Kepada Lelaki Kopi


Dear Lelaki Kopi,

Sejauh apapun jarak kita saat ini, kau pernah menjadi seseorang yang aku harapkan untuk bisa melangkah beriringan kemanapun aku pergi.

Sedingin apapun sikap yang kau tunjukkan sekarang, kau pernah menjadi penghangat bagi hari-hariku hanya dengan mengingat senyummu.

Dalam surat ini, aku tak ingin meminta kau kembali. Tak juga meminta kau untuk mau menerimaku, atau bertanya perihal mengapa kau memilih menghindar. Bukan itu.

Aku hanya seseorang yang tak suka berhutang, aku tak ingin dihantui perasaan-perasaan atas segala hal yang pernah aku janjikan namun tak kuselesaikan.

1. Ada tiga pack kopi pesananmu yang masih ku simpan hingga sekarang, sebab aku tak lagi tahu bagaimana cara membuatnya sampai pada tanganmu. Ambilah, aku tak ingin tiap kali membuka laci, aku merasa berhutang padamu.

2. Ada tiga puluh puisi yang telah aku sesesaikan beberapa bulan yang lalu, bila memang seluruh rencana kita harus usai, maka katakan. Biar aku bisa menempuh jalan sendirian.

3. Ada buku-buku yang masih kau simpan, aku ingin kau mengembalikannya. Bukan karena aku pelit, bukan. Aku hanya tak ingin memiliki alasan untuk mencarimu ketika rindu itu tiba.

Aku ingin semua selesai tanpa tanda tanya, aku ingin tak lagi memiliki alasan untuk mencari pun menunggumu.

Maaf sudah membuatmu merasa terganggu dengan perasaan-perasaanku.

Terima kasih sudah memilih pergi, sebab pada akhirnya aku tahu, aku harus kembali pada seseorang yang telah menungguku tanpa kata tetapi. Pada seseorang yang menjadi payung bagi perempuan hujan yang selalu merasa sendiri ini.

Semoga kau berbahagia.

Salam,

Iklan

Memesan Takdir


“Apa kau tak suka kopi?” Tanyamu sore itu ketika untuk kesekian kalinya aku lebih memilih memesan lemon tea saat menemanimu di kedai kopi.

“Suka” jawabku sembari tersenyum dan memainkan sendok kecil dalam gelasku.

Kau menatapku dan menyalakan rokok untuk ke lima kalinya meski belum genap satu jam kita duduk di kedai ini. Kau hisap dan hembuskan perlahan seolah seluruh penat lepas mengabur bersama asap.

“Mau rokok?” tanyamu sembari menyodorkan bungkus rokokmu ke arahku.

Aku menggeleng dan masih tetap tersenyum, tanganku masih terus mengaduk-aduk lemon tea yang sebenarnya sama sekali tak butuh diaduk. Namun seperti yang telah terjadi pada siapapun juga, bahwa perasaan grogi sering kali membuat kita tampak begitu aneh dan mencari-cari kesibukan yang tak penting.

Kau meletakkan rokokmu yang tinggal setengah ke dalam asbak.

“Maaf aku tak bisa berhenti merokok” ucapmu.

“Tak apa”

“Aku bukan seseorang yang baik, aku tak pandai membahagiakan semua orang, aku tak pernah punya banyak waktu untuk bisa memperhatikan segala hal” kau mulai berbicara serius, kau duduk menyadar pada kursi kesukaanmu — kursi kayu warna coklat pudar yang terletak di bagian pojok kedai, di samping jendela.

Kursi itu adalah satu-satunya kursi yang motif dan bentuknya beda dari puluhan kursi lainnya yang ada di kedai ini. Entah mengapa sang pemilik kedai masih menggunakan kursi itu meski keberadaannya sangat kontras dengan kursi lainnya yang bentuknya rapi dan warnanya masih mengkilat.

Kedai ini tak pernah penuh, paling sering hanyalah separuh. Dan sejak pertama kali kau mengajakku kemari, belum pernah kulihat ada seseorang yang duduk di kursi yang kau sukai itu.

“Aku….” kau berhenti berkata dan matamu mendadak berkaca-kaca.

Aku paling benci melihat lelaki menangis, meskipun itu kau. Aku benci ketika harus menatap kesedihan seorang lelaki yang seharusnya memeluk hangat kesedihan.

Separuh rokok telah habis dihisap sepi, kita masih saling diam dan menunduk, sunyi. namun kepala kita begitu ramai, melampaui keramaian masjid saat idul fitri.

“Kau sudah makan?” tanyamu mencoba memecah keheningan.

Aku menggeleng.

“Pesanlah makanan, dan kita makan dulu”

Aku menggeleng lagi. Mana mungkin aku bisa makan.

Beberapa detik kemudian handphonemu berdering. Kau menjauh untuk menerima telepon. Raut mukamu tampak serius dan kuperhatikan kau sesekali menghembus nafas panjang. Aku hanya diam memandangimu dan juga gerak tubuhmu yang solah menjelaskan sesuatu kepada seseorang di sebrang. Hampir sepuluh menit kau baru kembali duduk di hadapanku.

“Maaf, aku harus pergi sekarang. Besok sore kita bertemu kembali di sini” ucapmu sembari mengambil rokok di meja.

