Its Hard For Me to Say …


Bila kau membaca ini, percayalah aku tidak sebaik yang pernah kau lihat, aku tidak turut bahagia ketika melihat kau bahagia, aku tidak tersenyum ketika melihat kau berjalan dengan seseorang lain, aku tidak baik-baik saja.

Saat menulis ini, aku tidak menyeduh teh seperti biasanya yang sedikit mampu meredakan gelisahku, tidak sedang mendengarkan lagu-lagu yang bisa membuat moodku membaik, atau sedang duduk di cafe untuk mengusir kesepian dalam diriku. Tidak.

Saat menulis ini, aku tidak membisikkan mantra “i’m fine” berulang kali demi untuk menyakinkan diriku bahwa aku bisa baik-baik saja, tidak juga menahan air mata seperti malam-malam lalu.

Saat menulis ini aku sedang begitu rindu, aku ingin menyapamu, memelukmu dan mengatakan bahwa aku tidak baik-baik saja tanpamu, bahwa aku lelah berpura-pura tidak mengharapkanmu, bahwa aku begitu ingin berada di sisimu, sebagai seseorang yang bisa berbagi keluh kesah dan cinta denganmu. Aku ingin.

Saat menulis ini, kubiarkan air mataku jatuh dengan deras, kubiarkan kesedihan menguasai diriku, sebab mengingatmu kali ini membuat dadaku penuh sesak, membuat tubuhku seolah hilang. Seperti dilempari banyak batu lalu dijatuhkan dari tempat paling tinggi. Sakit. Sangat sakit.

Aku tidak tahu sampai kapan aku sanggup untuk terus menyimpan semua ini, seperti menyalakan api dan membakar tubuhku sendiri. Namun tidak ada yang habis dan menjadi abu, ia terus menyala-nyala menyakitiku hari demi hari dan membuat hidupku terasa menyedihkan sekali.

Aku tidak tahu hingga kapan aku mampu bertahan untuk tetap diam, membiarkan kau menjelma pisau yang kubiarkan mengulituku pelan-pelan, hingga tak ada darah yang menetes, hingga tak ada luka yang kau sadari bahwa itu menyakitiku.

Aku tidak tahu sampai kapan, perasaan rindu bisa sebegini menakutkan.

Tidak, kesepian tidak bisa disembuhkan dengan keramaian. Sebab aku sering mencoba mendatangi tempat-tempat ramai untuk mengusir sepi, nyatanya aku semakin merasa asing dan kehilangan diriku sendiri.

Tidak, kesedihan tidak bisa disembuhkan dengan hal-hal lucu. Sebab saat aku menangis, komedi selucu apapun tidak akan bisa membuat aku tertawa lalu membuat kau seolah berhenti menyakitiku.

Tidak ada satu perasaan pun malam ini yang bisa disembuhkan kecuali dengan pelukanmu, tetapi sayangnya kau begitu jauh, kau begitu tak terengkuh. Dan aku semakin tenggelam dalam sakit yang panjang.

Begitu berat bagiku untuk mengatakan: bantu aku menyembuhkan kesakitan ini.

Jakarta, 02 Nov 17

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s