Kau Boleh Menangis, Nak


Menangislah Nak, Tak apa.

:Zinan E Nararya

Hidup ini nak, ialah serangkaian peristiwa yang tak hanya berisi tentang hal-hal menyenangkan, maka bila nanti kau berada di satu kondisi yang membuatmu bersedih dan ingin menangis, menangislah.

Juga tentang sebuah perjalanan panjang penuh liku, maka jika kelak kau tengah berada di jalan yang bagimu terjal, dan terasa melelahkan, berhentilah hingga hilang lelahmu.

Hidup juga tak selalu berakhir pada mimpi-mimpi yang bisa kau gapai meski kau telah setengah mati berusaha, jika nanti kau menemu kegagalan, dan bersedih karenanya, bersedihlah.

Juga tentang semua yang pernah kau miliki namun harus kau lepas pada akhirnya dan itu membuat kau merasa sakit, terimalah sebab tanganmu memang tak mampu mengegenggam segala.

Hidup ini penuh warna, nak.
Padu padankanlah hingga kau merasakan indahnya. Tak apa jika harus bersedih, menangis, gagal, kecewa dan terluka. Sebab akan ada suka, tawa, bahagia, keberhasilan, dan hal-hal menyenangkan di waktu lainnya.

Nak, aku tak pandai mengajarimu menjalani hidup untuk mendapat segala, tak pula mampu membuatmu memenangkan semua.

Sebab hidup ini nak, bukan tentang seberapa banyak hal yang mampu kau dapat, tetapi tentang bagaimana kau menjadikan yang kau miliki bermanfaat.

Bukan tentang pertarungan dan menjadi pemenang, melainkan bagaimana cara kamu bertahan tanpa harus mengorbankan orang lain.

Dalam hidup ini, aku hanya ingin kau mengerti, bahwa menerima dan mencintai diri sendiri adalah sebaik-baiknya menjalani hidup yang rumit ini.

Bagaimanapun perjalananmu nanti, percayalah kau akan baik-baik saja, dan doa ibu akan selalu ada.

Selamat ulang tahun kuucapkan sepenuh doa dan cinta, semoga aku dimampukan untuk selalu memelukmu di seluruh cuaca.

Jakarta,

September 2019

Iklan

Terima Kasih karena Kau pernah Hadir.


Terima Kasih karena Kau pernah Hadir.

Tidak ada kepergian yang tidak melukai, pun meski diri sendiri yang memutuskan pergi. Tidak ada yang pernah siap pada kehilangan, meski sudah jauh-jauh hari menyiapkan diri. Tidak pernah mudah usaha untuk melepaskan, meski tahu tak ada lagi yang bisa diperjuangkan.

Sebab semua tentang kita istimewa, tak ada perihal yang biasa-biasa saja, waktu-waktu bersamamu selalu menyenangkan, percakapan denganmu tak pernah membosankan. Kau; segala yang membuatku aman dan nyaman.

Meski pada akhirnya semua hanya menjadi bagian dari masa lalu yang panjang; aku tak menyesalinya.

Terima kasih untuk semua yang pernah ada, untuk pelukan-pelukan yang menghapus sedih, genggaman yang menenangkan, suka duka di setiap peristiwa, semua tawa pun air mata. Terima kasih, karena kau pernah hadir di antaranya.

Semoga kita tak memilih untuk saling melukai setelah tak lagi saling mengasihi. Tak saling membenci meski berhenti mencintai.

Terima kasih sudah menjadi bagian dari kisah yang menyenangkan dalam ingatan. Kau akan ada di sana; selamanya.

___
Untuk kursi kosong di hapadanku, semoga suatu ketika kelak kau mau mengisinya kembali. Kita bertukar cerita tentang kebahagiaan-kebahagian atau apa saja yang bisa membuat tertawa–meski tak lagi bersama.

Sampai memeluk kembali, aku pasti merindukanmu.

Dear Diriku, Maaf


𝐃𝐞𝐚𝐫 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐤𝐮,
Maafkan aku sering melupakan kesehatan, kebutuhan dan kebahagiaanmu dengan membuatmu sibuk memikirkan dan mencemaskan kehidupan orang lain.

