Memaafkan


Kita hidup tidak luput dari berbuat salah, pun orang lain yang ada disekitar kita.

Suatu waktu pasti kita pernah merasa tersakiti, disakiti, atau apapun yang membuat kita kecewa.

suatu waktu pasti pernah merasa diperlakukan tidak adil, hingga rasanya ingin teriak “apa salahku? kenapa harus aku?” Sedih, sakit, semua jadi satu.

Menyalahkan Tuhan, menyalahkan orang lain, dan seringkali menyalahkan diri sendiri. Seakan hidup ini adalah serangkaian konspirasi dunia yang membuat kita terpuruk dan jatuh.

Setiap kita pasti pernah berada pada titik di mana kita merasa menjadi orang paling menyedihkan di dunia, lalu mencari-cari alasan untuk tidak memaafkan orang yang secara sengaja maupun tidak sudah membuat kita jatuh.

Setiap kali berada di posisi tersebut, saya selalu membisikkan kalimat ini ke diri sendiri “aku dilahirkan bukan untuk menjadi pembenci dan pendendam” orang lain mungkin bisa menjatuhkan kita berulang kali, tetapi hanya diri sendirilah yang bisa menentukan apakah akan bangkit lagi atau tetap terpuruk dan jatuh.

Cintailah dan sayangilah diri sendiri dengan tidak menyimpan benci kepada orang lain.
____________

Grobogan, 300617

tulisan ini saya tulis setelah pada akhirnya saya bisa menaklukkan diri sendiri dengan memaafkan dia yang membuat saya jatuh sejauh jatuhnya.
sebab,kita semua berhak mendapatkan rasa damai dalam hati.
btw, kamu, sudah memaafkan mantan?

Iklan

Apa Kau Pernah


Apa kau tahu rasanya menjadi lilin yang dipadamkan saat lampu padam?
Atau menjadi lagu yang tak pernah dinyanyikan?
Atau menjadi ranting yang dipatahkan pada pohon yang baru ingin tumbuh.

Apa kau tak bisa menjawab bagaimana rasanya menjadi mereka?

Kau tak akan tahu rasanya menjadi dia yang ingin tumbuh, kemudian kau patahkan.

Semua padam.
Selesai.

Atau tak merasa pernah mematahkan dan memadamkan?
_____

Jakarta 21 Juni 2016
setahun yang lalu

Rasanya sudah tidak sesakit pada saat saya menuliskan ini setahun yang lalu.
Sudah tidak sengilu pada saat saya membaca kata demi kata yang dia tuliskan dulu
sudah tidak semenyesakkan saat menyadari bahwa semua terpaksa selesai begitu saja.

sekarang saya menulis ini dengan tersenyum, sebab sampai hari ini saya tetap baik-baik saja tanpanya.

saya menulis ini kembali hanya agar dia mengingat, bahwa dia pernah melukai saya sedemikiannya.

saya berharap, hari-harinya yang sekarang jauh lebih membahagiakan dibanding saat ada saya.

Berbahagialah, kau, aku; sebab kita semua pantas untuk barbahagia dengan pilihan masing-masing.

Yang (tak) Pernah Kau Cintai



Aku pernah sengaja menghilang agar kau temukan sekali lagi, tetapi kau tidak pernah mencari.

Aku pernah sengaja diam agar kau bertanya perihal kabarku, tetapi ternyata kau tidak peduli

Aku pernah sengaja pergi agar kau memintaku pulang menemani, tetapi kau tidak pernah merasa kesepian.

Aku tidak tahu cinta seperti apa yang kau miliki, kasih yang bagaimana yang kau punyai; katamu aku satu-satunya yang kau ingini, tetapi tak pernah kau perjuangkan sama sekali.

Aku tidak tahu perasaan rindu seperti apa yang kau alami, sesak yang bagaimana yang kau lawan, katamu aku satu-satunya yang kau mau, tetapi tak sekalipun kau pernah menahan kepergianku.

Cinta katamu;
Adalah ketika kita tak pernah berhenti saling mendoakan.
Adalah ketika kita tak pernah saling memberi kesedihan.

Cinta katamu;
adalah kita–dan tak perlu kata lainnya.

Tetapi kau tidak pernah secinta itu denganku;
kau hanya takut melukai dan perasaan-perasaanmu tak memiliki tempat kembali.

Jakarta, 13 Juni 17