Apa Kau Masih Ingat?


Beer ower black

Sebaiknya berhenti berjanji meski yakin kau sanggup menepati

Sebab janji serupa akar yang menancap kuat dalam ingatan 
meski pohonnya berkali kau tebang

“Kan kubahagiakan kau dengan seluruh dayaku”
Adalah akar yang kau tinggalkan pada nafasku yang kian tersenggal

Seorang yang tak takut mati, tak lantas kuat menghadapi teguk demi teguk air
saat  gelas-gelas lebih banyak berisi wajahmu dibanding cairan memabukkan itu.
Apakah ini nikmat ; ketika malaikat seolah hendak menjatuhkan kematian lebih cepat namun takdir lebih senang menuliskan sakit yang lain saat aku sekarat?

Apakah janji harus ditepati?
Apakah mati tak lebih baik dari menanti?
Atau cabut saja seluruh akar
hingga tak lagi butuh bunga yang mekar

 

_________
Jakarta, 28 Maret 2016

Iklan

Melupakanmu


 

 

Adalah menghisap dan menghembuskan asap rokok hingga habis lalu diam, adalah menenggak bergelas-gelas beer hingga tuntas dan kembali diam.

Adalah mengulang semuanya berkali-kali hingga jatuh hari dimana dosa tak ada lagi dan kesedihan hanyalah sebuah nama yang terlupakan dari catatan Tuhan.

Apa yang lebih buruk dari warna hitam di dalam paru yang terus menerus tumbuh namamu. Atau suara batuk dan dahak yang tak kunjung keluar dari tubuh seperti roh yang ingin pergi dari jasadnya yang belum mati.

Adakah yang ingin kau ambil dari waktu?
Atau Kau merasa tak pernah meninggalkan apa-apa? lalu melupakan hanya keharusan bagi ingatanku?
Kau berharap hidup seperti drama yang akan terus berganti peran dan kisah cerita, melupa bahwa akan selalu ada waktu bagi pemeran mengenang pun memainkan drama yang sama.

Mengapa hanya pergi?
tanpa membawa segala nyeri dan menghapus jejak dalam kepala
atau, kau masih berharap esok akan pulang kembali?

_______
Jakarta 28 Maret 2016

Surat dari Brume


12 Maret 2016
Susi,

Seperti segala yang mula memiliki akhir, yang datang pun memang telah ditakdirkan untuk pergi, cepat atau lambat. Begitu pula usia yang berlari dari kejaran waktu juga tanggal dari kalender tahun-tahun berikutnya yang siap dan tak sempat menangkap kau sekali lagi.

“Kau tahu,” kata Ra, “kupikir, jika usiamu seperti uang, maka pengalaman-pengalaman itu adalah hasil belanjaan yang setiap perempuan akan bawa pulang kembali ke rumah-rumahnya. Kauolah, lalu hidangkan bagi keluarga kecilmu di sana. Kau harus memiliki pasokan yang mumpuni, karena kau hanya bisa berbelanja satu kali. Tak ada yang bisa ditukar kembali, tak ada hari esok lagi.”

Tidak ada yang sungguh-sungguh bisa dirayakan pada hari ulang tahun jika seseorang tidak tahu perihal yang mesti ia syukuri. Penyesalan adalah cara waktu menyidir ketidakberdayaan manusia terhadapnya. Jika ada yang patut dirayakan, itu adalah jumlah kesalahan-kesalahan yang tidak kungkung dalam sesal berkepanjangan.

Selamat ulang tahun, Susi. Ingat saja, setiap detik berikutnya adalah pecahan-pecahan kado dari Tuhan. Jika itu tidak cukup membuatmu mengerti arti ulang tahun, aku tidak tahu apa yang lebih baik. Kebahagiaan kudoakan untukmu beserta apa pun yang mampu dirangkul kedua lenganmu. Terima kasih telah menjadikan aku teman.

Salam pena,

Brume

P.S: Sungguh minta maaf atas keterlambatan ini.
P.P.S: Jangan terlalu percaya dengan apa-apa yang aku tuliskan. Aku lebih buruk dari yang kau bayangkan.

