(Bukan) Hal-Hal Bodoh yang Pernah Aku Lakukan


Setalah bercakap dengan seorang teman siang tadi, entah mengapa saya merasa resah dan perlu menuliskan ini. Aku seperti pernah mengalami dan menjadi “dia” yang sedang ia ceritakan.

Bukan untuk siapapun, tetapi untuk mengingat diri sendiri.

Pagi tadi ada seseorang yang menghubungiku, dari nomor yang tak ku kenal. Dia diam 15 detik lalu memutuskan teleponnya. 

Aku penasaran dan menelponnya, ia mengangkat sekitar 5 detik dengan diamnya.

Melalui beberapa pesan yang aku kirim, akhirnya dia menjawab siapa dia.

Dia, mantanku yang sebentar lagi akan menikah.

Lalu

Aku tak lagi membalas pesannya dan 15 menit kemudian satu pesan darinya masuk lagi. Tidak aku baca, langsung kuhapus begitu saja

Kau tahu berapa lama dia bertaruh dengan dirinya sendiri untuk berani menghubungimu?

Kau tahu seberapa dia berharap mendapat balasan sebuah pesan yang bahkan tak pernah kau baca. Dia menunggu, dia menunggu itu atas keberanian yang sudah ia pertaruhkan sekian lama.

Sebab aku pernah demikian, aku menghubungi seseorang di masa lalu hanya untuk meminta maaf atas kesalahan yang aku lakukan bertahun-tahun lalu. Aku memberanikan diri melakukannya karena aku ingin berdamai dengan diri sendiri dan juga dengannya. Aku ingin dia memaafkan aku.

Aku menghubunginya lewat inbox di sebuah laman sosial (satu-satunya kontak yang aku miliki untuk sampai padanya) dan dia mengabaikan pesanku. Mengabaikan pertaruhanku bertahun-tahun hanya untuk minta maaf padanya.

Dia tidak memaafkan, mungkin. Atau diam dan menghilang adalah caranya memaafkanku? Entahlah.

Kadang beberapa hal juga serumit itu. Rindu misalnya.

Ah.. Rindu kadang memang tidak sederhana, dan kita seringkali tak memiliki banyak keberanian untuk mengatakannya.

Aku sering demikian, memaksa diri sendiri untuk diam karena tak berani untuk mengatakan meski hanya sekedar “hai, apa kabar?” sapaan yang sangat sederhana tetapi menjadi begitu berat ketika harus dikirimkan pada seseorang yang sedang kita cintai diam-diam, seseorang yang kita cintai di masa lalu, seseorang yang sudah tidak lagi menginginkan diri kita ada dalam kehidupannya atau seseorang yang masih menyimpan amarah pada diri kita. Mengirim kalimat sederhana itu sungguh tidak mudah.

Aku bahkan sering hanya melihat kontak WAnya dan melihat status “online” tanpa berani menyapa, tapi bagiku itu cukup. Aku sudah cukup tahu bahwa dia masih beraktifitas, dan semoga dia baik-baik saja.

Aku juga sering stalking laman sosmed miliknya (yang hampir sangat jarang sekali dia posting apapun) lalu ketika melihat ada postingan darinya aku menghela napas panjang dan bersyukur bahwa dia masih baik-baik saja.

Atau aku sudah menulis begitu banyak hal dan penjelasan tetapi semua hanya menjadi draft yang tak pernah sampai kepadanya.

Dan aku pernah mencoba menelponnya dari nomor baru hanya untuk mendengar suaranya. Dan meski menelpon dari nomor yang tidak akan dia tahu bahwa itu adalah dirikupun aku perlu memberanikan diri dan menyiapkan mental berbulan-bulan. Entah mengapa menjadi demikian rumitnya.

Sebodoh itu? Ya.. Kadang seseorang menyadari bahwa dia telah berbuat hal bodoh namun tidak berhenti melakukannya.

Iklan