Bila Bukan Karenamu


Kamu tahukan sudah seberapa aku membuka diri dan bercerita perihal diriku padamu.

Seberapa sering aku mencemaskanmu dan mencari-cari alasan basi hanya agar bisa menghubungimu dan tahu kabarmu.

Seberapa payah aku menahan gengsi menghubungimu lebih dulu, melontarkan pertanyaan-pertanyaan apa saja agar kau bertahan bercakap denganku.

Kamu tahukan sudah seberapa lama aku memperhartikanmu dan juga mencari-cari perhatianmu.

Seberapa sering aku merindukanmu dan mencari-cari alasan agar sesering mungkin bisa bertemu denganmu.

Seberapa tidak menyakinkannya saat aku pura-pura baik-baik saja ketika kau bersisisan, tertawa, dan berjalan dengan seseorang lain. Aku tetap bertahan hanya agar selalu bisa melihatmu meski harus menahan nyeri.

Kamu tahukan alasan terbesarku bertahan dengan kesendirian, mengapa aku masih duduk di tempat yang sama dan melewatkan banyak kesempatan baik. Mengapa aku selalu berbagi kisah sedih dan bahagia denganmu, mengapa aku selalu peduli dengan apa pendapatmu.

Ketahuliah, bila bukan karenamu, aku tak akan sebodoh ini; dan kamu masih menganggap aku tidak berharap apa-apa padamu?

Jakarta, 27 Nov 17

CEMBURU


Aku cemburu
pada kesanggupanmu
melewati hari-hari tanpaku

aku cemburu
pada keberhasilanmu
melalui malam-malam sepi
tanpa mengenangku

aku cemburu
pada ketabahanmu
mendengarkan lagu-lagu sendu
tanpa merinduku

aku cemburu

pada caramu
: melupakan aku

sebab, bagaimana mungkin
kepergianku
pada akhirnya, hanya
melukai diriku sendiri

Jakarta, Okt 17
#Cemburu #kepergianku #caramelupakan #sajakpendek #poetry #menulis #selarikkata #melukai

Janji Ibu


kasih ibu, seluas-luasnya laut yang menampung suka dukamu- 

Beberapa hari lalu aku jalan dengan ibu, saat pulang melewati sebuah mini market yang sudah sepi dan bangunannya sudah nampak tua. Ibu bercerita padaku suatu hal yang membuat diriku terdiam sangat lama.

Masa kecilku bukanlah masa kecil yang bergelimang banyak mainan, yang bisa jajan apa saja, yang tiap minta sesuatu bisa langsung dituruti. Tidak. Keluargaku keluarga sederhana yang penuh cinta. Aku tak banyak ingat, tapi foto-foto masa kecilku menyimpan kejadian demi kajadian yang manis. Ibu tak punya banyak uang tapi dia sering sekali mengajakku ke studio foto untuk di foto. Katanya “masa kecilmu tak boleh hilang begitu saja” setiap hendak ke studio foto ibu selalu mendandaniku dengan cantik dan rapi. Baju paling bagus yang aku punya, sepatu, kaos kaki dengan bunga-bunga, dan lain sebagainya yang selalu berganti-ganti–ini membuatku memiliki masa kecil yang bahagia sekali. Juga setiap ada tukang foto keliling, ibu sering kali memanggilnya untuk memotretku. Ibu begitu banyak mengabadikan masa kecilku dalam lembaran-lembaran foto.

Waktu kecil aku termasuk anak yang cengeng dan manja, juga sedikit nakal. Kata ibu kalau aku minta sesuatu dan tidak dituruti aku akan demam atau menangis seharian di kolong tangga dekat dapur. Jadi ibu harus punya jurus untuk menanggapi permintaan-permintaanku yang belum bisa dipenuhinya. Biasanya dengan menjanjikan dan memberi jangka waktu atau menggantinya dengan sesuatu yang terjangkau olehnya dengan mengatakan bahwa sesuatu itu lebih baik dan bagus dari yang aku minta.

Seberapa nakal aku? Aku pernah jatuh dari lantai 2 rumah tetangga hingga kepalaku sobek dan harus dijahit sebanyak 14 jahitan. Dengan kondisi ibu tidak ada di rumah, aku dititipkan di tetangga bermain dengan anaknya dan jatuh.

