Dear A


​Dear A,

Ini surat kedua yang menyebutkan inisial namamu, yang pertama aku tulis hampir 2 tahun yang lalu. Meski sebenarnya ada begitu banyak surat yang pernah kutulis untukmu, tapi hanya dua surat ini yang menuliskan inisial namamu.

Beberapa waktu lalu hingga kemarin aku dilambungkan harapan-harapan tentangmu, tentang kedekatan kita, tentang perasaanku yang mungkin tidak lagi bertepuk sebelah tangan, tentang memory-memory yang kita ciptakan dengan menambahkan kata “ini pertama kali” di depannya. Tentang begitu banyak hal yang membuatku merasa bahagia.

Aku memang tak pernah punya cukup keberanian untuk mengatakan “aku rindu”, juga untuk memulai chat basa-basi bila tak ada alasan. Maka bila dalam satu bulan aku tak menghubungimu, bukan sebab aku tak rindu atau aku sedang melupakanmu. Bukan. Sebab aku tak punya alasan yang masuk akal  yang bisa aku tuliskan setelah kata “hai”.

Beberapa hari lalu aku bercerita kepada seseorang tentang dirimu; agar kita tak hanya sekedar menjadi ‘dekat’. Aku belajar bagaimana cara berhenti bicara yang tidak serius denganmu, aku mencoba untuk melemahkan ego dan gengsiku, aku ingin bisa mengucapkan “hai” tanpa perlu mencari alasan setelahnya, aku ingin bisa mengatakan “aku kangen..” tanpa merasa malu, aku ingin bisa mengatakan “Aku menyukaimu” tanpa takut pada penolakan yang mungkin akan kau berikan. Ya, aku sedang belajar melakukan itu.

Tetapi hari ini, aku tahu, aku tak akan pernah melanjutkan semua itu, aku tak akan pernah bisa mengucap “hai”, “aku kangen”, dan “aku menyukaimu” tidak hari ini, tidak esok dan juga tidak di waktu yang akan datang.

Tidak akan pernah ada “kita” dalam percakapan-percakan yang lebih dari sekedar bercanda, tidak akan pernah ada segala yang sebelumnya aku yakini akan kita miliki dan lalui bersama.

Aku dipatahkan harapanku sendiri tentang “kita”, aku dijatuhkan mimpi-mimpiku sendiri, aku terlalu percaya diri dan kini harus menahan nyeri karenanya.

Dear A,

Tolong sampaikan salamku untuk perempuan yang sebentar lagi mendampingimu, perempuan beruntung itu. Sampaikan padanya untuk tak pernah membuatmu bersedih, sampaikan agar dia menjagamu dari segala hal yang ingin menjatuhkan air mata, katakan bahwa dia akan menjauhkanmu dari rasa sepi juga nyeri.

Tolong sampaikan padanya, bahwa bila ia tak sanggup, ada aku yang bersedia menggantikan tempatnya di sisimu.

Jakarta, 25 Agustus 2017

Note: Bila aku mampu menahan diri untuk tidak mengatakan tentang perasaanku padamu selama lebih dari 2 tahun, maka seharusnya aku tetap baik-baik saja untuk menjalani hari ini, esok, dan hari-hari setelahnya saat kau telah memiliki kekasih, bukan? 

Tolong katakan aku pasti bisa melewatinya dengan baik-baik saja.

Dear A, bersediakah kau menghubungiku dan mengatakan bahwa aku akan baik-baik saja?

Iklan