Kau Pada Sebuah Nama


Hirup pikuk kendaraan
hujan yang terus menderas dalam ingatan
kau; lampu jalan yang dipadamkan
Gedung menjulang tinggi
angin  berhembus dingin
aku; batu kecil–telempar dari dadamu.

Seluruhnya gulita
Pada keriuhan jalanan ini
aku melepas ingatan tentang bahagia
Segalamu adalah sebuah kehilangan;
Bagi tanganku yang belum pernah menggenggam.

Aku tertawa
sebatas kepura-puraan
yang hendak menyelamatkan bahagia.

Jakarta, 28 Feb 2016

#30HariMenulisSuratCinta hari ke-30

Iklan

Untuk Ibu


Dear Ibu,

Tiada pernah kutemukan cinta sebesar cintamu, tiada pernah kurasakan peluk setulus pelukmu. Karena hanya kau yang mencintaiku tanpa mengenal kata tetapi.

Terima kasih untukmu yang tak pernah lelah maupun lupa menelponku jika jam 21.00 aku belum pulang, yang selalu mengingatkanku untuk tak lupa makan, dan bahkan kau masih sering memelukku saat tidur.

Ibu, terima kasih telah menjadi seorang yang terhebat dalam hidupku. Seorang yang  mendukungku sepenuh cinta melewati masa-masa tersulit 2 tahun ini. Tanpamu mungkin aku tak akan setabah ini.

Maaf jika aku masih membuatmu meneteskan air mata, jika aku masih selalu membuatmu bersedih, namun percayalah Bu, aku sudah kuat sekarang. Aku, gadis kecilmu sudah bangkit dan berdiri tegar.

Terima kasih telah menjagaku sepenuh cinta.

-Mendoakan kebaikanmu, ibu, adalah salah satu caraku mencintaimu. Semoga doa-doaku akan lebih panjang dari usiamu-

Jakarta, 26 Feb 2016
#30HariMenulisSuratCinta
Hari ke-27

Dariku: yang tumbuh karena kasihmu.

Semoga ada Banyak Lelaki Sepertimu


Dear Brume,

Jika ada seorang wanita yang membuatku iri, itu adalah Ra-mu. Seseorang yang selalu kau tuju dalam semua surat-suratmu, seorang yang kau cintai sedemikiannya. Aku pernah berkata padamu perihal cinta dan mencintai dan kukatakan bahwa seharusnya ada banyak lelaki yang mencintai wanita sedemikiannya, sepertimu.

Membaca baris demi baris surat-suratmu untuk Ra membuatku kemudian membayangkan menjadi dirinya, dihujani  kata-kata penuh makna, kerinduan kerinduan yang tak henti lahir dari tiap akasara. Kau tahu, itu membuatku iri.

Mengutip isi suratmu kepada Ra, “Sudah dua puluh empat dan aku berharap kau tidak pernah membaca satu pun diantaranya. Aku tidak ingin kehabisan cerita bila kita bertemu, sebab semua yang aku miliki hampir tuntas tertulis di sini”. Sungguh mungkin aku akan menangis haru jika aku adalah Ra,  kau telah menuliskan semuanya, namun kau tetap ingin menceritakannya kembali melalui kata-kata dari bibirmu di hari temu.

Kau bahkan tak berharap dia membaca surat-suratmu, surat yang ku tahu kau tulis dengan sepenuh cinta dan rindu.

Saat tiba pada isi surat ke-23 mu ini “Hidupku begitu sepi tetapi selalu mampu kuramaikan kertas dengan tinta semata untukmu.” Aku terdiam lama, sekali lagi aku membayangkan diriku adalah Ra yang di dadanya dipenuhi rindu, aku berkaca-kaca; hampir saja menjatuhkan air mata. Sungguh bagiku untuk seorang yang dipenuhi rindu tiada yang lebih indah dari membaca kalimat itu.

Banyak hal yang membuatku iri kepada Ra-mu, semuanya adalah perihal caramu mencintainya, caramu memperhatikannya, caramu menjaganya meski terpisah jarak, caramu membahagiakannya

“Dua hal yang tidak bisa aku kendalikan lajunya adalah takdir dan ingatan-ingatan tentang kau” aku iri dengan kata-katamu ini, aku iri bahwa ternyata aku tak pernah mendapatkan ucapan semanis itu.

Dear Brume,

Tetaplah mencintai Ra seperti ini, tetaplah menjadikan dia wanita yang paling istimewa, tetaplah membuat banyak wanita iri kepada Ra, agar ada banyak lelaki yang berusaha menjadi sepetimu.

Pada akhirnya aku hanya mampu berdoa, semoga Tuhan menciptakan banyak lelaki yang mencintai wanita sedemikiannya, dan aku mendapatkan salah satunya.

Jakarta, 25 Februari 2016
#30HariMenulisSuratCinta hari ke-26
Dariku; yang ingin dicintai sedemikiannya.

Note untuk pembaca : semua surat kepada Ra ada di: http://torpeunoia.tumblr.com/  bacalah, dan rasakan betapa kau akan iri kepada Ra.

