama, ajari ia mencintai apa yang ia miliki. Berilah ia teguran dengan kehilangan.”

**

Aku ditakdirkan untuk tidak memiliki keturunan. Penyakit yang pernah kuderita telah mengambil rahimku, kebahagiaanku. Atas nama cinta ku ijinkan Mas Pram menikah lagi dengan gadis pilihannya, agar ia tetap bisa memiliki keturunan, meski bukan dari aku. Dengan syarat aku tak mau tinggal satu kota dengannya. Ia harus tinggal jauh dariku. Sejauh aku dapat membuang rasa cemburuku, sejauh  waktu dapat mengaburkan bayangan-bayangan yang cepat atau lambat akan melukaiku. Seikhlasnya hati wanita yang mengijinkan suaminya menikah lagi, ia tetap saja masih memiliki rasa cemburu. Masih.

”Din, Hana akan melahirkan minggu depan. Aku memutuskan kita berdua akan pindah ke Padang. Aku tak bisa lagi bolak-balik Jakarta-Padang seperti biasanya. Aku akan memiliki anak dan aku ingin selalu dekat dengannya. Kumohon kau mengerti”

”Tak cukupkah seminggu sekali kau kesana Mas?”

”Din, ini beda. Jika hanya Hana aku bisa saja seminggu sekali kesana, seperti biasanya. Tapi kali ini anakku akan lahir, Din, anak yang telah aku impikan lebih dari separuh umurku.”

”Aku akan tetep tinggal disini”

”Aku janji, aku akan tetap mencintaimu. Tak akan berubah sedikitpun”

”Sudahlah.. Jangan paksa aku. Aku tak bisa.”

**

Pagi. Rumahku telah dipenuhi oleh keluarga dan tetangga. Suara isak tangis terdengar begitu nyaring. Memilukan. Seperti suara malaikat yang mendendangkan kematian. Begitu mengharukan.

Aku mulai tersadar ketika melihat sosok seorang yang kukenal wajahnya terbaring kaku berbalut kain kafan. Ini jawaban Tuhan atas doaku. Tapi kenapa harus aku, Tuhan? Kenapa harus aku yang Kau jadikan teguran baginya?