Aku mengangguk, tapi tak beranjak dari kedai ini, aku memandangi punggungmu yang semakin samar–oleh air mataku.

***

Lagi iseng posting draft tulisan beberapa bulan lalu. 

Kalo ga ada yang suka, nanti aku delete aja. Kalo ada yang suka nanti aku posting kelanjutannya.

Gak papa ya sesekali posting cerpen 😁

Langit Bulan September


 

: Zinan E Nararya

Pada keinginan-keinginan yang tinggi
namun harapan telah jauh

Juga doa-doa tanpa jeda
tapi tak memiliki rasa percaya

Untuk waktu yang sementara
dan kehilangan-kehilangan yang menyapa

Juga rasa sakit yang tinggal 
dan enggan tanggal

Kau, tiba.
Menyalakan segala
Menyembuahkan semua

Kini pada hari-hari yang panjang ini;
kehadiranmu
memperpendek usia
kesedihan

—————-

Selamat ulang tahun, Zinan
tetaplah menjadi langit penuh cahaya yang menjatuhkan bahagia.

11 September 2016

Selamat Ulang Tahun, Brume


Dear Brume,

Aku tak tahu bagaimana cara menuliskan seluruh harapan dalam kata-kata yang paling singkat dan sederhana. Sebab bila Tuhan hanya mengijinkanku mengucap satu harapan, aku ingin semua itu telah cukup merangkulmu dalam kebahagiaan.

Hari ini kau telah dipeluk begitu banyak ucapan dan doa-doa, begitu banyak harapan-harapan yang dititipkan pada tangan Tuhan.
Doa-doa adalah kado paling istimewa, tak perlu dibungkus dan diberi pita, tak bisa kau lihat dan kau raba, namun selalu melindungimu dari segala yang ingin menjatuhkan air mata.

Selamat ulang tahun, Brume, biar seluruh doa menjelma lengan lengan kebahagiaan yang siap memelukmu sepanjang usia waktu.

16 Maret 2016,
Salam,
Susi

Potret Bulan September


Bagi suatu hari yang kelak;
Hari ini dan kemarin adalah sebuah potret
yang dipasang berjajar pada ingatan seseorang.

Kau akan menyimpan banyak potret
dalam ruang-ruang yang menolak lupa
Tentang diri sendiri, juga mereka
yang kau beri tanda kehadirannya.

Setiap senja, kau akan memilih gambar
yang akan kau bingkai dengan doa
Meski sering kali sebuah potret
memaksa diri terpajang rapi di sana, tanpa kau ingini.

Selamat bulan september,
selamat menciptakan kembali potret terbaik
bagi semua yang mendoakanmu sepenuh hati.

____________

Tulisan ini buat seorang Perempuan baik yang sedang berbahagia. 
Selamat ulang tahun Kak Ama Achmad.

Jakarta, 03 September 2016

Tentang Jendela yang Terbuka


Aku sering melihat lelaki di balik jendela itu menulis, di ke jauhan aku membacanya sebagai kesedihan. Kepalanya lebih sering menunduk dan sesekali menatap kosong ke luar jendela. Setiap malam seusai menulis ia akan menyulut 2 batang rokok, selalu dua batang, tidak lebih. Lalu ia akan mematikan lampu kamarnya dan membiarkan jendelanya tetap terbuka.

Aku seperti melihat sebuah fragmen yang berulang, Seorang lelaki duduk, menulis, menatap nanar ke luar, lalu menyulut kesedihan. Aku sering kali menerka apa yang ia tulis, aku memandangi siluet tubuhnya dan mulai membacanya satu per satu.

Di ruang ini mulut-mulut menjadi bisu
kata-kata tak menemukan pintu ke luar
Jarum jam seperti roda kereta
tak pernah mau menunggu barang satu putaran saja

Langit selalu gerimis
dan tak ada payung yang bersedia mengantar tubuhku
ke dalam jangkauan lenganmu

Ketika hujan reda
segalanya sudah tak lagi ada.

Aku sering menunggunya muncul di jendela, meski beberapa kali ia tak ada di sana, namun jendelanya selalu saja terbuka. Ketika ia mulai duduk, aku mulai memutar sebuah lagu sendu, kuputar berulang-ulang hingga nanti ia memadamkan lampu dan siluet tubuhnya tak nampak lagi di mataku.

Ia lelaki yang tak menyukai kopi, mungkin. Sebab di mejanya tak pernah nampak gelas atau cangkir-cangkir. Hanya ada sebuah buku dan asbak.

Aku suka memandangi kegelisahannya, caranya menyalakan nyeri dan menghembuskanya. Aku suka ketika jemarinya mengacak-acak rambutnya dan kemudian bersandar di kursi teramat lama. Aku suka membaca kemurungannya.

Aku mencoret angka pada kelender 
memberi tanda silang pada ketiadaan

Di sini segalanya hidup dan mampu bercerita
jam dinding,
meja,
kursi,
kalender,
hingga jendela;
segala yang aku miliki

Kecuali aku;
sebab apalah arti raga
saat ia bukan milik siapa-siapa.

Lelaki itu mungkin sedang menunggu; seorang wanita yang tak pernah ada pada halaman takdirnya.

_____

Jakarta, 02 Sep 2016