Kita Pada Suatu Masa


Senja ini, aku becakap dengan pikiranku sendiri membicarakan tentang kita kelak disuatu masa

Aku membayangkan tentang sebuah rumah dengan sebuah perpustakaan kecil di dalamnya, menyimpan buku-buku kesukaan kita. Dimana karya Chairil, WS Rendra, Sapardi, Putu Wijaya, Pramoedya Ananta Toer, Seno Gumira Ajidarma, Kahlil Gibran, Andrei Aksana, Joko Pinurbo dan lainnya akan memenuhi setiap rak-raknya. Kelak setiap akhir pekan kita akan menghabiskan waktu berdua saja, tenggelam dalam buku yang kita baca dan kita semakin dipeluk erat oleh cinta.

Kelak kita akan melewati malam-malam yang dipenuhi tawa saat kau menyanyikan lagu-lagu kita dan aku menyiapkan secangkir kopi hangat di meja. Lalu kita tenggelam pada suatu masa yang paling menghangatkan dada.

Aku membayangkan di suatu hari yang hujan, ketika tubuhku telah renta dan tak lagi mampu menari di bawah rinaninya, kau mengajakku duduk di beranda menikmati secangkir coklat hangat berdua. lalu kau bercerita perihal hujan, dan bagaimana berbahagia dengannya tanpa harus kebasahan. Kita akan mengenang kembali masa-masa saat tubuhmu memeluk erat tubuhku yang menggigil kedinginan dan kita hanyut dalam ciuman-ciuman.

Bersamamu aku akan selalu menuliskan puisi setiap hari, malam setelah kau tidur. Aku kan mengganti wallpaper laptopmu dengan puisi, agar saat kau bekerja dan membuka laptop; kau akan mengingat aku sebagai seseorang yang teramat mencintaimu, seseorang yang begitu ingin melihat kau selalu berbahagia.

Aku ingin memiliki rumah yang akan selalu kita rindukan, karena dipenuhi cinta dan tawa anak-anak di dalammnya. Agar saat kita jauh, kita tidak akan pernah berpikir untuk menjauh. Yang kita pikirkan adalah pulang, pulang pada cinta, pulang pada pelukan yang nyaman, pulang pada kedamaian yang tidak akan pernah kita temukan kecuali di rumah kita.

Kau tahu, bahwa hanya dengan membayangkanya saja aku telah cukup merasa bahagia. Aku telah cukup merasa memilikimu dalam seluruhku.

————————–
Aku terlalu menyakini bahwa kau bisa membaca segala rasa di dalam hatiku menyakini bahwa apa yang menjadi keinginanku dan keinginanmu adalah sama. Namun kini tiba-tiba aku merasa begitu takut, aku takut kehilangan sesuatu yang tidak pernah aku miliki, sesuatu yang begitu jauh namun telah melemahkanku.

Kau begitu tinggi, tanganku tak sanggup menggapai, langkahku tak sanggup mengimbangi. Aku hanyalah seseorang yang rapuh, aku begitu takut jatuh. Maaf bila akhirnya aku memilih berdiam, dan mendekapmu hanya dalam ingatan. Aku memilih untuk menjauh,  karena aku bukanlah pejuang yang tangguh.

Terima kasih telah membuatku merasa begitu bahagia dengan membayangkan hari tua yang kita lewati bersama.

 

Jakarta 24 Februari 2016
#30HariMenulisSuratCinta hari ke-25

Dariku; yang terlalu takut jatuh

Note: Terima kasih sudah menjadi seorang yang mau bertukar puisi denganku, memberiku tawa meski tidak untuk selamanya.

Kita di Dalam Kata


Kepada F,

Aku menyukai puisi-puisi dan percakapan kita yang tak sengaja, kata-kata yang seringkali membuatku ingin tersenyum. Tak apa jika kau menganggapnya bercanda, aku sudah cukup bahagia.

——————————–

Demi udara yang kuhirup pertama, demi kangen yang bukan lagi rahasia: padamu, aku cinta. ~

segala yang tak mampu aku lisankan, yang tak pernah cukup jika aku tuliskan, semoga kau bisa merasakan; aku, selalu rindu.

Ditengah lukaku, datang kamu yang rindu. Sekedar kau tahu: sajakmu, gaung abadi hatiku. Doa baik buatmu

untuk seluruh kebahagiaanku yang kau doakan, semoga mampu menjadi bagian dari kebahagiaanmu ~

——————————–

Aku bukan seseorang yang pandai merangkai kata, namun aku menyukai seluruh puisi-puisi, terlebih yang kau tuliskan untukku.

“sejauh ini, aku tak percaya mimpi
yang ku percaya hanyalah
doa
cinta
dan kita”

Kau selalu bisa membuatku berhenti berkata-kata, tak lagi tahu akan membalas apa. Aku suka membaca kembali puisi-puisimu membayang sungguh itu aku yang kau tuju, membayangkan sungguh hanya aku yang selalu ada dalam doamu.

Perlahan aku menyadari bahwa bahagiaku cukup sederhana–kau ada dan masih menjadikanku bagian dari yang kau ucap di dalam doa.

