Suatu saat nanti


img_20121125020909_50b11b5568b94Suatu saat nanti   Saat semua telah menyebut kita sebagai seorang yang renta   Seorang yang termakan usia (meskipun sesungguhnya tidak ada yang habis karenanya).

Suatu saat nanti   Saat waktu mulai rajin mengganti warna rambutmu, mulai rajin mengendurkan kulitmu dan membuat lipatan-lipatan kecil. Aku ingin engkau tidak melupakan satu hal. Hanya satu, tidak lebih.

Aku tidak meminta engkau menghapal namaku yang saat itu mungkin menjadi begitu rumit untuk kau ingat. Aku tidak meminta engkau untuk mengingat sajak-sajak yang pernah aku buat. Yang saat itu mungkin tak lagi terbaca oleh matamu yang kian renta. Aku juga tidak meminta enggkau untuk mengingat seluruh kisah yang pernah kita lewati bersama. Yang mungkin disaat yang sama juga telah aku lupakan. Biar semua yang tak mampu kau ingat, di gulung waktu. Karena disaat itu, Tuhan mulai rajin mengambil ingatan kita. Biar saja. Biarkan Tuhan melakukannya, itu adalah tugasNya.

Aku hanya ingin kau mengingat satu hal  ”kita tidak akan pernah merasa tersakiti oleh sebab apapun yang pernah kita lakukan. Sebab cinta akan selalu memaafkan”   lalu, kita akan sama-sama tersenyum mengingat hari hari, ternyenyum menghadapi mati, tersenyum karena kita berhasil membuat ”kita” bahagia.

Iklan

Milik Waktu


Daun daun jatuh dari dahannya. Ada yang kehilangan namun tidak menangis.
Daun daun jatuh ke tanah. Ada yang mendapatkan tapi tidak tertawa.

Sebab mereka tahu, kehilangan dan kehadiran bukan milik siapapun selain waktu.