Pamit


Kali ini bukan kalimat rindu yang dia kirimkan, bukan pula pertanyaan tentang kabar atau cerita lucu untuk menarik perhatianku; yang terkadang kuabaikan, bahkan seringkali sengaja tak kubalas.

Kali ini ia mengirim pesan permintaan maaf “Maaf aku sudah gagal membuatmu mencintaiku, aku tak berhasil membuatmu percaya bahwa aku begitu mencintaimu, mungkin aku kurang berusaha, tapi rasanya teramat melelahkan. Maka, bolehkah aku menerima cinta seseorang lain? Seseorang yang pada akhirnya membuatku melihat dunia di luar dirimu” tulisnya.

Aku membaca ulang pesan itu, seketika terasa ada yang kosong di dadaku. Apakah seperti ini rasanya kehilangan?

Aku mulai membaca lagi pesan-pesan yang pernah ia kirimkan sebelum permintaan maaf itu; kalimat manis yang tak kudapat dari selainnya, ucapan-ucapan sederhana yang membuat hangat, pemberi semangat yang kuabaikan tapi dia tidak bosan mengucapkan. Dia tidak pernah bertanya jika aku baru merespon pesannya 2 atau 3 hari kemudian, dia juga tidak marah jika aku tak membalas pesannya sama sekali. Dia tetap saja sebagaimana yang dia ingin; mengirimkan pesan dan cinta setiap hari.

Dia tidak menyelipkan ucapan selain permintaan maaf itu, aku menunggu dan berharap ia mengirimkan pesan lain, tapi tak ada.

Tiba-tiba tanganku terasa bergetar, ingin sekali membalas pesannya dengan segera, tetapi aku tak tahu akan menuliskan apa. Maka kupecet tombol dial, mungkin jika mendengar suaranya akan sedikit membuat kepalaku terbuka. “Tut.. tut.. tut..” hanya nada itu yang dapat kudengar, bukan suaranya yang renyah yang membuat suasana seketika menjadi riuh. Aku mengulangnya beberapa kali, tetapi masih nada yang sama yang aku dengarkan. Sesakit ini kah rasanya ketika aku mengabaikan panggilan-panggilannya? Ah, mungkin tidak, karena dia tidak pernah mengeluhkan saat aku tak mengangkat teleponnya. Ku rasa aku yang terlalu berlebihan.

Tiga hari berlalu, tak ada pesan juga panggilan dari dirinya, tak ada kabar atau permintaan maaf sebab ia tidak mengangkat panggilan dariku.

Ahh sedang apakah dirinya sekarang?

Kubuka lagi pesan-pesan darinya, ada yang menyesak dan terasa sakit di dada membayangkan ia mengirimkan pesan-pesan manis ini kepada seseorang lain.

Apa yang harus aku lakukan sekarang?