Maafkan aku yang pernah mengajarimu berpura-pura dalam banyak hal, menimbun kebohongan demi kebohongan agar terlihat baik-baik saja dan bisa diterima, memintamu menjadi seorang lain hanya agar disukai lingkungan sekitar.

Maafkan aku yang pernah mengajakmu berjuang mempertahankan hubungan yang salah, meski sudah tahu dari awal namun tetap memaksakan diri dan berharap kenyataan akan berubah.

Maafkan aku sebab sering membuatmu menangis malam-malam, merasa kesepian, dan membenci diri sendiri.

Maaf sebab sering melukaimu dengan sengaja, sering menyalahkanmu tanpa sebab, sering tidak percaya pada dirimu, sering memaksakan apa yang tak sanggup kau lakukan.

Maaf saat kau berbuat baik aku lupa mengapresiasi, saat kau berhasil melakukan sesuatu aku tidak bersyukur, saat kau bisa melewati banyak rintangan aku tidak berterima kasih.

Maafkan aku untuk banyak hal yang bahkan aku lupa menyebutnya di sini, namun aku tahu kau terlukai karenanya. Aku yang pelupa ini sering kali tak sadar tengah menyakiti diri sendiri.

Maaf sudah berlaku tidak adil dan tidak manusiawi pada dirimu.

𝐃𝐞𝐚𝐫 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐤𝐮,
Bila suatu hari aku melakukan kesalahan yang sama, tolong maafkan. Sebab menanggung stigma bodoh dari diri sendiri itu menyakitkan. Bantu saja aku belajar memperbaiki pelan-pelan.

Bila suatu hari aku begitu keras kepala dan lagi-lagi membuatmu kelelahan, tolong maafkan. Sebab menanggung dendam pada diri sendiri itu rasanya menyesakkan. Biarkan aku belajar jatuh dan bangun tanpa perlu merasa diintimidasi diri sendiri.

𝐃𝐞𝐚𝐫 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐤𝐮,
Tolong ingatkan aku untuk lebih sering memeluk dan mendoakan dirimu.

𝐃𝐞𝐚𝐫 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐤𝐮,
Terima kasih sebab masih mampu bertahan sejauh ini.

Bila suatu hari kelak kau merasa kelelahan dan ingin menyerah, tolong katakan ini sesegera mungkin “Aku mencintaimu, tolong jangan menyerah setelah kita berjuang sejauh ini”

Peluk cium,
dariku; dirimu sendiri.

Aku ini Pendendam yang Baik


𝐀𝐤𝐮 𝐢𝐧𝐢 𝐏𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐝𝐚𝐦 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐁𝐚𝐢𝐤.

Ketika kau memilih pergi, aku tidak akan pernah menahan. Aku akan membiarkan kau melangkah sebagaimana yang kau mau.

Saat kau berkata bahwa kau tak lagi mencintai, perasaanmu padaku tak lagi seperti dulu, maka aku tak akan mempertanyakan. Aku akan membiarkan kau mengikuti kata hatimu.

Aku tidak mahir perihal membujuk dan memintamu untuk tetap tinggal. Aku tak pandai mengenakan wajah penuh kesedihan hingga membuat kau urung menyakiti.

Patah hati selalu membuatku berjuang mati-matian untuk menjadi lebih baik dalam banyak hal, bukan untuk membuat kau kembali, melainkan agar bisa tersenyum manis ketika kau berkata menyesal lalu menertawakan saat kau ingin kembali.

Aku ini pendendam yang baik, akan selalu mengingat jika aku pernah begitu mencintaimu namun kau sia-siakan.

Jangan tanyakan mengapa aku tak membiarkanmu memperbaiki semua, tetapi tanyakanlah mengapa dulu kau memilih pergi dan membiarkanku menyalakan api di dada kiri.

Aku ini pendendam yang baik, jangan berharap padaku perihal kesempatan, sebab rasa sakit selalu lebih lama bertahan.

Selamat menyesali, aku tengah bertepuk tangan untuk hal ini.

Jakarta,
25 Agustus 2019

Panggung


Sedang memerankan apa hari ini?

Sebelum akhirnya menyematkan kata “usai” aku mencoba memutar lagi semua adegan beberapa waktu ke belakang.

Ketika kau berbicara banyak hal denganku, itu bukan karena percakapan denganku begitu menyenangkan, kau hanya tengah berusaha melawan kesepianmu.

