Aku Tahu Jawabnya


 

Pesan itu sudah sampai di emailku sejak satu minggu yang lalu, tapi aku baru memiliki jawaban atas pertanyaannya yang sebenarnya sungguh sangat sederhana.

Aku menghela napas panjang berkali-kali sebelum akhirnya mengetik jawaban dan mengirimkan pesan itu kepada seseorang di seberang sana. Sebab aku tidak pernah ingin menasehati dan atau memberi jawaban bila aku sendiri belum dan atau tidak sanggup melakukannya.

Aku bukan konselor pernikahan, bukan pula konsultan, psikolog dan atau lainnya, aku hanyalah seseorang yang entah karena apa begitu sering mendapat curahan hati seseorang tentang pertanyaan-pertanyaan yang seringkali sudah pernah aku lalui.

Tidak pernah ada pengorbanan dalam cinta, sebab mencintai hanyalah perihal memberi, memberi, memberi dan memberi meski kau sudah tidak lagi memiliki apapun.

Cinta tidak pernah menyakiti pun membuat kau merasa sakit, maka bila kau merasa demikian, ada yang perlu kembali kau pertanyaan pada dirimu sendiri. “Apakah itu cinta?

Cinta ialah selalu perihal baik; memberi yang terbaik, melakukan yang terbaik. Bila dia yang kau cintai menduakanmu atau menjadikan kau yang kedua dan itu membuat kau merasa sakit, dan itu membuat kau merasa sedih, dan itu membuat kau bertanya-tanya apakah kau harus menunggu dan menerima lalu memaafkannya, maka jawabku “tidak pernah ada kebaikan dalam diri seseorang yang hatinya saja ia tidak tahu di mana akan di tempatkan—dan cinta ialah selalu tentang sejauh mana kau sanggup menerima.”

Salam,

Semoga kau mampu menjawab pertanyaanmu sendiri.

Aku membuka jendela dan membiarkan angin masuk memain-menerbangkan horden. Aku tahu ia tidak baik-baik saja. Kusulut rokok keempat sembari menulis sebuah pesan singkat.

Kini aku tahu bagaimana cara meredakan nyeri di dada ini.

***

Akhirnya emailku dibalasnya, sudah seminggu aku mengirimnya, aku pikir ia tidak akan pernah membalas pertanyaan yang terlampau sederhana ini. Aku membaca jawaban itu pelan-pelan dan meraba pipiku, tak ada hangat yang jatuh. Kubaca sekali lagi dan memastikan bahwa aku benar-benar tidak apa-apa.

Apakah cinta itu pengorbanan?
Apakah cinta itu menunggu?
Apakah cinta itu memaafkan?

Bila ia yang kau cintai, memiliki seseorang lain, selain kau.

Aku tahu ia baik-baik saja, ia tidak terluka, dan kini aku mengerti apa yang harus aku lakukan.

Aku tahu jawaban atas pertanyaan yang telah kubuat. Aku tahu bagaimana mengakhiri kebohongan yang selama ini kulakukan pada diri sendiri.

***

Secagkir kopi di meja, sebatang rokok di tangan kanannya, layar laptop dibiarkannya menyala tanpa ada satu kalimatpun yang dituliskannya.

“kau tak perlu memilih aku atau dia, sebab aku telah memilih untuk tidak lagi memilihmu” message received

Kau tak perlu memilih aku atau dia, sebab aku telah memilih untuk tidak lagi memilihmu.” message received 

Dua buah pesan masuk bersamaan di handphonnya, di waktu dan dengan kalimat yang sama; dari dua wanita yang dicintainya. Ia tersenyum kecut, memandang lagi layar handphonenya; berharap tidak ada pesan ketiga.



Nov 2017

Ditulis untuk #NyincingDasterClub Tema SELINGKUH

Iklan

Meja 16


Sengaja aku datang setengah jam lebih awal dari janji petang ini, agar aku punya waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri menyambutmu. Sudut kedai kopi yang sedikit muram, bangku kayu, dingin, dan deguban di dada yang menyimpan banyak harapan serta kerinduan.
Serombongan orang entah dari mana ramai bicara bla bla bla pada setiap meja, tapi aku tetap merasa sendiri, hening, tak ada apapun yang aku lakukan selain membayangkan yang akan terjadi 30 menit lagi.