____________________________

Brume, terima kasih sudah menyempatkan diri menulis untukku. Ah, setidaknya meskipun sekali aku bisa merasakan menjadi “Ra” yang membaca surat yang kau tuliskan untukku 🙂

“Selamat ulang tahun, Susi. Ingat saja, setiap detik berikutnya adalah pecahan-pecahan kado dari Tuhan. Jika itu tidak cukup membuatmu mengerti arti ulang tahun, aku tidak tahu apa yang lebih baik.” kau benar Brume, segala hal sesungguhnya adalah hadiah Tuhan, hanya saja seringkali aku merasa sudah tiba saatnya membuka hadiah tersebut dan kemudian bersedih ketika isinya tidak sesuai yang aku ingini. Aku lupa bahwa semua hanya pecahan yang masih harus terus aku susun dari waktu ke waktu dari tawa pun air mata, hingga kelak di hari akhir aku membukanya tanpa ada penyesalan.
Kau benar, penyesalan adalah cara waktu menyindir ketidakberdayaan manusia. Aku berharap disetiap waktu yang aku lewati nanti, akan semakin jarang kujumpai penyesalan-penyesalan.

Sekali lagi terima kasih sudah bersedia menulis dan berteman denganku yang rewel ini.
Kau tahu, aku selalu suka menyelami kata-katamu dan memilih tenggelam demi untuk membacanya lagi dan lagi.

Salam,

Kamu Buku yang Kubaca


Aku suka membayangkan kamu adalah sebuah buku
Setiap kali membacamu selalu kudapati hal baru, selalu ada tanda tanya dalam dadaku.

Aku suka membayangkan kamu adalah sebuah buku
Aku harus meluangkan waktu untuk bisa memahamimu, aku harus belajar berpikir tentang apa yang tertulis pada tiap halamanmu

Aku suka membayangkan kamu adalah sebuah buku yang tak pernah selesai aku baca meski dengan seluruh usia;
Sebab selalu ingin kupahami kamu sebagai rahasia yang ditulis Tuhan pada lembar-lembar takdirku.
Sebab kamulah buku yang diseluruh halamannya tak pernah kutemukan huruf-huruf yang merangkai namaku.

 

10 Maret 2016
#MaretMenulis Hari ke-10

Dan ijinkan aku terus membacamu, meski tak pernah ada kisah yang menuliskan tentang aku.

Ini Kali Pertama


Ini kali pertama kau tak menjadi orang pertama yang mengucap selamat
Menjadi seorang yang tidak bertanya
tentang apa yang kuharap.

Ini kali pertama kau melupa tentang aku
Setelah bertahun-tahun ada untukku
Meski sering kali, aku melupakanmu.

Ini kali pertama aku merasa kehilangan
merasa merindukan, merasa memiliki saat kau menjauh pergi
Lelahkah menjadi payung?
Lelahkah menunggu hujan reda?

Semoga kau hanya melupa, bukan lupa
Sebab, aku masih selalu ingin menjadi seorang yang kau jaga, meski hanya di dalam doa.

-dalam ingatanku, kau akan selalu menjadi payung yang tak akan pernah ku lipat-

_________________________
09 Maret 2016
Aku yang merasa ganjil saat kau berbeda
#MaretMenulis Hari ke-9

Selamat Ulang Tahun – 2


Dilarik larik puisi, namamulah yang paling pagi, beriring dengan matahari, hangat menyelusup jiwa sepi.

Dalam senyap malam, kuinginkan hadirmu; agar tak gundah aku, biar tak sepi hariku.

Bila mencintaimu itu salah, mengapa rasa ini ada, kenapa cinta tercipta, bukankah ia tak mengenal beda? dan kamu, penghuni isi benakku; pemberi rindu dipikiranku, ada senantiasa dijenjang hariku.

Mencintaimu itu terlalu, tanpa banyak berkatapun, aku kelu.

08 Maret 2016
Sebuah Puisi dari @PelukisLara
Terima kasih sudah menyempatkan diri menulis untukku 🙂