Aku Perempuan Hujan


Kepada seseorang yang pernah menjadi pelangi,

Katamu; aku perempuan hujan, bukan karena aku terlalu suka dan sering bermain hujan namun karena aku begitu mudah menangis.
“Mengapa kau begitu sering menjatuhkan hujan? Kau seperti ibu bagi kesedihan, merawatnya dalam diam dan menjatuhkannya pelan-pelan”

Katamu aku perempuan hujan bermata pelangi, sebab setiap kali hujan turun di mataku kau melihat perihal lain yang terbit disana, sesuatu yang tak mampu dilihat oleh selain cinta.
“Kau terlalu sering menangis, bahkan untuk kesedihan orang lain. Kau tahu, tiap kali kau melakukan itu aku melihat pelangi kembar terbit di kedua matamu. Kau tidak sedang menangis, namun kau sedang melahirkan cinta yang tulus yang tak mampu dilihat oleh selain cinta”

Katamu; aku perempuan hujan bermata pelangi yang sering mendatangkan hujan tiba-tiba. Sebab, sering kali aku menangis tanpa ada mendung sebelumnya seperti hujan-hujan yang turun dari langit Tuhan. Aku bisa saja menangis saat mendoakan kebahagiaanmu meski aku tak lagi menjadi bagian kebahagiaanmu itu.
“Kau tahu, ada seseorang yang berbahagia saat kau mendoakan kebahagiaan untuknya dalam derai air mata, ia berbahagia sebab tahu kau begitu mencintainya, kau seharusnya tidak menangis untuk itu, namun karena kau perempuan hujan, maka tak seorangpun bisa menerka kapan hujan akan turun dari matamu yang pelangi.”

Katamu; aku perempuan hujan bermata pelangi yang sering mendatangkan hujan tiba-tiba dan menjadi penyejuk dalam kehidupanmu. Sebab sering kali aku menangis untuk hal-hal yang begitu sederhana, sebab aku manangis tidak hanya untuk kesedihan-kesedihanku saja. Aku menangis untuk banyak hal, aku bisa menangis melihat orang lain patah hati, aku bisa menangis saat kau perlakukan sepesial, saat kau cintai, kau beri perhatian, dan bahkan aku bisa menangis saat melihat seorang lelaki menuliskan puisi untuk istrinya di hatinya.
“Kau selalu menjadi hujan yang menyejukkan, hujan yang selalu ingin kupeluk setiap saat”

Kau tahu, semenjak itu aku turut serta menamai diriku perempuan hujan. Bahkan hingga kini, saat kau tak lagi ada, saat pelukmu bukan lagi yang meredakan hujanku, saat segala tentanmu menjadi perihal yang begitu mudah bagiku menurunkan hujan; aku tetap menjadi perempuan hujan dengan segala ingatan tentangmu yang selalu menjadi mendung.

Aku perempuan hujan yang pernah kau beri sebuah pertanyaan “Apakah menangis adalah caramu berbahagia?” dan apakah aku masih perlu menjawabnya sekarang?

Jakarta 11 Feb 2016
#30HariMenulisSuratCinta hari ke-12

Iklan

Kepada Seseorang Yang Kuharapkan Kehadirannya


Kelak kau pasti tahu, akan ada seseorang yang tak menginginkan apapun, selain pelukan menenangkanmu ~
———————————————————-

Kutipan di atas adalah sepenggal sajak dari Khrisna Pabichara yang berjudul “Kepada Seseorang Yang Ingin Kutahan Kepergiannya”. Pertama kali membacanya, aku langsung jatuh cinta dengan tulisan itu.
Kau tahu alasan terbesar seseorang menyukai sebuah sajak atau tulisan? Karena dia mengalami perasaan yang sama dengan tulisan itu ( mungkin bukan alasan terbesar orang, namun alasan terbesar bagiku sendiri).

Namun ketika Daeng Khrisna menuliskan sajak itu untuk seseorang yang tak diharapkan kepergiannya, aku merasakannya untuk seseorang yang kuinginkan kehadirannya. Sama saja, toh pada ujungnya tetap hanya ingin berada pada pelukan yang menenangkan.

Ketika air mata jatuh terlalu deras, ketika bahagia bahagia datang terlalu sering, aku bahkan tak ingin apapun selain melewati semuanya bersamamu.

Hanya kamu.

#30HariMenulisSuratCinta
Hari ke-11