Sepuluh menit berlalu. Sambil menunggu seorang yang telah lebih dari dua tahun tinggal di negeri empat musim, kubuka ponsel. Senyumku mengembang disambut sebuah foto, tak baru sudah tiga tahun lalu, tapi aku menyukainya. Sangat. Dan entah karena apa aku tak tahu, tak ada alasan. Ia tertawa lebar di sana, matanya sedikit menyipit tertarik oleh bibirnya yang tengah tertawa. Dan aku bahagia melihatnya.

Pendingin ruangan kerja begitu keras, di luar hujan turun dengan deras, kurapatkan jaket dan kuteguk kopi panas dari cangkir merah, sejenak hangat mengalir. Tapi masih ada dingin yang menjalar di dadaku. Ah kenapa kacau sekali.

Kulihat jam, masih lima menit lagi. Dari pintu depan pandanganku tertuju pada seorang laki-laki berjaket hitam. Matanya setajam elang, pandangannya terasa lebih dingin dari pendingin ruangan kedai ini. Ia begitu mirip seseorang. Sangat mirip.

Ia duduk di meja depanku, sambil meletakkan rangselnya ia menatapku, beberapa detik. Seperti ingin tersenyum, lantas memalingkan muka dan menyibukkan diri dengan laptopnya.

Meja 16. Secangkir kopi, beberapa potong kue cokelat kacang. Sepasang tangan sibuk dengan laptop, dan tiba-tiba teringat seseorang lalu membayangkan ia memelukku dari belakang seraya berkata, “Paru-paruku tak terlalu sehat bila tak melihatmu tiap hari, maaf sudah membuatmu menunggu.”

Aku tertawa, ah bayangan macam apa ini. Aku menyalakan rokok pertamaku dan meliriknya yang ternyata juga sedang melakukan hal yang sama. Oh Tuhan, dia sedang memandangku dan sungguh matanya indah sekali. Sekali lagi dia mengingatkan aku pada seseorang.

Tiba-tiba saja dadaku berdegub kencang dan mukaku memerah. Aku menundukkan wajah dan tanganku menghampiri cangkir merah yang masih berisi setengah.
Ponsel bernyanyi, Love to be loved by you – Marc terency mengalun indah, memecah hayalan dan kegugupanku barusan. Sebuah nama mengirim pesan :

Kiara, maafkan aku, tiba-tiba ada yang harus ku selesaikan, tak bisa menemuimu sekarang. Tapi jangan pulang dulu, ada teman yang akan mengantarkan sesuatu untukmu

Kuletakan ponsel itu perlahan, tiga puluh menit menunggu untuk sesuatu yang tidak pernah datang. Iya harusnya aku tahu bahwa Laut memang tidak akan pernah menemuiku, sama seperti kepergiannya 2 tahun lalu, ia hanya menitipkan sebuah surat untukku melalui sahabatnya.

“jangan menungguku, aku tidak tahu kapan akan kembali, dan apakah aku masih akan mengingat jalan pulang. Temukanlah seseorang yang bisa membuatmu bahagia dan lupa caranya bersedih” tulisnya pada selembar kertas yang sedang kubaca ulang sekarang.

Aku pikir hari ini dia pulang, dia menemukanku kembali, dia merindukan aku. Tapi aku salah, selalu salah, aku tak pernah bisa memahami jalan pikirannya, aku selalu berharap dia memiliki rasa kasihan kepadaku. Aku salah.

Tanganku masih mengenggam kertas yang Laut berikan dua tahun lalu dan perlahan air mataku menetes. Tanpa aku sadari, mataku bersitatap dengan lelaki di meja 16 tadi saat aku menghapus air mata dan mengalihkan pandangan ke pintu. Dia menatapku dan tersenyum.

