Tak Pernah Mampu


Setiap kali ada pesan darimu, aku ingin menahan diri untuk tak segera membaca dan membalasnya; melatih diri untuk menganggap kau bukan bagian penting yang aku tunggu.

Setiap kali tak ada kabar darimu aku ingin menahan diri untuk tak menyapa lebih dulu; Melatih diri untuk menganggap ketiadaanmu bukan masalah besar bagiku.

Bagimu, aku hanya pengisi bayang kosong di sisimu. Tak akan kau minta tinggal jika ingin pergi. Aku adalah pesan-pesan yang tak punya kesempatan untuk dibalas dengan euforia yang sama besarnya.

Bagimu, aku hanya pengisi sepi dalam ruang hatimu yang luas. Tak akan dapat tempat istimewa sebagai penghuni satu-satunya. Aku adalah perasaan yang tak cukup indah untuk kau dijadikan kenangan.

Aku pernah berharap kita menjadi satu-satunya yang saling melengkapi, ternyata hanya aku satu-satunya yang bermimpi.

Aku pernah berharap kita menjadi satu-satunya yang ingin kau pertahankan, tetapi ternyata hanya aku satu-satunya yang berjuang.

Aku ingin lari–sembari berharap semakin jauh langkah, maka semakin tertinggal pula rasa keingintahuan akanmu. Bukankah semuanya akan lebih mudah jika aku pergi ke tempat di mana mata kita tak pernah bisa lagi bertemu?

Aku ingin menikmati hari–yang tanpa kamu. Aku sudah tak lagi berharap akan ada sebait pesan singkat yang mampir di ponselku seterlambat apa pun itu. Bukankah kamu telah menganggap ‘kita’ sebagai kecelakaan tersedih yang pernah kau alami?
Tak apa, dalam hidup tidak semua cinta adalah kepunyaan. Jika dengan berjalan sendiri membuatmu bahagia, maka pergilah. Kelak, aku pasti mampu mengenangmu dengan biasa-biasa saja.

Tak apa, dalam hidup tidak semua akan terbalaskan. Seperti perasaan yang telah kujaga lama nyala hangatnya. Karena, siapalah aku bagi kau?
Aku hanya ingin punya kesempatan mengabaikanmu, hingga kau menyimpan tanya dalam dirimu yang tak berani kau sampaikan padaku “kamu kenapa?”

Aku hanya ingin punya kesempatan menghilang dari hidupmu, hingga kau menyimpan rindu yang tak berani kau katakan. Hingga kau diam-diam mencari tahu kabarku, memperhatikan seluruh gerak gerikku, hingga tak sengaja kau menulis namaku setiap kali merasa kesepian.
Tetapi selalu saja, “hai, apa kabar?” darimu menghapus segala usaha.

Seperti air mata yang tiba-tiba melunturkan tulisan-tulisan ini;
Seperti langkah kaki yang diam-diam selalu memilih kembali;
Seperti kebodohan, yang pada akhirnya kulakukan lagi—dan lagi.

Sebab, selalu hanya aku yang jatuh, mencinta, lalu terluka; karenamu. Namun selalu ingin mengulangnya berkali-kali.

 

November, 2017
Ditulis bersama:
Cindy Joviand : @cindyjoviand

 

Sejak Mengenalmu


Sejak mengenalmu;

Aku membanding-bandingkan dia denganmu, aku mencari-cari kesamaannya dalam dirimu.

Aku mengingat-ingat kebiasaan yang sering kali kau lakukan dulu, aku merindukan hal-hal sederhana yang membuat kita tertawa–hal yang tak pernah kutemukan dalam diri dia.

Semenjak mengenalmu, mencintai seseorang bagiku hanyalah upaya untuk bisa memerdekakan hati dari rasa sakit kehilanganmu.

Kehilanganmu, aku memang tidak pernah ingin. Sebab ternyata aku memang tidak pernah siap, ternyata aku tak pernah sanggup.

Tetapi tak apa, bagaimanapun aku mensyukuri pernah sedekat itu denganmu. Setidaknya Tuhan pernah mengenalkanku pada bahagia; meski sementara.

Tak apa Tuan, begini saja sudah cukup. Aku bisa terus mencintaimu meski kau tak pernah menyadiri.

Sudah cukup, selama kau tak membenciku.

Aku hanya ingin mencintaimu saja. Sebab, semakin aku berusaha mencintai seseorang; semakin aku yakin, kau tak tergantikan.

 

____________

Note: kapan aku boleh menemanimu ngopi? Aku rindu.

Sudah Terbiasa


Aku sudah terbiasa untuk tidak bertanya kabarmu, namun tetap diam-diam memperhatikan update-an status di semua media sosial yang kau miliki.

Aku sudah terbiasa untuk tidak menunggu ucapan “selamat tidur” darimu, namun aku tetap saja merapal doa untuk kau sesaat sebelum tidurku.

Aku sudah terbiasa untuk tidak mengatakan “aku kangen” meski aku sangat rindu dan ingin bertemu, namun aku tetap saja masih membuka chat lama dengan kau dan senyum-senyum sendiri membacanya.

Aku sudah terbiasa untuk tersenyum tanpa ada kau di antaranya, tanpa menunggu kau melucu, namun aku masih selalu menyimpan ingatan saat kita berdua tertawa dengan begitu lepasnya.

Aku sudah terbiasa melakukan banyak hal tanpa melibatkanmu, sebab kini aku menyadari bahwa jarak yang kau bangun untukku telah semakin panjang, pagar yang kau ciptakan telah semakin tinggi, melawannya hanya akan membuatku kelelahan, memperjuangkannya hanya akan menemui kekalahan. Maka aku memilih diam–dan tetap menunggu kau berubah pikiran.

Aku sudah terbiasa untuk tidak mengganggu hari-harimu, namun tetap saja aku tak pernah bisa mengabaikan semua hal tentangmu.

Aku masih mencari tahu apa yang kau lakukan sehari-hari, dengan siapa saja kau pergi dan menghabiskan waktu tanpaku, hal-hal apa yang membuatmu tertawa dan bahagia juga kesedihan-kesedihan apa saja yang datang menghampiri.

Aku masih begitu peduli pada semua hal tentang kau; yang meski kau jalani tanpa aku.

Aku baik-baik saja tanpamu, aku tidak apa-apa saat kau tak ada, aku hanya teman yang tidak kau harapkan untuk menjadi lebih, aku tidak berhak untuk melibatkan diri dalam hidupmu, aku bukan perihal penting untukmu.

Namun betapa masih sangat menyakitkan saat menyadari bahwa ternyata selepas dan sekencang apapun aku tertawa, selama bukan denganmu, itu bukanlah kebahagiaan.

Semenyenangkan apapun hidup yang kulalui, bila tanpamu, itu bukanlah hidup yang menghidupkan.

 

Jakarta, 19 November 2017