Cara Mencintai dan Berbahagia dengan Diri Sendiri


20478705_1973849012889819_7217513500921298944_n

 

Dear Kamu,

 

Saat menulis surat ini aku sedang mendengarkan lagu The Rain yang berjudul #BermainDenganHatiku rasanya aku ingin tertawa saat mengingat banyak hal bodoh yang kuakukan atas nama –Karena, aku mencintainya– tidak, aku tidak akan menyebutnya pengorbanan, sebab aku sepakat dengan Sujiwo Tedjo jika “cinta tidak mengenal pengorbanan. Saat kau telah merasa berkorban maka itu artinya sudah tidak cinta”

Aku menulis surat ini untukmu sebab aku mengingatmu saat ini, Kau membuatku menyadari memulihkan rasa sakit untuk kemudian disakiti kembali adalah kebodohan yang terlalu, kau membuatku paham jika cinta itu tidak pernah menyakiti, yang membuat sakit ialah keinginan untuk memiliki.
Sebab kau membuatku mengerti bahwa yang kubutuhkan saat ini ialah sembuh dari rasa sakit dan bebas dari rasa ingin memiliki, dan aku merasa demikian saat bersamamu.

Bagiku, tak penting apakah kau mencintaiku, tak penting apakah kelak aku bisa memilikimu, tak penting juga seperti apakah akhir dari kisah kita; yang aku tahu aku cukup bahagia saat kau ada. Aku menjadi lebih sering tertawa saat mendengar kau bicara; aku merasa menemukan diriku yang telah lama hilang saat mencintai dia.

Terima kasih, sudah mengajariku cara mencintai dan berbahagia dengan diri sendiri.

Jakarta, 31 Juli 2017

Dariku yang mudah bahagia hanya sebab mendengar kau tertawa.

ditulis untuk #NyincingDaster dalam tema #7HariMenulisSuratCinta hari ke-4

Iklan

​​Kepada yang Pernah Ada dan (mungkin) Masih Ada


Screenshot_20170725-000240_1

 

Kupikir cara paling mudah untuk melupakan ialah dengan berlari, menciptakan jarak sejauh-jauhnya hingga tubuh merasa lelah untuk sekedar mengingatmu kembali. Mungkin di jalan-jalan yang aku lewati akan Kutemukan banyak perihal yang membuatku tertawa, lalu lupa pada kesedihan yang menjadi alasanku pergi; tetapi aku lupa bahwa segala tentangmu bertempat di ingatan yang selalu kubawa kemana-mana.

Kupikir cara paling mudah untuk memaafkan ialah dengan mengabaikan salahmu, menganggap semua tidak pernah terjadi lalu menyakinkan diri sendiri bahwa semua baik-baik saja. Mungkin luka-luka yang berbaris rapi di dada bisa tiba-tiba saja hilang seperti ketika kita meletakkan dompet di jalan raya; tetapi aku lupa bahwa cinta ialah tentang rasa sakit yang menolak disembuhkan.

Perpisahan hanyalah perkara waktu, bila mungkin tiada hal-hal di dunia yang bisa memberi alasan satu dari kita pergi lebih dulu, maka usia yang akan memutusnya. Tetapi yang terjadi di antara kita ialah kau pergi dengan sebab sederhana; sudah tidak lagi ada cinta.

Tidak ada yang sepenuhnya salah ataupun seluruhnya benar dihadapan perpisahan, kita adalah terdakwa yang  menyusun pembelaan untuk diri sendiri demi terhindar dari hukum penyesalan berkepanjangan. Maka maafkan, bila sikapku pada akhirnya membuat kau memutuskan untuk meninggalkan kita.

Katamu cinta itu adalah perihal doa-doa yang tak luput diucapkan meski raga tak cukup dekat untuk bisa didekap dengan kedua tangan. Maka yang bisa kulakukan sekarang ialah menyelipkan doa untukmu, agar kau tak lupa menjaga kebahagiaan.

Selamat malam, tuan. Semoga setelah selesai kau membaca surat ini, kau berkenan untuk tersenyum sembari mendoakan beberapa perihal baik untukku; agar mampu melupakanmu misalnya.

.

.

.

.

Jakarta 27 Juli 2017
Dariku yang tak pernah mampu menahan diri sedetik saja untuk tidak segera membalas chat darimu.

ditulis untuk #7hariMenulisSuratCinta #NyincingDasterClub

Saling


Apakah dicintai itu lebih membahagiakan dari mencintai?
Apakah ditinggalkan itu lebih menyakitkan dari meninggalkan?
Apakah diberi itu lebih menyanangkan dair memberi?

Pertanyaan-pertanyaan  yang setiap orang pasti memiliki jawaban yang berbeda dengan alasan masing-masing.
Betapa aku merindukan kata “saling” di dalamnya.

Sebab kita akan berhenti mempertanyakan “mana yang lebih” ketika saling mencintai, kita akan sama-sama bahagia.
Saat saling meninggalkan, kita akan sama-sama terluka.
Juga saat saling memberi kita tidak akan pernah merasa kehilangan.

Maka, selalu di dalam doaku, aku memohon semoga Tuhan menakdirkan kita sebagai sepasang yang saling menemukan, agar kita sama-sama berjuang untuk saling mempertahankan.