Lima puluh menit berlalu sudah dua cangkir kopi kupesan, beberapa puntung rokok tergeletak di asbak, aku mulai bisa meredakan suasana hatiku, aku mulai bisa mengatur napas dan sesak di dada. Hujan di luar masih deras, suara Duta Modjo memenuhi kedai ini: selamat tidur kekasih gelapku, sephia…

Aku mematikan ponsel, aku tidak ingin lagi membaca pesan dari Laut. Tiga pesan yang kuabaikan dan 2 missedcall.

Aku ingin bahagia, bisikku ke pada diri sendiri.

Lelaki di meja 16 itu mengemasi barang-barangnya lalu kemudian melangkah mendekat ke arahku. Iya dia menghampiriku.

“Kiara?” ucapnya perlahan saat sudah berdiri tepat di hadapanku.

“Ya” jawabku dengan canggung dan bingung. Siapa kah lelaki ini?

—-

“Matamu, masih seindah 2 tahun lalu. Aku menyukainya, dan sayangnya dua kali pula aku harus menyaksikannya dialiri kesedihan” ucapnya sembari tertawa.

“Simpan saja apa yang kau bawa, bawalah pulang padanya. Sekarang, maukah kau menemaniku bermain hujan?”

Kami tertawa bersama.

30 November 2016

Ditulis bersama Dien Matina @DienMatina

Memesan Takdir


“Apa kau tak suka kopi?” Tanyamu sore itu ketika untuk kesekian kalinya aku lebih memilih memesan lemon tea saat menemanimu di kedai kopi.

“Suka” jawabku sembari tersenyum dan memainkan sendok kecil dalam gelasku.

Kau menatapku dan menyalakan rokok untuk ke lima kalinya meski belum genap satu jam kita duduk di kedai ini. Kau hisap dan hembuskan perlahan seolah seluruh penat lepas mengabur bersama asap.

“Mau rokok?” tanyamu sembari menyodorkan bungkus rokokmu ke arahku.

Aku menggeleng dan masih tetap tersenyum, tanganku masih terus mengaduk-aduk lemon tea yang sebenarnya sama sekali tak butuh diaduk. Namun seperti yang telah terjadi pada siapapun juga, bahwa perasaan grogi sering kali membuat kita tampak begitu aneh dan mencari-cari kesibukan yang tak penting.

Kau meletakkan rokokmu yang tinggal setengah ke dalam asbak.

“Maaf aku tak bisa berhenti merokok” ucapmu.

“Tak apa”

“Aku bukan seseorang yang baik, aku tak pandai membahagiakan semua orang, aku tak pernah punya banyak waktu untuk bisa memperhatikan segala hal” kau mulai berbicara serius, kau duduk menyadar pada kursi kesukaanmu — kursi kayu warna coklat pudar yang terletak di bagian pojok kedai, di samping jendela.

Kursi itu adalah satu-satunya kursi yang motif dan bentuknya beda dari puluhan kursi lainnya yang ada di kedai ini. Entah mengapa sang pemilik kedai masih menggunakan kursi itu meski keberadaannya sangat kontras dengan kursi lainnya yang bentuknya rapi dan warnanya masih mengkilat.

Kedai ini tak pernah penuh, paling sering hanyalah separuh. Dan sejak pertama kali kau mengajakku kemari, belum pernah kulihat ada seseorang yang duduk di kursi yang kau sukai itu.

“Aku….” kau berhenti berkata dan matamu mendadak berkaca-kaca.

Aku paling benci melihat lelaki menangis, meskipun itu kau. Aku benci ketika harus menatap kesedihan seorang lelaki yang seharusnya memeluk hangat kesedihan.

Separuh rokok telah habis dihisap sepi, kita masih saling diam dan menunduk, sunyi. namun kepala kita begitu ramai, melampaui keramaian masjid saat idul fitri.

“Kau sudah makan?” tanyamu mencoba memecah keheningan.

Aku menggeleng.

“Pesanlah makanan, dan kita makan dulu”

Aku menggeleng lagi. Mana mungkin aku bisa makan.

Beberapa detik kemudian handphonemu berdering. Kau menjauh untuk menerima telepon. Raut mukamu tampak serius dan kuperhatikan kau sesekali menghembus nafas panjang. Aku hanya diam memandangimu dan juga gerak tubuhmu yang solah menjelaskan sesuatu kepada seseorang di sebrang. Hampir sepuluh menit kau baru kembali duduk di hadapanku.

