Kepada Lelaki Pereda Hujan


Kepada Lelaki Pereda Hujan di Mataku,

Hari ini aku ingin bercerita banyak hal kepadamu, tidak seperti biasanya ketika dengan mudah aku menghubungimu dan dengan to the point mengatakan aku bersedih. Aku masih ingat terakhir kali menghubungimu beberapa hari yang lalu ketika aku memulai percakapan dengan kalimat “Aku menangis” dan kau membalasnya dengan “menangislah jika itu membuatmu lega“. Aku menghentikan percakapan itu, aku tidak lagi menghubungimu dan aku menangis sendiri malam itu tanpa kau yang menenangkanku.

Hari ini aku kembali bersedih, aku kembali ingin menangis dan aku tidak memiliki keberanian untuk menghubungimu untuk menceritakannya. Sebab aku masih ingat kata-katamu beberapa waktu lalu “bisakah sekali saja kau menemuiku tanpa hujan di matamu?” iya.. maaf aku selalu datang saat terluka, seolah kau adalah penyembuh dari seluruh luka yang ada padaku. Maafkan aku.

Aku masih mengingat saat kita duduk berhadapan di sebuah cafe di dekat kantorku (itu pertemuan yang pertama, sejak pertemuan terakhir beberapa tahun lalu), kau bilang aku kurus, sangat kurus dan kau tidak suka melihatnya. Kau ingin aku menaikkan berat badan, kau ingin aku berhenti menangis, kau ingin percakapan kita lebih banyak berisi tentang tawa dan kebahagiaan, banyak hal yang kau inginkan perihal aku yang lebih baik. Hari itu kau tidak memberiku pelukan, kau hanya mengatakan bahwa kau mengenaliku sebagai seseorang yang tidak akan pernah menyerah, meski aku cengeng.

Saat itu ketika kita sepakat untuk pulang, dan saat kau semakin jauh dari pandanganku aku kembai ke cafe itu. Aku duduk di tempat yang sama seperti saat kau ada, aku bercakap seolah kau masih ada dan aku terdiam lama di sana, memandang hujan di luar yang hanya dibatasi dinding kaca. Kau tahu aku berharap kau masih ada, nyatanya aku sudah sendiri. Aku menangis malam itu, menangis karena menyadari betapa aku tidak pernah bisa berkata jujur bahwa aku membutuhkanmu, menangis kerena nyatanya aku hanya bisa bercerita betapa aku bersedih tanpa mampu meneruskan bahwa aku ingin kau ada dan membuatku berhenti menangis. Aku selalu bercerita kepadamu bahwa aku jatuh cinta kepada seseorang, aku terluka karena seseorang dan tak sekalipun aku berani berkata perihal lain yang ada di hatiku. Aku hanya berani berkata, jangan mencari pasangan saat aku masih sendiri, sebab aku akan selalu butuh kamu saat hatiku patah kambali.

Banyak sekali hal yang ingin aku ceritakan padamu, yang tak pernah akan selesai aku tuliskan dalam surat ini. Maukah kau menemuiku kembali? tapi maaf, kali ini aku masih membawa banyak air mata.

Jakarta 15 Feb 2016

#30HariMenulisSuratCinta hari ke-16

Iklan