Meja 16


Sengaja aku datang setengah jam lebih awal dari janji petang ini, agar aku punya waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri menyambutmu. Sudut kedai kopi yang sedikit muram, bangku kayu, dingin, dan deguban di dada yang menyimpan banyak harapan serta kerinduan.
Serombongan orang entah dari mana ramai bicara bla bla bla pada setiap meja, tapi aku tetap merasa sendiri, hening, tak ada apapun yang aku lakukan selain membayangkan yang akan terjadi 30 menit lagi.

Sepuluh menit berlalu. Sambil menunggu seorang yang telah lebih dari dua tahun tinggal di negeri empat musim, kubuka ponsel. Senyumku mengembang disambut sebuah foto, tak baru sudah tiga tahun lalu, tapi aku menyukainya. Sangat. Dan entah karena apa aku tak tahu, tak ada alasan. Ia tertawa lebar di sana, matanya sedikit menyipit tertarik oleh bibirnya yang tengah tertawa. Dan aku bahagia melihatnya.

Pendingin ruangan kerja begitu keras, di luar hujan turun dengan deras, kurapatkan jaket dan kuteguk kopi panas dari cangkir merah, sejenak hangat mengalir. Tapi masih ada dingin yang menjalar di dadaku. Ah kenapa kacau sekali.

Kulihat jam, masih lima menit lagi. Dari pintu depan pandanganku tertuju pada seorang laki-laki berjaket hitam. Matanya setajam elang, pandangannya terasa lebih dingin dari pendingin ruangan kedai ini. Ia begitu mirip seseorang. Sangat mirip.

Ia duduk di meja depanku, sambil meletakkan rangselnya ia menatapku, beberapa detik. Seperti ingin tersenyum, lantas memalingkan muka dan menyibukkan diri dengan laptopnya.

Meja 16. Secangkir kopi, beberapa potong kue cokelat kacang. Sepasang tangan sibuk dengan laptop, dan tiba-tiba teringat seseorang lalu membayangkan ia memelukku dari belakang seraya berkata, “Paru-paruku tak terlalu sehat bila tak melihatmu tiap hari, maaf sudah membuatmu menunggu.”

Aku tertawa, ah bayangan macam apa ini. Aku menyalakan rokok pertamaku dan meliriknya yang ternyata juga sedang melakukan hal yang sama. Oh Tuhan, dia sedang memandangku dan sungguh matanya indah sekali. Sekali lagi dia mengingatkan aku pada seseorang.

Tiba-tiba saja dadaku berdegub kencang dan mukaku memerah. Aku menundukkan wajah dan tanganku menghampiri cangkir merah yang masih berisi setengah.
Ponsel bernyanyi, Love to be loved by you – Marc terency mengalun indah, memecah hayalan dan kegugupanku barusan. Sebuah nama mengirim pesan :

Kiara, maafkan aku, tiba-tiba ada yang harus ku selesaikan, tak bisa menemuimu sekarang. Tapi jangan pulang dulu, ada teman yang akan mengantarkan sesuatu untukmu

Kuletakan ponsel itu perlahan, tiga puluh menit menunggu untuk sesuatu yang tidak pernah datang. Iya harusnya aku tahu bahwa Laut memang tidak akan pernah menemuiku, sama seperti kepergiannya 2 tahun lalu, ia hanya menitipkan sebuah surat untukku melalui sahabatnya.

“jangan menungguku, aku tidak tahu kapan akan kembali, dan apakah aku masih akan mengingat jalan pulang. Temukanlah seseorang yang bisa membuatmu bahagia dan lupa caranya bersedih” tulisnya pada selembar kertas yang sedang kubaca ulang sekarang.

Aku pikir hari ini dia pulang, dia menemukanku kembali, dia merindukan aku. Tapi aku salah, selalu salah, aku tak pernah bisa memahami jalan pikirannya, aku selalu berharap dia memiliki rasa kasihan kepadaku. Aku salah.

Tanganku masih mengenggam kertas yang Laut berikan dua tahun lalu dan perlahan air mataku menetes. Tanpa aku sadari, mataku bersitatap dengan lelaki di meja 16 tadi saat aku menghapus air mata dan mengalihkan pandangan ke pintu. Dia menatapku dan tersenyum.

Lima puluh menit berlalu sudah dua cangkir kopi kupesan, beberapa puntung rokok tergeletak di asbak, aku mulai bisa meredakan suasana hatiku, aku mulai bisa mengatur napas dan sesak di dada. Hujan di luar masih deras, suara Duta Modjo memenuhi kedai ini: selamat tidur kekasih gelapku, sephia…

Aku mematikan ponsel, aku tidak ingin lagi membaca pesan dari Laut. Tiga pesan yang kuabaikan dan 2 missedcall.

Aku ingin bahagia, bisikku ke pada diri sendiri.