“Maaf, aku harus pergi sekarang. Besok sore kita bertemu kembali di sini” ucapmu sembari mengambil rokok di meja.

Aku mengangguk, tapi tak beranjak dari kedai ini, aku memandangi punggungmu yang semakin samar–oleh air mataku.

***

Lagi iseng posting draft tulisan beberapa bulan lalu. 

Kalo ga ada yang suka, nanti aku delete aja. Kalo ada yang suka nanti aku posting kelanjutannya.

Gak papa ya sesekali posting cerpen 😁

Tentang Jendela yang Terbuka


Aku sering melihat lelaki di balik jendela itu menulis, di ke jauhan aku membacanya sebagai kesedihan. Kepalanya lebih sering menunduk dan sesekali menatap kosong ke luar jendela. Setiap malam seusai menulis ia akan menyulut 2 batang rokok, selalu dua batang, tidak lebih. Lalu ia akan mematikan lampu kamarnya dan membiarkan jendelanya tetap terbuka.

Aku seperti melihat sebuah fragmen yang berulang, Seorang lelaki duduk, menulis, menatap nanar ke luar, lalu menyulut kesedihan. Aku sering kali menerka apa yang ia tulis, aku memandangi siluet tubuhnya dan mulai membacanya satu per satu.

Di ruang ini mulut-mulut menjadi bisu
kata-kata tak menemukan pintu ke luar
Jarum jam seperti roda kereta
tak pernah mau menunggu barang satu putaran saja

Langit selalu gerimis
dan tak ada payung yang bersedia mengantar tubuhku
ke dalam jangkauan lenganmu

Ketika hujan reda
segalanya sudah tak lagi ada.

Aku sering menunggunya muncul di jendela, meski beberapa kali ia tak ada di sana, namun jendelanya selalu saja terbuka. Ketika ia mulai duduk, aku mulai memutar sebuah lagu sendu, kuputar berulang-ulang hingga nanti ia memadamkan lampu dan siluet tubuhnya tak nampak lagi di mataku.

Ia lelaki yang tak menyukai kopi, mungkin. Sebab di mejanya tak pernah nampak gelas atau cangkir-cangkir. Hanya ada sebuah buku dan asbak.

Aku suka memandangi kegelisahannya, caranya menyalakan nyeri dan menghembuskanya. Aku suka ketika jemarinya mengacak-acak rambutnya dan kemudian bersandar di kursi teramat lama. Aku suka membaca kemurungannya.

Aku mencoret angka pada kelender 
memberi tanda silang pada ketiadaan

Di sini segalanya hidup dan mampu bercerita
jam dinding,
meja,
kursi,
kalender,
hingga jendela;
segala yang aku miliki

Kecuali aku;
sebab apalah arti raga
saat ia bukan milik siapa-siapa.

Lelaki itu mungkin sedang menunggu; seorang wanita yang tak pernah ada pada halaman takdirnya.

_____

Jakarta, 02 Sep 2016

BIARKAN AKU TETAP SEPERTI INI


Andai kau tahu, Rana, tertawa tanpamu itu sulit, tentu kau tak akan pernah melarangku menangis.

Ibu mengusap air mata yang perlahan jatuh di pipiku, ini kesekian kalinya Ibu melihatku menangis. Tapi tak sedikitpun Ibu bertanya padaku mengapa aku menangis. Aku sendiri pun telah melupakan alasan yang membuat air mata ini menciptakan aliran sungai di pipiku.

Ku lihat sekilas di mata Ibu ada air mata yang menetes. mungkin karenaku.

Din, mengapa tak mau ke Rumah Sakit? Andai saja kamu mengerti harapan Ibu padamu nak..” ucap Ibu sambil memeluk tubuh ku.

Dan andai ibu juga mengerti apa yang kurasakan saat ini, mungkin Ibu akan tahu mengapa aku lebih memilih disini, tetap begini. Aku berbisik dalam hatiku.

