Pernah


Aku pernah menjadi yang kau cemaskan; kau selalu ingin tahu aku ada di mana dan apa yang aku lakukan. Lebih dari itu kau seringkali memastikan bahwa hariku berjalan baik-baik saja.

Aku pernah menjadi yang kau prioritaskan; saat ada banyak pilihan untukmu menghabiskan waktu, dan kau memilih menemaniku. Meski bersamaku kita hanya melakukan hal-hal bodoh atau hanya bercerita tentang apa saja yang kulakukan saat tanpamu.

Aku pernah menjadi yang kau Rindukan; saat jarak tidak mudah dikalahkan, saat waktu tak berpihak pada pertemuan, saat kesibukan menjadi penghalang, kau mati-matian mengalahkan semuanya hanya untuk kembali menatap mataku juga memeluk tubuhku.

Aku pernah menjadi yang selalu kau cari; tak peduli berapa banyak teman yang kau miliki, berapa orang yang siap menjadi tempatmu berbagi, kau hanya ingin aku menjadi orang pertama yang mendengarkan kabar suka dukamu.

Aku pernah menjadi yang ingin selalu kau bahagiakan; di antara kesibukan yang kau lakukan, di tengah kesulitan yang kau alami, di dalam tawa dan duka, semua menjadi bagian dari inginmu untuk membuatku bahagia.

Aku pernah menjadi yang pertama kau ingat saat membuka mata juga yang terakhir kali kau pikirkan sebelum terlelap. Akulah yang memenuhi ingatanmu sepanjang hari.

Aku pernah menjadi pinta yang paling sering kau ucap di dalam doa, juga segala perihal baik yang kau mohonkan pada Tuhan.

Aku pernah menjadi apa saja yang penting bagimu; menjadi alasanmu tersenyum, alasanmu menangis, alasanmu berjuang, alasanmu bangkit, alasanmu bangun pagi-pagi, dan berbagai alasan lainnya yang membuat hidupmu menjadi lebih baik.

Aku pernah–hanya pernah.

Aku benci menjadi yang “pernah“–menjadi bagian dari masa lalu yang kini tak kau inginkan lagi.

 

Jakarta, 09 Agustus 2017

Apa kau juga pernah menjadi yang “pernah” ?

Iklan