Hujan Ini Milik Siapa?


image

Dear Di,

Cuaca di luar mendung, sebentar lagi hujan pasti turun. Namun hari ini aku tidak ingin keluar dan menyapanya. Aku hanya ingin duduk diam di samping jendela. Melihat satu persatu daun daun yang jatuh di halaman.

Di, hujan mulai turun saat aku menulis paragraf kedua surat ini. Tetes tetes air perlahan dan mulai menderas. Aku membayangkan hujan-hujan sebelumnya saat wajahku mendongak ke atas merasakan tetes air jatuh ke wajahku. Menyesap dingin.

Aku menyukai gigil yang diciptakan hujan, dingin yang membuat gigiku gemeretak dan tangan tangan yang memucat. Aku menyukainya, sebab karenanya aku punya alasan untuk memeluk tubuhmu lebih lama. Aku punya alasan untuk memintamu menemaniku menikmati secangkir teh hangat berdua.

Di, hujan semakin deras. Aku melihat tubuhku menari di bawahnya, melihat air yang bergerak lincah seirama dengan tarianku. Aku melihat senyum yang mengembang dan mendengar nyanyian-nyanyin yang biasa aku dendangkan saat hujan jatuh membasahi tubuhku. Kau ingat lagu kesukaanku saat hujan?
Aku juga melihatmu tersenyummu yang menungguku bermain hujan, kau tak pernah mau bermain hujan Di, yang katamu hujan hanya akan memberimu gigil yang dalam. Kau tak pernah menyukainya seperti aku yang tak pernah suka minum kopi, namun aku dan kau sama-sama memahami dan menemani saat salah satu dari kita ingin melakukannya.

Di, aku melihat segalanya, semua yang tak lagi bisa kita lakukan bersama. Segala yang kini hanya aku bisa lihat di dalam ingatan.

Di, hujan di luar milik siapa? Aku masih berdiam di samping jendela namun kedua pipiku basah dan terasa hangat oleh hujan lainnya.

Jakarta, 04 Feb 2016

#30HariMenulisSuratCinta hari ke-5

Iklan