Sajak Sepotong Lilin


Kembali ke masa lalu, mengingat masa-masa menulis begitu menyenangkan dan menenangkan.

Danau Puisi

Sajak Sepotong Lilin
: @susyillona

Dua cangkir teh
sepasang mata memejamkan cahaya
sebuah kehilangan datang begitu saja—
ketika kita sadar
di masa depan
: segala hal pasti berlalu.

Pemandangan di lepas jendela, begitu jelas
menyiratkan segalanya
: senja telah padam, dan rindu
hanya siluet tak berujud
di redup hidup.

Namun, selama harum musim
tak pernah mampu
dihapus jarak
usia selalu tabah
menziarahi masa lalunya sendiri.

Sekarang
biarlah aku menyala, tanpa memikirkan
apa jadinya nanti
aku hanya ingin, mencintaimu lebih jauh
dan menuliskanmu
sebagai puisi — sebagai aksara
di lengang udara.

Sebelum waktu merengut
kata-kata dalam jiwaku
dan usia — kembali memeluk kesepian
: di rahim ibu.

Selamat meniup lilin
biarkan cahayaku jatuh di dadamu
sebagai doa
dan kita.

8 Maret 2012

Lihat pos aslinya

Iklan

Memecah amarah


image

Sungguh memendam rasa marah itu tidak mengasyikkan sama sekali.
Kemarin di depan seorang konsultan saya mulai bercerita tentang masalah pribadi saya, keluhan keluhan saya dan hal hal yang melatar belakangi kehadiran saya di rumahnya hari itu.

Tebakannya benar, bahwa sesungguhnya saya sudah tidak perduli lagi dengan dia yang membuat luka dalam hati saya. Lalu mengapa saya masih butuh sesorang konsultan itu, mengapakah saya belum merasa tenang, masih merasa ada yang belum selesai? Karena sesungguhnya saya belum bisa berdamai dengan diri saya sendiri. Karena saya masih menyimpan amarah yang menumpuk yang belum pernah keluar dari diri saya, saya seperti sedang memelihara sebuah bisul yang tak berani saya pecahkan.
Karena saya belum bisa memaafkan diri saya sendiri yang telah dilukai dan dikecewakan oleh orang lain. Merasa bahwa saya seharusnya tidak berhak menerima rasa sakit itu, merasa bahwa saya baik-baik saja meski pada kenyataannya saya luka parah. Saya seperti seseorang yang bersembunyi dari diri saya sendiri.

Lalu saya harus bagaimana?
– Memaafkan diri sendiri
– Menerima rasa sakit dan percaya bahwa saya bisa sembuh
– Melampiaskan amarah saya.

Iya, saya harus berani memecah bisul di hati saya dan menerima rasa sakit luar biasa untuk menyembuhkannya.

Berani berkata kepada orang lain bahwa saya memang sedang tidak baik-baik saja seperti yang mereka kira saat ini.

Apakah semua ini artinya bahwa saya masih peduli dengan seseorang yang menyakiti saya tersebut hingga saya belum bisa menerima semua itu? NO. Tidak sedikitpun saya perduli atau mengingatnya.

Lalu mengapa masih terluka?
Karena diri saya sendiri. Karena proses internal dalam diri saya sendiri. Saya yang merasa tidak pernah terluka dan menyimpan rapat-rapat bisul itu ternyata tidak akan bisa membuat bisul itu sembuh dengan sendirinya. Iya, seperti itulah kira2.

Ia memberi saya waktu satu minggu untuk menyelesaikan konflik dalam diri saya sendiri. Membiarkan saya untuk mengakui bahwa ada bisul dalam diri saya dan saya harus berani memecah, membedah dan mengeluarkan semua nanahnya.

Satu minggu. Sekarang saya sedang berfikir bagaimana caranya memecah bisul itu.

09 Agustus 2015