Ku paksakan sebuah senyum termanisku untuk Ibu, agar ia berhenti meneteskan air matanya, agar wajah ayunya tak tertutup oleh gurat gurat kesedihan. Aku tersenyum, kemudian mengajak Ibu tertawa melupakan kesedihan yang baru saja melingkupi kami. Ibu masih saja menangis, ah.. Ibu memang terlalu rapuh batin ku dalam hati. Ia tak bisa sepertiku yang selalu bisa tertawa. Ibu memang kerapkali seperti ini, aku sudah terbiasa melihatnya menangis. Kita memang seringkali menangis bersama-sama.

***

Saat aku membuka mata, kulihat seseorang menyuntikkan cairan padaku, tiba-tiba pandanganku mengabur dan hanya gelap yang bisa kulihat. Aku seperti ingin kembali tertidur. Dengan samar masih bisa ku dengar isak tangis Ibu di sampingku, aku merasakan tubuhku diangkat, entah akan dibawa kemana tapi aku mencurigai sesuatu.

Saat aku terbangun, kulihat Ibu dengan air mata yang masih menetes. Aku tersenyum pada Ibu, kupandangi wajahnya yang mirip dengan kekasihku Rana. Kutemukan tatapan mata penuh cinta, mirip tatapan Rana ketika menatap mataku.

Ah… tiba-tiba aku menjadi rindu dengan Rana, terlintas bayangan Rana berkelebat dalam pikiranku, senyumnya, tatap matanya, hangat peluknya. Rana kau memang mempesona, tak salah aku memilihmu menjadi kekasihku.

Aku kembali teringat dengan Ibu yang tadi menangis, aku pun segera menghempaskan bayangan Rana dari pikiranku. Aku tersenyum lagi, tapi Ibu tetap menangis.

Ibu jangan menangis” aku berkata padanya, ingin ku usap air mata itu dari pipinya, sama seperti yang selalu Ibu lakukan tiap kali aku menangis.

Saat akan kuangkat tanganku, kurasakan sesuatu menahannya, tanganku terikat pada sisi tempat tidur ini. Aku meberusaha melepasnya tapi tak bisa. Ikatan ini terlalu kuat. Aku berteriak, meronta-ronta. Aku menagis sekencang –kencangnya, ku maki semua orang yang ada disini, tapi mereka tak mau menolongku untuk melepaskan ikatan ini dariku. Kurasakan Ibu memelukku, berusaha menenangkanku.

Tenganglah nak, kini kau berada di tempat yang tepat, kau akan sembuh dan menyalakan lagi lentera kehidupan Ibu, kau anakku satu-satunya, Ibu tak mau kau terluka” suara Ibu terdengar samar diantara isak tangisnya.

Kini aku sadar Ibu telah membawaku ke Rumah sakit, tempat dimana aku akan disembuhkan. Tempat dimana akan membangun lagi kenangan yang sejauh ini berusaha kulupakan, meski terkadang aku mengingatnya dan aku menangis kala itu.

***

Dear Dino,

Din, maafkan atas semua kesalahanku kali ini, aku tahu semua ini akan meyakitimu, tapi aku percaya kau akan sanggup melewati semua ini tanpa ku, aku percaya kau akan kuat membangun mimpi –mimpimu tanpa ku.

Andai saja aku memiliki pilihan, aku pasti memilih untuk tetap bersamamu dan andai saja aku bisa memutar waktu akan kuputar saat Ayah belum meninggal dunia dan membatalkan perjodohanku dengan Ardi.

Tapi kau tahu kan Din, aku tak sekuat itu untuk bisa melakukan perubahan yang kita harapkan.

Din, aku telah memutuskan untuk mengatakan semuanya pada Ayah, agar kelak ia merestui hubungan kita. Aku tak sanggup menata kehidupanku tanpa kamu. Berjanjilah padaku, jangan menangisi dan menyalahkan keputusanku, percayalah.. aku pasti bisa membujuk Ayah dan kita akan kekal abadi bersama nanti.

