Kau Pada Sebuah Nama


Hirup pikuk kendaraan
hujan yang terus menderas dalam ingatan
kau; lampu jalan yang dipadamkan
Gedung menjulang tinggi
angin  berhembus dingin
aku; batu kecil–telempar dari dadamu.

Seluruhnya gulita
Pada keriuhan jalanan ini
aku melepas ingatan tentang bahagia
Segalamu adalah sebuah kehilangan;
Bagi tanganku yang belum pernah menggenggam.

Aku tertawa
sebatas kepura-puraan
yang hendak menyelamatkan bahagia.

Jakarta, 28 Feb 2016

#30HariMenulisSuratCinta hari ke-30

Iklan