Jadilah Rumah, Bukan Payung


Aku  ingin menjadi payung bagi seluruh kesedihanmu.

Apalah artinya payung jika tidak pernah ada hujan. Sebaik baiknya menjaga bukanlah menjadi payung saat hujan, namun mencegah hujan turun dimanapun.

Payung tak pernah mencari arti. Dan payung tak pernah berdoa agar turun hujan.

Jika kelak aku kehujanan, kau akan datang membawa payung, atau membawa pelukan? sebagai apapun kau, hadirmu adalah selalu yang kuharapkan untuk  meredakan hujan.

Aku selalu siap menemanimu. Saat kau menangis tersedu atau saat aku harus melucu untuk memancing tawamu.

Jangan berjanji untuk selalu ada, sebab ketiadaanmu akan menambah luka yang ada. Cukup bagiku menjadi seseorang yang kau sebut di dalam doa, yang kau sebut sepenuh jiwa agar selalu dijaga olehNya

Itulah kenapa aku tetap menjadi ada didalam ketiadaan, agar ada atau tiadaku tak menjadi beban bagi langkahmu. Saat payungmu ingin menjadi rumahmu, apakah kau akan mencari payung lainya saat kehujanan?

Lalu mengapa kau tak menjadi rumah? Rumah bagiku yang menginginkan tinggal di dalammu.

Satu-satunya titik temu adalah kita akan berpelukan bersama dibawah hujan, kemudian membangun berdua rumah harapan.

Jadilah rumahku, rumah bagi seluruh suka dukaku.

 

Jakarta 05 Maret 2016-

Tweet Perckapan Malam oleh  A.T. Prasetiya  dan Susi

Iklan

Satu respons untuk “Jadilah Rumah, Bukan Payung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s