Aku sering mencakar dan mencubit teman-temanku hingga aku sering dimusuhi, aku sering tak mau berbagi atau meminjamkan mainan ku kepada teman-teman tapi aku sering pinjam mainan mereka, dan banyak sifat egois lainnya di masa kecil–senakal itu dan ibu tetap menyanyangiku. Satu yang tak berubah dariku hingga sekarang; aku suka membaca–bahkan dari aku belum sekolah. Mungkin ini satu-satunya sikap baik yang aku miliki saat kecil, atau mungkin karena aku tak punya banyak teman jadi aku kecil lebih suka menghabiskan waktu dengan membaca.

Ibu jarang mangajakku jalan-jalan, karena memang tak memiliki uang lebih untuk itu. Suatu ketika, di tempat yang tidak jauh dari rumah (mungkin sekitar 2 KM) dibangun sebuah mini market yang ada permainannya (mobil-mobilan dan kuda-kudaan yang bisa muter-muter seperti di time zone kalau saat ini) tapi hanya ada 2 permainan itu saja. Itu merupakan mini market terbesar di lingkunganmu pada waktu itu.

Setiap malam minggu aku sering merenggek mengajak ibu ke sana. Suatu ketika ibu tak ada uang untuk mengajakku ke sana. Aku menangis, tapi ibu tak bisa berbuat apa-apa. Aku menangis semalaman.

“Kalau lewat sini aku jadi ingat sebuah janji”

“Janji apa?”

“aku janji mengajakmu ke toko ini untuk bermain mainan itu, waktu itu kamu masih kecil. Kamu nangis semalaman minta ke sini dan aku tak bisa memenuhi permintaanmu. Kamu nangis semalaman lalu aku janjikan kalau sudah punya uang akan mengajakmu ke sini. Tapi sampai sekarang aku belum memenuhi janjiku”

“Ma…”

“Iya.. Aku selalu ingat janji itu setiap lewat sini dan kapan itu mau mengajakmu kesini, tapi kamu selalu sibuk atau mengeluh kecapekan kalau hari libur”

“Ma..”

Aku lihat sekilas ibu mengusap air matanya. Ia merangkul pundakku yang duduk di sebelahnya lalu berkata “kalau minggu depan kita ke sini, kamu masih mau naik permainan itu?” tanya ibu yang sebenarnya penuh rasa bersalah sebab belum menepati janjinya. Janjinya 25 tahun yang lalu.

Its Hard For Me to Say …


Bila kau membaca ini, percayalah aku tidak sebaik yang pernah kau lihat, aku tidak turut bahagia ketika melihat kau bahagia, aku tidak tersenyum ketika melihat kau berjalan dengan seseorang lain, aku tidak baik-baik saja.

Saat menulis ini, aku tidak menyeduh teh seperti biasanya yang sedikit mampu meredakan gelisahku, tidak sedang mendengarkan lagu-lagu yang bisa membuat moodku membaik, atau sedang duduk di cafe untuk mengusir kesepian dalam diriku. Tidak.

Saat menulis ini, aku tidak membisikkan mantra “i’m fine” berulang kali demi untuk menyakinkan diriku bahwa aku bisa baik-baik saja, tidak juga menahan air mata seperti malam-malam lalu.

Saat menulis ini aku sedang begitu rindu, aku ingin menyapamu, memelukmu dan mengatakan bahwa aku tidak baik-baik saja tanpamu, bahwa aku lelah berpura-pura tidak mengharapkanmu, bahwa aku begitu ingin berada di sisimu, sebagai seseorang yang bisa berbagi keluh kesah dan cinta denganmu. Aku ingin.

Saat menulis ini, kubiarkan air mataku jatuh dengan deras, kubiarkan kesedihan menguasai diriku, sebab mengingatmu kali ini membuat dadaku penuh sesak, membuat tubuhku seolah hilang. Seperti dilempari banyak batu lalu dijatuhkan dari tempat paling tinggi. Sakit. Sangat sakit.

Aku tidak tahu sampai kapan aku sanggup untuk terus menyimpan semua ini, seperti menyalakan api dan membakar tubuhku sendiri. Namun tidak ada yang habis dan menjadi abu, ia terus menyala-nyala menyakitiku hari demi hari dan membuat hidupku terasa menyedihkan sekali.

Aku tidak tahu hingga kapan aku mampu bertahan untuk tetap diam, membiarkan kau menjelma pisau yang kubiarkan mengulituku pelan-pelan, hingga tak ada darah yang menetes, hingga tak ada luka yang kau sadari bahwa itu menyakitiku.

Aku tidak tahu sampai kapan, perasaan rindu bisa sebegini menakutkan.