08 Juli 17

Jatuh dan Cinta


Setiap kita mungkin memiliki seseorang yang kita cintai, tapi dia tidak balas mencintai.

Memiliki seorang yang selalu kita rindukan namun ia tak sekalipun pernah balas merindukan.

Memiliki seorang yang kita doakan sepanjang waktu, tapi tak sekalipun ia tahu.

Mungkin itulah yang membuat hidup menjadi penuh warna

Sebab hati menjadi berdetak lebih cepat hanya karena membaca chat darinya

Sebab badan bisa tiba-tiba berkeringat hebat sebab sedang duduk berdekatan dengannya

Sebab Tuhan bisa tiba-tiba menjadi baik sebab telah menghadirkan dia di dunia.

Mungkin itulah yang membuat kita menyadari;

Cinta itu tak selalu tentang memberi dan menerima; namun ada yang memberi tanpa berharap balasan apa-apa.

Cinta itu bukan tentang menjaga dan dijaga; sebab ada yang rela menjaga meski ia harus terluka.

Cinta itu bukan tentang aku dan dia; sebab mungkin hanya aku yang jatuh cinta.

Beruntunglah mereka yang bisa mencintai tanpa memiliki, lebih beruntung lagi yang bisa saling mencintai, dan paling beruntung ialah yang bisa saling mencintai dan memiliki.

dan kasihanilah mereka yang saling memiliki, namun tak pernah ada cinta di antaranya.
___
Tuhan tolong jaga dia untukku, sebab dia telah menjadi bagian dari jatuh cinta diam-diam dan bertepuk sebelah tangan yang menyenangkan.

Kepada yang Meninggalkan “Kita” Lebih Dulu


Saat surat ini sampai padamu, mungkin matahari sedang beranjak pergi dan kau tengah duduk di beranda sembari menyeruput kopi. Sedang segala tentangku tinggal ingatan yang samar di kepala, seperti udara selepas hujan; tenang, dingin, namun cukup membuatmu menggigil saat tak mengenakan sweater.

Atau mungkin kau tengah terjebak kemacetan ibu kota dengan lagu-lagu di radio yang tak kau tahu siapa penyanyinya. Sedang segala tentangku seperti sebuah lirik hilang pada sebuah lagu yang kau hafal benar nada dan penyanyinya; tak penting, tapi cukup menyita pikiranmu beberapa saat lalu membuat kau mengepalkan tangan dan memukul setir mobilmu sembari berkata “bangsat..”

Atau mungkin kau tengah menonton stand up comedy tapi kau tak bisa tertawa dengan materi yang di suguhkan pesertanya. Sedang aku seperti lelucon garing yang kau tak sukai tapi selalu kau ingat susunan ceritanya lalu kau akan berteriak “gak lucu!!” namun sembari menahan tawa.

Sedang apapun kau sekarang, surat ini akan menjadi pintu yang memisahkanmu dari dunia saat ini, membawamu kembali ke masa ada aku yang tertawa-tawa saat memandang senyummu, ada mataku yang berseri-seri tiap kali menatap wajahmu, ada aku yang mengenggam erat tanganmu saat ketakutan, juga aku yang menangis saat kau tinggalkan.

Tak perlu merasa bersalah sebab meninggalkan “kita” lebih dulu, aku tidak berusaha mempertahankan apapun selepas ketiadaanmu, sebab “kita” hanya akan ada saat kau bersamaku.

Tak perlu merasa telah menyakiti aku sebab membuatku menangis hari itu, aku hanya tidak tahu bagaimana mengatakan cinta saat kau tiba-tiba tiada.

Tak perlu merasa menyesal sebab telah berusaha melupakanku lebih dulu.

Terima kasih; telah menjadi yang pertama pergi dan melupakan kita; kehilanganmu membuatku ditemukan dan menemukan bahagia.

Jakarta, 26 Juli 2017

ditulis untuk #7hariMenulisSuratCinta hari ke-1

Today Is Your Day


: Chispa Illona

Kau ialah rasa syukur yang sangat, bagian yang paling dekat dan melekat dalam diriku
Kau ialah bahagia yang tak perlu kata-kata, bagian dari tawa yang mekar di bibirku
Kau ialah anugerah yang indah, bagian terbaik untukku menjalani hidup

Terima kasih;
Sebab tidak mengeluh menjalani hidup yang tak sempurna bersamaku
Sebab tidak menuntut kemewahan yang jauh dari diriku
Sebab menerimaku sebagai ibu yang kau cintai, meski teramat banyak kurangku.

Berbahagialah Nak,
Bahagiamu ialah perihal terbaik yang selalu ingin aku lihat sepanjang hidupku.
Perihal paling mewah yang ingin selalu kumiliki di sisa usiaku.

Aku mencintaimu, selalu mencintaimu, hari ini, esok, dan hingga tiada lagi aku bisa mengenali waktu, aku akan tetap mencintaimu.

Terima kasih karena bersedia untuk dilahirkan dari rahim seorang aku.

21 Juli 2017
Sepenuh Cinta,
Mama

Maaf bila masih banyak perihal sulit yang harus kita lewati bersama, semoga hari ini dan seterusnya kita akan lebih berbahagia lagi.