Memesan Takdir


“Apa kau tak suka kopi?” Tanyamu sore itu ketika untuk kesekian kalinya aku lebih memilih memesan lemon tea saat menemanimu di kedai kopi.

“Suka” jawabku sembari tersenyum dan memainkan sendok kecil dalam gelasku.

Kau menatapku dan menyalakan rokok untuk ke lima kalinya meski belum genap satu jam kita duduk di kedai ini. Kau hisap dan hembuskan perlahan seolah seluruh penat lepas mengabur bersama asap.

“Mau rokok?” tanyamu sembari menyodorkan bungkus rokokmu ke arahku.

Aku menggeleng dan masih tetap tersenyum, tanganku masih terus mengaduk-aduk lemon tea yang sebenarnya sama sekali tak butuh diaduk. Namun seperti yang telah terjadi pada siapapun juga, bahwa perasaan grogi sering kali membuat kita tampak begitu aneh dan mencari-cari kesibukan yang tak penting.

Kau meletakkan rokokmu yang tinggal setengah ke dalam asbak.

“Maaf aku tak bisa berhenti merokok” ucapmu.

“Tak apa”

“Aku bukan seseorang yang baik, aku tak pandai membahagiakan semua orang, aku tak pernah punya banyak waktu untuk bisa memperhatikan segala hal” kau mulai berbicara serius, kau duduk menyadar pada kursi kesukaanmu — kursi kayu warna coklat pudar yang terletak di bagian pojok kedai, di samping jendela.

Kursi itu adalah satu-satunya kursi yang motif dan bentuknya beda dari puluhan kursi lainnya yang ada di kedai ini. Entah mengapa sang pemilik kedai masih menggunakan kursi itu meski keberadaannya sangat kontras dengan kursi lainnya yang bentuknya rapi dan warnanya masih mengkilat.

Kedai ini tak pernah penuh, paling sering hanyalah separuh. Dan sejak pertama kali kau mengajakku kemari, belum pernah kulihat ada seseorang yang duduk di kursi yang kau sukai itu.

“Aku….” kau berhenti berkata dan matamu mendadak berkaca-kaca.

Aku paling benci melihat lelaki menangis, meskipun itu kau. Aku benci ketika harus menatap kesedihan seorang lelaki yang seharusnya memeluk hangat kesedihan.

Separuh rokok telah habis dihisap sepi, kita masih saling diam dan menunduk, sunyi. namun kepala kita begitu ramai, melampaui keramaian masjid saat idul fitri.

“Kau sudah makan?” tanyamu mencoba memecah keheningan.

Aku menggeleng.

“Pesanlah makanan, dan kita makan dulu”

Aku menggeleng lagi. Mana mungkin aku bisa makan.

Beberapa detik kemudian handphonemu berdering. Kau menjauh untuk menerima telepon. Raut mukamu tampak serius dan kuperhatikan kau sesekali menghembus nafas panjang. Aku hanya diam memandangimu dan juga gerak tubuhmu yang solah menjelaskan sesuatu kepada seseorang di sebrang. Hampir sepuluh menit kau baru kembali duduk di hadapanku.

“Maaf, aku harus pergi sekarang. Besok sore kita bertemu kembali di sini” ucapmu sembari mengambil rokok di meja.

Aku mengangguk, tapi tak beranjak dari kedai ini, aku memandangi punggungmu yang semakin samar–oleh air mataku.

***

Lagi iseng posting draft tulisan beberapa bulan lalu. 

Kalo ga ada yang suka, nanti aku delete aja. Kalo ada yang suka nanti aku posting kelanjutannya.

Gak papa ya sesekali posting cerpen ūüėĀ

Langit Bulan September


 

: Zinan E Nararya

Pada keinginan-keinginan yang tinggi
namun harapan telah jauh

Juga doa-doa tanpa jeda
tapi tak memiliki rasa percaya

Untuk waktu yang sementara
dan kehilangan-kehilangan yang menyapa

Juga rasa sakit yang tinggal 
dan enggan tanggal

Kau, tiba.
Menyalakan segala
Menyembuahkan semua

Kini pada hari-hari yang panjang ini;
kehadiranmu
memperpendek usia
kesedihan

—————-

Selamat ulang tahun, Zinan
tetaplah menjadi langit penuh cahaya yang menjatuhkan bahagia.

11 September 2016