Kita Pada Suatu Masa


Senja ini, aku becakap dengan pikiranku sendiri membicarakan tentang kita kelak disuatu masa

Aku membayangkan tentang sebuah rumah dengan sebuah perpustakaan kecil di dalamnya, menyimpan buku-buku kesukaan kita. Dimana karya Chairil, WS Rendra, Sapardi, Putu Wijaya, Pramoedya Ananta Toer, Seno Gumira Ajidarma, Kahlil Gibran, Andrei Aksana, Joko Pinurbo dan lainnya akan memenuhi setiap rak-raknya. Kelak setiap akhir pekan kita akan menghabiskan waktu berdua saja, tenggelam dalam buku yang kita baca dan kita semakin dipeluk erat oleh cinta.

Kelak kita akan melewati malam-malam yang dipenuhi tawa saat kau menyanyikan lagu-lagu kita dan aku menyiapkan secangkir kopi hangat di meja. Lalu kita tenggelam pada suatu masa yang paling menghangatkan dada.

Aku membayangkan di suatu hari yang hujan, ketika tubuhku telah renta dan tak lagi mampu menari di bawah rinaninya, kau mengajakku duduk di beranda menikmati secangkir coklat hangat berdua. lalu kau bercerita perihal hujan, dan bagaimana berbahagia dengannya tanpa harus kebasahan. Kita akan mengenang kembali masa-masa saat tubuhmu memeluk erat tubuhku yang menggigil kedinginan dan kita hanyut dalam ciuman-ciuman.

Bersamamu aku akan selalu menuliskan puisi setiap hari, malam setelah kau tidur. Aku kan mengganti wallpaper laptopmu dengan puisi, agar saat kau bekerja dan membuka laptop; kau akan mengingat aku sebagai seseorang yang teramat mencintaimu, seseorang yang begitu ingin melihat kau selalu berbahagia.

Aku ingin memiliki rumah yang akan selalu kita rindukan, karena dipenuhi cinta dan tawa anak-anak di dalammnya. Agar saat kita jauh, kita tidak akan pernah berpikir untuk menjauh. Yang kita pikirkan adalah pulang, pulang pada cinta, pulang pada pelukan yang nyaman, pulang pada kedamaian yang tidak akan pernah kita temukan kecuali di rumah kita.

Kau tahu, bahwa hanya dengan membayangkanya saja aku telah cukup merasa bahagia. Aku telah cukup merasa memilikimu dalam seluruhku.

————————–
Aku terlalu menyakini bahwa kau bisa membaca segala rasa di dalam hatiku menyakini bahwa apa yang menjadi keinginanku dan keinginanmu adalah sama. Namun kini tiba-tiba aku merasa begitu takut, aku takut kehilangan sesuatu yang tidak pernah aku miliki, sesuatu yang begitu jauh namun telah melemahkanku.

Kau begitu tinggi, tanganku tak sanggup menggapai, langkahku tak sanggup mengimbangi. Aku hanyalah seseorang yang rapuh, aku begitu takut jatuh. Maaf bila akhirnya aku memilih berdiam, dan mendekapmu hanya dalam ingatan. Aku memilih untuk menjauh,  karena aku bukanlah pejuang yang tangguh.

Terima kasih telah membuatku merasa begitu bahagia dengan membayangkan hari tua yang kita lewati bersama.

 

Jakarta 24 Februari 2016
#30HariMenulisSuratCinta hari ke-25

Dariku; yang terlalu takut jatuh

Note: Terima kasih sudah menjadi seorang yang mau bertukar puisi denganku, memberiku tawa meski tidak untuk selamanya.

Iklan