Yang selalu mencintaimu

Rana

Kubaca ulang surat Rana yang ia berikan pada Dino, sebelum kepergiannya. Masih ku ingat ekspresi Dino kala aku memberikan surat itu padanya, air matanya menetes deras, namun ia segera mengusapnya. Ia mencoba tersenyum, namun gagal dan air mata kembali menetes di pipinya. Isak tangisnya seperti tercekat di tengorokan tak ada suara hingga ku dengar Dino terawa tebahak-bahak sambil berkata ”aku tidak menangis Rana!!! Aku tidak menangis, lihatlah aku..” ”hahhahahahhaha… aku tidak akan menangis, percayalah. Hahahhahahha.” kemudian ia terjatuh dan tak sadarkan diri.

Saat ia sadar tak lagi kutemukan Dino putraku, yang kudapati hanyalah Dino yang tiba-tiba menangis lalu tertawa terbahak-bahak. Tatapan matanya selalu kosong, tak ada harapan apapun disana.

Sering kutemui ia bercakap-cakap dengan tembok di kamarnya, sering pula ku lihat ia menangis memeluk guling.

Sebagai ibu tentu hatiku sangat sakit menyaksikan anak kesayanganku seperti itu.

Dino selalu meronta tiap kali ku ajak ia kerumah sakit, ia selalu menolak dan mengamuk setiap kali dokter mencoba memeriksanya. Kini sudah enam bulan Dino berada dalam keterasingan hidupnya, dan aku sudah tak sanggup lagi membiarkan keadaanya.

Kulipat kembali surat itu, entah setiap kali aku membacanya aku ingin segara mencarikan Rana yang baru untuk Dino. Rana yang bisa menyembuhkan dan menumbuhkan semangat lagi dalam hidup Dino.

***

Ibu, andai Ibu tahu aku tidak pernah gila, andai Ibu tahu semua yang kulakukan hanya untuk menutupi luka yang menganga dalam hatiku, untuk melupakan bahwa sesuatu telah terjadi pada hidupku.

Dengan begini aku tak kan sadar bahwa Rana benar-benar telah pergi, aku bisa menganggapnya ada kapan pun aku mau, aku bisa mengajaknya bercengkerama meskipun saat itu yang Ibu lihat aku berbicara pada dinding.

Ibu aku lebih nyaman dengan hal yang Ibu anggap gila ini, aku lebih tenang karna aku tak pernah merasa kehilangan Rana.

Biarkan aku tetap seperti ini Ibu, menikmati hidupku dengan kegilaan ini, menciptakan kembali Rana dengan kenangan yang aku miliki bersamanya.

Biarkan aku gila Ibu…

Kesembuhanku nanti hanya akan menjadi awal dari kegilaanku tanpa Rana, hanya akan menjadi luka yang tak tunjung usai.

Biarkan aku gila Ibu…

Malaikat Merindu Pelukan


Aku berjalan tertatih menyusuri jalan menuju rumahku. Sebuah gang kecil yang kumuh. Dari kejauhan aku melihat seorang gadis kecil berusia tiga tahunan duduk di samping tong sampah. Semakin dekat, kulihat ada kilatan cahaya dimatanya,wajahnya ayu, bersih. Tapi kenapa ia disini hatiku bertanya tanya.

“Ma..” ucap sigadis ayu tersebut ketika aku melewatinya. Aku tekesima mendengarnya memanggil ku mama. Aku membalikkan badan, ku hampiri anak tersebut. 

“Kamu siapa? kenapa disini malam malam?” ucapku perlahan. Dia diam tak menjawab, matanya menatap mataku. “baiklah ayo ikut aku” aku menggendong gadis itu menuju rumah.
**
Di sofa usang kududukkan ia, kuperhatikan sepasang sayap mainan yang ia kenakan. “Dimana rumahmu nak” kusodorkan segelas air putih. Dia hanya menggeleng. “Baiklah, sekarang kamu tidur besok kita cari rumahmu” kupegang
kedua sayap mainan itu untuk dilepas. Tapi merekat kuat.

“Ma, ini bukan mainan” ucapnya perlahan. Kutatap wajahnya, sinar terang terpancar disana. Aku duduk disampingnya.

