​Sajak Terima Kasih


:Raff

Banyak doa kau panjatkan
tak semua dikabulkan
Banyak pinta kau ucapkan
tak semua jadi kenyataan
: banyak perihal
tak untuk kau miliki

Langkah telah jauh
tak bisa diukur dengan selain ingatan
jalan semakin panjang
dan tak menyediakan arah kembali
: banyak hal yang tercipta
tak untuk diperbaiki

Memejamlah,
sebentar. Seperti
selayaknya bercengkarama
dengan Tuhan
mulailah menghitung;
yang membuatmu bahagia
tanpa perlu mencari
yang kau miliki
tanpa harus meminta

Tubuh itu rumah,
berkah bisa datang dari
arah pun celah mana saja
Tetapi seringkali;
Kau hanya duduk di depan
menunggu pintu diketuk

Hidup itu baik,
Kesedihan hanyalah tamu
yang tak seharusnya mematahkanmu

Selamat ulang tahun,
Semoga segala yang kau lalui
memberi kekuatan
untuk menghadapi hari depan.
Dan karenanya, tak perlu
mencari cara untuk lupa:
berterima kasih.

13 Jan 2018

Iklan

Pilihan


​Diabaikan orang lain sebab kamu (dianggap) punya kekurangan itu sakit, tapi diabaikan sebab dirasa mampu melakukan semua hal tanpa bantuan, itu lebih menyesakkan.

Aku seolah lupa bagaimana sulitnya memilih, bagaimana dihadapkan pada dua hal yang membuat kepalaku ingin pecah sebab tidak tahu harus memilih dan menentukan mana yang lebih baik.

Beberapa tahun ini aku terbiasa menjalani tanpa lagi mempertanyakan. Terbiasa menerima tanpa tahu bagaimana rasanya memilih.

Hidup itu pilihan, tapi terkadang kau tidak punya kesempatan.

Jika boleh memilih, mungkin aku lebih memilih untuk tidak menjadi single parent diusia 26 tahun, memilih untuk bertahan dengan pernikahan dan berpura-pura semua baik baik saja, hingga orang-orang tidak memandang rendah setiap kali aku berbicara “im single parent” hingga tidak pernah kudengar orang tua yang mengatakan “menikahlah dengan siapa saja asal dia masih gadis” kau tahu rasanya dibandingkan hanya dari statusmu saja? Tanpa melihat perihal lainnya? 

Jika boleh memilih, mungkin aku lebih memilih untuk bertahan dengan pernikahan dan tersenyum palsu setiap kali anak-anak bertanya “mama bahagia?”  setidaknya aku tidak akan memiliki perasaan bersalah sebab memisahkan anak-anak dari ayahnya, setidaknya anak-anak akan tetap merasa bangga sebab memiliki orang tua yang utuh dan (nampak) baik-baik saja.

Jika boleh memilih, mungkin aku memilih untuk menjadi perempuan cengeng yang tidak malu ketika harus mengakui bahwa aku patah, aku rapuh, aku hancur, dihadapan keluargaku, setidaknya mereka tidak menganggap aku baik-baik saja dan akan memberikan pelukannya saat aku menangis. Ahh damn, bahkan saat ini aku rindu dengan sebuah pelukan dan ucapan “kamu akan baik-baik saja”.

Jika boleh memilih, mungkin aku akan memilih menjadi orang yang tidak pernah peduli dengan apa yang dikatakan orang lain. Setidaknya aku tidak akan merasakan sakit setiap kali mendengar kasak-kusuk teman-teman membicarakanku di belakang. Tidak akan pernah merasakan sakit hati ketika aku dibenci tanpa tahu apa kesalahanku.

Jika boleh memilih, mungkin aku akan memilih menjadi orang yang bergantung terus pada apapun, tidak berjuang sendirian, tidak membesarkan anak-anak sendirian, tidak menghadapi sindiran-sindiran sendirian, tidak menangis sendirian. Lebih dari itu, aku ingin merasa bahwa aku tidak hidup sendirian.

Tetapi sayangnya lagi-lagi aku gagal memilih banyak hal tersebut. 

Aku lebih ingin menjalani hidup tanpa pura-pura, ingin melihat anak-anak tumbuh tampa pertengkaran-pertengkaran orang tuanya, ingin melihat kedua orang tuaku tersenyum sebab tahu anaknya baik-baik saja, ingin menjadi orang yang tetap peduli meski tidak pernah dipedulikan, ingin menjadi ibu yang mandiri meski aku tahu itu tidak mudah.

Hidup menyediakan bayak sekali pilihan, dan sayangnya di hidupku, pilihannya terlalu mudah. Menjalaninya lah yang sulit dan berat.

Jangan menangis, aku baik-baik saja saat menulis ini, aku baik-baik saja. 

Tetapi aku bohong.
Jakarta, 04 Jan 18