Kepada Seseorang yang Kelak Menemaniku Menua


image

Kepada seseorang yang kelak menemaniku menua,

Permintaanku sangat sederhana, cintai aku sebagai segalamu. Sebab aku adalah seseorang yang selalu ingin menjadi rumah tempatmu pulang.

Aku wanita yang begitu mudah menangis, kemarin aku melihat seorang lelaki menulis kata “akulah seseorang yang mencintaimu dan menyimpan kebahagiaan di sepasang matamu” kepada istrinya. Dan aku menangis karenanya, aku iri kepada wanita yang dicintai sedemikiannya, aku iri pada wanita yang selalu ingin dibahagiakan oleh lelakinya, aku terlalu iri melihat sepasang cahaya yang terbit dari mata lelaki tiap kali memandang senyum wanitanya.

Aku menangis membayangkan akulah wanita yang mendapat tulisan itu, membayangkan seorang lelaki yang kepadaku percaya bahwa kebahagiaan hanya akan lahir dalam genggaman tangan kita berdua.

Aku wanita yang mudah bahagia, dengan sekuntum mawar yang kau berikan tiba-tiba, dengan ucapan selamat makan yang tak terlewat setiap harinya, dengan selarik puisi yang kau bisikan setiap pagi.
Aku wanita yang mudah bahagia, dengan melihatmu tertawa, melihat sepasang cahaya penuh syukur di matamu, melihatmu merasa cukup telah memiliki aku, dengan memilikimu sebagai seseorang yang akan menemaniku menua.

Aku wanita yang jauh dari sempurna, aku tak bisa menjanjikan bahwa denganku kau akan selalu bahagia, namun aku akan mecoba untuk tidak pernah menjadi alasan kau menjatuhkan air mata. Dan jika kelak ada hujan yang jatuh dari matamu aku akan selalu menjadi orang yang pertama memelukmu dan mengusap airmatamu dengan sepasang tanganku.

Aku wanita yang jauh dari sempurna, aku tak bisa menjajikan bahwa kelak aku akan bisa memberikan segala yang kau pinta, namun aku akan mencoba menjadi seseorang yang denganmu aku akan selalu merasa cukup dan tak lagi perlu apa-apa.

Kepada lelaki yang kelak menemaniku menua, aku ingin bercerita tentang dua kehidupan yang hidup dalam diriku, dua kebahagiaan yang selalu menjadi alasnku berhenti menangis. Aku ingin kau mengenal mereka sedekat kau memahami dirimu memilihku sebagai wanita yang kau ajak menghabiskan usia. Aku ingin kau mencintai mereka seperti kau mencintai hidupku.

Aku wanita yang menyukai hujan, tiap kali hujan aku merasa bahwa aku adalah pohon-pohon yang berkekasih hujan, yang merindukan kehadirannya setelah kemarau panjang. Aku suka berdiam diri dijatuhi ribuan tetes air, menunggu tubuhku menggigil, kelak kau jadilah seseorang yang mau menemaniku menikmati hujan dengan caraku. Atau jadilah seseorang yang memelukku dan memberiku handuk seusai bermain hujan sendirian.

Aku adalah wanita yang bila marah hanya ingin ditenangkan dengan pelukan. Kelak jika aku marah, maka peluklah aku, meski aku memberontak, meski aku berteriak, tetap peluklah aku. Sebab tiada tempat yang lebih nyaman salain bahu dari seseorang yang paling aku cintai. Sebab tiada yang lebih menenangkan selain menyadari bahwa aku tidak sendirian.

Kepada lelaki yang kelak menemaniku menua, ketika aku telah memilihmu, maka percayalah bahwa kau adalah seseorang yang kepadaNya aku akan selalu berdoa agar kesedihan lupa kepada kita.

Kepada lelaki yang telah bersedia menjadi bagian dari kebahagiaanku, terima kasih telah memilihku sebagai teman untuk berbagi kisah dan tertawa bersama hingga akhir hidupku.

Jakarta 08 Feb 2016,

#30HariMenulisSuratCinta
Hari ke-9
Baca lebih lanjut

Iklan