“Ma, aku malaikat yang diutus Tuhan untuk menitis kedalam janin yg mama kandung. aku janin yang dulu mama tidak kehendaki.” ia terdiam sejenak. “Tadi, saat aku akan masuk dalam perut mama, kulihat mama sedang merintih sakit diruang dukun itu lagi. Dan ku saksikan ragaku berlumur darah didalam baskom” ia 
berkata tanpa ekspresi.

Aku diam air mataku meleleh, ku ingat baru saja aku menggugurkan kandungan ku di rumah seorang dukun langgananku. Aku hanya seorang pelacur, sering kali aku hamil dan sering pula kugugurkan. Aku tak mungkin bisa mendidik anak. Aku hanya pelacur jalang. Maka kuputuskan aku tak mau melahirkan anak.

“Ma, aku rindu pelukan. Tiga tahun aku mencoba pulang dan mama masih menolakku” ucap nya perlahan. Ada harapan di matanya yang mulai memudar.

Kali ini airmataku menetes, baru kali ini aku merasa menyesal telah menggugurkan kandunganku. Ku peluk tubuh kecilnya. Tak berapa lama ku rasa ada yang aneh, kubuka mata dan kudapati hanya ada sepasang sayap yang kudekap erat. Malaikat 
kecil itu telah pergi. Aku kembali tersedu di sofa usang rumahku.

Maafkan aku, Rana.


Lagi dan lagi setiap pagi ia selalu menanyakan mengapa aku sudah tidur disampingnya, bukankah kami belum menikah dan hari ini adalah hari pernikahan kami. Setelah aku menjawab dan menjelaskan padanya, ia hanya mengangguk dan mencoba memahami apa yang aku katakan.

Lalu setelah itu ia akan mengajak ku berbincang tentang berita yang lalu berita yang sudah basi dan tiap hari selalu ia ceritakan padaku. Aku hanya bisa tersenyum pahit memandangnya, kadang aku mencoba menanggapi dan terkadang aku hanya bisa terdiam saja mendengarkan ia bercerita lalu sesekali mengusap rambut hitamnya.

Saat ku tinggal bekerja, ia masih mengantarkanku kemobil namun saat aku pulang ia kembali menanyakan mengapa aku pulang kerumahnya. Kembali aku harus dengan sabar bercerita padanya.

Ketika malam tiba, ia duduk di ruang baca membaca tabloid dan koran-koran lama, kemudian berteriak keheranan dan memangilku untuk memberi tahu berita yang menurutnya adalah berita terbaru.

Tarkadang aku lelah harus bercerita dan menjalaskan hal yang sama setiap hari, melihat muka bingungnya ketika menemukan aku tidur disampingnya. Sering air mata ini menetes dengan sendirinya tiap akli ku temui wajah bingung Rana. Namun, ketika Rana tersenyum, aku merasa segala beban itu hilang. Cintaku selalu mengalahkan segalanya, selalu.

**

Rana Istriku mengalami kecelakaan menjelang hari pernikahan kami, mobil yang dikendarainya ditabrak oleh Truk. Rana mengalami benturan dasyat dikepalanya. Beberapa hari seusai kecelakaan itu, kondisi Rana membaik namun, ia selalu bertanya dan melupakan semua hal yang baru saja terjadi. Menurut dokter yang menangani kasusnya Rana terkena Anterograde amnesia dimana ia tidak bisa mengingat atau menyimpan kejadian-kejadian yang ia alami usai kecelakaan itu. Ia hanya bisa mengingat senua kejadian sebelum kecelakaan itu menimpanya. Hidupnya seperti tidak pernah maju, ia selelu bercerita tentang hal yan lalu. Beberapa bulan kemudian, setelah kondisi fisik Rana dinyatakan pulih kami melangsungkan pernikahan kami yang tertunda.

**
Aku menangis ketika mendapati Rana kerkulai lemah di sebuah klinik bersalin. Wajahnya pucat dan ia tampak sangat lemas. Rana menggugurkan anak kami ketika aku bekerja, tampaknya ia kaget mendapati perutnya yang membesar.

Semua salahku. Aku meninggalkannya bekerja sebelum ia terbangun dan tidak menceritakan lagi padanya apa yang telah ia dan aku alami. Ia tidak mengingat aku suaminya, ia tidak mengingat bayi yang dikandungnya adalah anak kami.