Sungguh aku tak dapat banyak berkata dalam surat ini, namun yang perlu kau tahu, tanpa kata sekalipun kau telah menjadi puisi dalam ingatanku, yang selalu aku baca tiapkali rindu.

——————————–

Secangkir Kopi

Sebab tanganku tak selalu mampu menyuguhkan secangkir kopi 
yang menghangatkan pagimu,
menahan kantuk siangmu
mendamaikan senjamu
namun semoga aku masih selalu bisa menuliskan kata
yang menyusupkan kehangatan dalam dada

dan biarkan aku menjelma cangkir kopimu
saat semua telah habis kau sesap
aku tetap kembali lagi
menyuguhkan kehangatan berkali-kali

——————————–

Jakarta, 23 Feb 2016

#30HariMenulisSuratCinta hari ke-24

Dariku: yang selalu iri pada dia, yang melahirkan puisi di kepalamu; yang menjadi anak-anak sajakmu.

Note:
Jika nanti kau memilih pergi, katakan jauh-jauh hari. Agar mampu kusiapkah hati melepas kebahagiaanku selama ini.

Kembali Menjadi Diri Sendiri


Dear kamu yang mengerti segalaku,

Hari ini aku aku dikomplain teman karena aku genit. Dia bilang itu bukan aku, akupun merasa demikian. Menjadi aneh dan tak menemukan sosok diriku sendiri di dalam diriku.

Kadang seorang terlalu cepat menilai, hanya karena membaca sekilas, bercakap beberapa saat atau hanya sekedar stalking twitter saja. Mereka begitu cepat menilai seolah sudah tahu dan faham benar siapa yang mereka nilai. Dan aku sering mendapatkan penilaian yang sesungguhnya itu bukanlah diriku. Tapi tak apa, tak ada yang bisa mengatur aku hanya boleh dibicarakan oleh siapa dan dibicarakan seperti apa kan? biarkan mereka menilai apapun dan mereka hanya akan menjadi seseorang yang tersesat dalam pikirannya sendiri.

Kamu tahu siapa aku, kamu mengenal aku jauh lebih dari diriku, kamu faham benar bagaimana aku ketika menyembunyikan kesedihan ataupun saat aku tak sanggup lagi bertahan. Kamu faham benar apa saja yang bisa membuatku tertawa, marah dan menangis. Iya, memang hanya kamu yang mampu memahami aku hingga bagian terburuk diriku.

Hari ini mungkin kamu akan tertawa terbahak andai saja aku bercerita padamu perihal keanehanku beberapa hari ini. Iya, mendadak aku menjadi genit. Hahaha kau tahu kan itu bukan aku. Dan kau pasti akan tertawa terbahak menggodaku, membuatku merasa malu. Tapi aku tak mau bercerita padamu. Biarlah. Biar sesekali kau tak tahu sesuatu tentang aku.

Dan benar, menjadi sosok lain ternyata memang tidak nyaman, tidak mudah dan aku jadi merasa aneh. Baiklah.. Aku akan kembali lagi menjadi diri sendiri, yang katamu aku adalah perempuan yang lebih tangguh dari apa yang bisa kau pikirkan tentang aku. Aku akan menjadi diriku kembali yang katamu aku seorang yang lebih banyak berkata dalam diam dan tatapan matanya, bukan aku yang banyak bicara hingga lupa cara mendengar.

Hahah dan bahkan hanya sekedar menjadi sedikit genit saja aku merasa aneh. Sudah, berhentilah tertawa. Sudah cukup perihal ini kutertawakan sendiri. ☺

– Menjadi diri sendiri adalah penghargaan paling tinggi dalam mencintai diri –

Jakarta 22 Feb 2016,
#30HariMenulisSuratCinta hari ke-23

Dariku; yang sudah kembali menjadi diri sendiri.

Selera Humor Kita Berbeda


Tuhan Yang Maha Lucu,
Kau sering membuatku tertawa, tertawa hingga jatuh airmata, hingga aku merasa leluconMu tak lagi lucu bagiku.
Begitu banyak kisah yang Kau tulis dan harus aku lalui dengan bulir air mata ditiap langkahnya. Begitu banyak cerita yang harus aku perankan sementara aku merasa telah lelah namun penonton menunggu untuk bertepuk tangan.
Selucu itukah Tuhan?
Atau selera humor kita yang berbeda?

Tuhan Yang Maha Baik,
Aku akui bahwasanya aku seringkali masih marah atas apa yang Kau beri yang tak sesuai inginku, masih menangis saat sesuatu Kau ambil dariku dan masih sering mengeluh ketika Kau belum menjawab doaku.

Tuhan Pemilik Rancana Paling Sempurna,
Telah kupahami seluruh apa yang Kau berikan adalah yang terbaik. Apa yang kau tuliskan adalah yang tersempurna, namun ternyata dengan mengetahui itu tak cukup bagiku untuk tertawa saat kau menulis tentang kesedihanku berkali-kali.

Tuhan sejauh ini perbedaan selera humor kita?

Jakarta 21 Feb 2016
#30HariMenulisSuratCinta hari ke-22

Dariku : yang masih mencoba tertawa bersamaMu