Lelaki di meja 16 itu mengemasi barang-barangnya lalu kemudian melangkah mendekat ke arahku. Iya dia menghampiriku.

“Kiara?” ucapnya perlahan saat sudah berdiri tepat di hadapanku.

“Ya” jawabku dengan canggung dan bingung. Siapa kah lelaki ini?

—-

“Matamu, masih seindah 2 tahun lalu. Aku menyukainya, dan sayangnya dua kali pula aku harus menyaksikannya dialiri kesedihan” ucapnya sembari tertawa.

“Simpan saja apa yang kau bawa, bawalah pulang padanya. Sekarang, maukah kau menemaniku bermain hujan?”

Kami tertawa bersama.

30 November 2016

Ditulis bersama Dien Matina @DienMatina

Aku Bisa Pergi: Darimu


Setiap kali berkemas, aku selalu berharap bahwa ada separuh kenangan yang tidak muat dalam kepalaku. Tertinggal tanpa perlu kucari kembali. Lalu aku berharap bahwa yang hilang adalah segala tentangmu, juga kesedihan-kesedihan yang mahir merawat air mataku. Tetapi, aku memang tidak pernah pintar memilah-milah dan kepalaku masih terlalu luas untuk menampung seluruh tentangmu.

Setiap malam aku bermain dengan ingatan. Memilih satu demi satu untuk kutuliskan. Aku tahu ini menyakitkan, tapi aku tidak bisa berhenti.

Seringkali aku menyadari ada sesuatu yang salah. Bahwa aku masih menyukai menyeduh kopi untukmu meski tidak pernah ada yang meminumnya. Bahwa aku masih seringkali memutar lagu kesukaan kita, lalu perlahan meneteskan air mata. Aku masih sering mengirim pesan dan menanyakan apakah kau baik-baik saja, meski aku tahu nomor yang kusimpan sudah tidak lagi kau gunakan. Aku tahu ini salah. Aku tidak bisa berhenti. Tidak tahu caranya berhenti. atau mungkin, aku memang tidak ingin berhenti: menyakiti diriku sendiri.

Setiap kali bercermin, aku bertanya pasa seseorang bermata sayu di hadapanku. Apa yang salah? Apa yang membuatmu pergi? Apa yang membuatku terus bertahan untuk tidak melupakanmu. Dan perempuan dalam cermin itu selalu diam, ia tidak memiliki jawaban. matanya seperti sebuah spion, hanya bisa melihat kebelakang. ia lupa cara berjalan, ia lupa cara melangkah, ia jauh tertinggal dari dirimu sekarang.

Suatu pagi, aku menemukan diriku seperti sebuah mayat, yang tidak lagi memiliki apa-apa. Aku berdiri di jendela lalu menatap hampa ke luar, aku melihat dengan jelas bagaimana dulu kita pernah berjalan berdua, kita tertawa bersama. Lalu, kepergianmu hari itu melintas kembali di sana, masih kuingat segalanya dengan detail, bahwa tidak sekalipun dirimu menoleh kembali padaku yang menahan isak tangis di pintu. bahwa tidak sekalipun kamu memperlambat langkah untuk akhirnya mengasihani dan kembali lagi padaku.

Ini salah. aku harus berhenti. ya, hari ini. saat ini. aku ingin kau tahu bahwa aku telah berhenti untuk mengharapkanmu. Aku telah berhenti untuk melukai diriku sendiri. dan aku berharap bahwa di hari ini kau ada, melihatku pergi dengan mengamas apa saja yang aku miliki, kecuali kamu. Aku ingin kau melihatku melangkah dengan begitu yakinnya memunggungimu. Kelak, suatu malam, ketika aku rindu menuliskan sebuah kisah dalam ingatan, kamu tak akan pernah lagi menjadi pemeran.

Jakarta, 18 Okt 16

Payung di Bulan Oktober


: Andi Tri P

Hujan, Payung dan percakapan-percakapan malam yang panjang–di sanalah kita dipertemukan.

     Pada suatu hari yang lalu
     engkau adalah payung terbuka
     dalam genggaman seseorang yang luka
     kau menghalangi rinai hujan
     jatuh menyentuh hatinya

     Pada suatu hari yang mendung
     engkau adalah payung terbuka
     menyimpan sebuah pengharapan
     agar hujan tak pernah turun.

     Pada hari kini
     kau rumah dengan jendela terbuka
     setiap hujan turun kau berdoa
     agar ia tak digigilkan cuaca

     Di dalam rumah
     kau menyimpan payung yang kau lipat
     sesekali kau ingat; ia pernah basah
     oleh yang kau sebut cinta.


Selamat ulang tahun Mas, biarkan hujan turun, sebab ia harus belajar berteduh tanpamu.
Berbahagialah selalu sepanjang usia. Untukmu selalu kupintakan bahagia dan segala apa yang tak mampu diselesaikan kata-kata di sajak ini, biar kuselesaikan dalam doa.

04 Oktober 2016