Karena Kita Pernah Bahagia


𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐊𝐢𝐭𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐁𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚

Kita pernah merencanakan banyak hal bersama, tentang bagaimanna kelak menghabiskan hari tua.

Kau dan aku pernah membuat list tentang film apa yang akan kita tonton di akhir pekan, juga cerita-cerita yang mungkin kita kisahkan di antara dua cangkir teh yang tersaji di meja dan hujan turun rintik-rintik saat kita duduk di beranda.

Kau dan aku pernah merencanakan di mana kelak anak-anak akan bersekolah dan menebak-nebak jurusan apa yang kelak akan mereka ambil, juga tentang betapa groginya kita saat kelak seseorang mengetuk pintu dan meminta ijin mengajak anak-anak berkencan.

Kau dan aku pernah merencanakan bahagia dengan begitu semangatnya, hingga detail-detail kecil yang mungkin mengacaukan luput dari perhatian.

Hari ini, kau menyebar undangan pernikahan. Tak ada namaku di sana–meski hanya sebagai tamu.

Apa kau pikir aku tak mampu mengucap selamat untukmu?
kau pikir aku akan hancur saat mendengarkan lagu-lagu yang pernah aku dan kau buat listnya untuk hari bahagia kita ternyata pada akhirnya untuk kau dan dia?

Apa kau kira aku tak sanggup memeluk perempuanmu dan mengucap selamat untuk bahagianya?
kau kira aku akan kacau ketika melihat senyummu menyalami tamu-tamu?

Aku tidak serapuh itu.

Aku akan baik-baik saja, 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚; akan kukenang itu saja. Mengapa tak kau berikan kesempatan untukku membuktikannya?

___
Jakarta 23 Agustus 2019

Iklan

Satu respons untuk “Karena Kita Pernah Bahagia”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s