Tidak, kesepian tidak bisa disembuhkan dengan keramaian. Sebab aku sering mencoba mendatangi tempat-tempat ramai untuk mengusir sepi, nyatanya aku semakin merasa asing dan kehilangan diriku sendiri.

Tidak, kesedihan tidak bisa disembuhkan dengan hal-hal lucu. Sebab saat aku menangis, komedi selucu apapun tidak akan bisa membuat aku tertawa lalu membuat kau seolah berhenti menyakitiku.

Tidak ada satu perasaan pun malam ini yang bisa disembuhkan kecuali dengan pelukanmu, tetapi sayangnya kau begitu jauh, kau begitu tak terengkuh. Dan aku semakin tenggelam dalam sakit yang panjang.

Begitu berat bagiku untuk mengatakan: bantu aku menyembuhkan kesakitan ini.

Jakarta, 02 Nov 17

Aku Tahu Jawabnya


 

Pesan itu sudah sampai di emailku sejak satu minggu yang lalu, tapi aku baru memiliki jawaban atas pertanyaannya yang sebenarnya sungguh sangat sederhana.

Aku menghela napas panjang berkali-kali sebelum akhirnya mengetik jawaban dan mengirimkan pesan itu kepada seseorang di seberang sana. Sebab aku tidak pernah ingin menasehati dan atau memberi jawaban bila aku sendiri belum dan atau tidak sanggup melakukannya.

Aku bukan konselor pernikahan, bukan pula konsultan, psikolog dan atau lainnya, aku hanyalah seseorang yang entah karena apa begitu sering mendapat curahan hati seseorang tentang pertanyaan-pertanyaan yang seringkali sudah pernah aku lalui.

Tidak pernah ada pengorbanan dalam cinta, sebab mencintai hanyalah perihal memberi, memberi, memberi dan memberi meski kau sudah tidak lagi memiliki apapun.

Cinta tidak pernah menyakiti pun membuat kau merasa sakit, maka bila kau merasa demikian, ada yang perlu kembali kau pertanyaan pada dirimu sendiri. “Apakah itu cinta?

Cinta ialah selalu perihal baik; memberi yang terbaik, melakukan yang terbaik. Bila dia yang kau cintai menduakanmu atau menjadikan kau yang kedua dan itu membuat kau merasa sakit, dan itu membuat kau merasa sedih, dan itu membuat kau bertanya-tanya apakah kau harus menunggu dan menerima lalu memaafkannya, maka jawabku “tidak pernah ada kebaikan dalam diri seseorang yang hatinya saja ia tidak tahu di mana akan di tempatkan—dan cinta ialah selalu tentang sejauh mana kau sanggup menerima.”

Salam,

Semoga kau mampu menjawab pertanyaanmu sendiri.

Aku membuka jendela dan membiarkan angin masuk memain-menerbangkan horden. Aku tahu ia tidak baik-baik saja. Kusulut rokok keempat sembari menulis sebuah pesan singkat.

Kini aku tahu bagaimana cara meredakan nyeri di dada ini.

***

Akhirnya emailku dibalasnya, sudah seminggu aku mengirimnya, aku pikir ia tidak akan pernah membalas pertanyaan yang terlampau sederhana ini. Aku membaca jawaban itu pelan-pelan dan meraba pipiku, tak ada hangat yang jatuh. Kubaca sekali lagi dan memastikan bahwa aku benar-benar tidak apa-apa.

Apakah cinta itu pengorbanan?
Apakah cinta itu menunggu?
Apakah cinta itu memaafkan?

Bila ia yang kau cintai, memiliki seseorang lain, selain kau.

Aku tahu ia baik-baik saja, ia tidak terluka, dan kini aku mengerti apa yang harus aku lakukan.

Aku tahu jawaban atas pertanyaan yang telah kubuat. Aku tahu bagaimana mengakhiri kebohongan yang selama ini kulakukan pada diri sendiri.

***

Secagkir kopi di meja, sebatang rokok di tangan kanannya, layar laptop dibiarkannya menyala tanpa ada satu kalimatpun yang dituliskannya.

“kau tak perlu memilih aku atau dia, sebab aku telah memilih untuk tidak lagi memilihmu” message received

Kau tak perlu memilih aku atau dia, sebab aku telah memilih untuk tidak lagi memilihmu.” message received 

Dua buah pesan masuk bersamaan di handphonnya, di waktu dan dengan kalimat yang sama; dari dua wanita yang dicintainya. Ia tersenyum kecut, memandang lagi layar handphonenya; berharap tidak ada pesan ketiga.



Nov 2017

Ditulis untuk #NyincingDasterClub Tema SELINGKUH