Pertemuan Tanpa Percakapan


Mataku, matamu beradu tatap, tapi tak satupun dari kita yang menyapa. Kita berdua segera mengalihkan pandang masing-masing seolah ada yang salah dengan apa yang kita lihat (kau boleh meralatnya jika mungkin hanya aku yang merasa demikian dan kau tidak). Aku melangkah menjauh darimu, kuharap kau masih memperhatikan punggungku yang berlalu (meski mungkin tidak pun tak apa) aku tak kan pernah tahu yang sebenarnya bukan?

Aku tahu, bukan hal yang mudah untuk nampak biasa saja saat kau ada, sebab seolah telah secara naluriah aku akan mencari-cari perhatian agar kau melihatku, agar kau memperhatikanku, agar kau mengalihkan pandang kepadaku. Tapi kali ini aku hanya mematung, seperti seorang yang tak mengenalimu. Mungkin aku sedang berusaha menepati janji pada diriku sendiri untuk bisa berhenti mengharapkanmu.

Menatapmu di kejauhan, mengamati gerak gerikmu dan diam-diam melihat kau tertawa, ternyata masih sangat menyenangkan.

Seharusnya ada banyak percakapan yang bisa kita bicarakan, juga pertanyaan-pertanyaan yang bisa kuajukan–yang tak akan cukup untuk kau jawab meski seharian. Tetapi tak satu katapun kuucap.

Setidaknya ada satu “hai” atau “apa kabar?” basa-basi yang mungkin bisa membuat kita mengawali percakapan lainnya, atau berhenti di sana dengan jawaban “aku baik-baik saja” dari masing-masing kita.

Nyatanya tak ada apapun yang terjadi kecuali dua pasang mata yang saling mengingkari setiap kali bertemu tatap.

Kupikir setelah sekian waktu tidak ada “kita” aku akan baik-baik saja saat melihatmu kembali, nyatanya aku salah.

Karena ternyata pertemuan yang meskipun tanpa percakapan, sanggup membuat hariku begitu berantakan.

Jakarta, 14 Januari 2018