Ketika kau memeluk tubuhku, itu bukan karena kau ingin membuatku merasa aman, kau hanya sedang berusaha menenangkan diri sendiri selepas kehilangan.

Saat kau mengecup keningku, itu bukan karena kau mengasihiku, kau hanya tengah mengasihi diri sendiri.

Saat kau mengatakan rindu, itu bukan karena kau sungguh tengah rindu, kau hanya ingin melambungkan hatiku dan membuatku terjatuh.

Aku berpura-pura tak menyadari, kumainkan peranku dengan manis, kucintai kau sepenuh hati.
Kumainkan peranku dengan sungguh-sungguh, berharap suatu hari kau akan lupa bahwa tengah berpura-pura mencintaiku.

Aku hanyut pada peran yang kumainkan, peran yang aku tahu akan berakhir penuh kesedihan, peran yang akan membuatku menangis bermalam-malam, tapi aku tidak keberatan. Sebab tepuk tangan di akhir pementasan, membuatku kecanduan.

Sayangnya aku lupa, hatiku bukan puzzel yang bisa dirangkai kembali setelah dibuat berantakan berulang kali.
Dan pementasan, bisa juga diakhiri hanya dengan air mata, tanpa ada tepuk tangan di antaranya.

27 Juli 2019

Untuk apa Kamu Bertahan?


Untuk apa Kamu Bertahan?

Ketika sudah sadar kamu bukan prioritasnya,
kamu bukan yang dia cari,
kamu bukan yang dia inginkan,
kenapa masih saja menutup mata, telinga
dan hati, seolah tak tahu apa-apa.

Pesan-pesanmu tak lekas dibalas,
tak ada lagi waktu luang yang dihabiskan bersama,
tak ada kabar bahagia atau sedih yang ia bagi denganmu,
tak ada pertanyaan-pertanyaan tentang hari-harimu,
tak ada percakapan yang membuat lupa waktu,
Satu-satunya pertukaran kabar,
sebatas basa-basi sebab kalian masih “bersama”

Mengapa kau masih merasa seolah tak ada yang salah?
Mengapa kau masih menyakini bahwa semua baik-baik saja?
Mengapa kau masih berharap bahwa kau masih menjadi satu-satunya?

Apa baiknya jika hanya sebatas pura-pura dicintai?

Kau sudah kehilangan hatinya,
mengapa masih bersikeras menggenggam tangannya,
masih sekuat tenaga memeluk tubuhnya?

Tidak sakitkah?

Karena Kita Pernah Bahagia


𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐊𝐢𝐭𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐁𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚

Kita pernah merencanakan banyak hal bersama, tentang bagaimanna kelak menghabiskan hari tua.

Kau dan aku pernah membuat list tentang film apa yang akan kita tonton di akhir pekan, juga cerita-cerita yang mungkin kita kisahkan di antara dua cangkir teh yang tersaji di meja dan hujan turun rintik-rintik saat kita duduk di beranda.

Kau dan aku pernah merencanakan di mana kelak anak-anak akan bersekolah dan menebak-nebak jurusan apa yang kelak akan mereka ambil, juga tentang betapa groginya kita saat kelak seseorang mengetuk pintu dan meminta ijin mengajak anak-anak berkencan.

Kau dan aku pernah merencanakan bahagia dengan begitu semangatnya, hingga detail-detail kecil yang mungkin mengacaukan luput dari perhatian.

Hari ini, kau menyebar undangan pernikahan. Tak ada namaku di sana–meski hanya sebagai tamu.

Apa kau pikir aku tak mampu mengucap selamat untukmu?
kau pikir aku akan hancur saat mendengarkan lagu-lagu yang pernah aku dan kau buat listnya untuk hari bahagia kita ternyata pada akhirnya untuk kau dan dia?

Apa kau kira aku tak sanggup memeluk perempuanmu dan mengucap selamat untuk bahagianya?
kau kira aku akan kacau ketika melihat senyummu menyalami tamu-tamu?

Aku tidak serapuh itu.

Aku akan baik-baik saja, 𝐤𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐤𝐢𝐭𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐡 𝐛𝐚𝐡𝐚𝐠𝐢𝐚; akan kukenang itu saja. Mengapa tak kau berikan kesempatan untukku membuktikannya?

___
Jakarta 23 Agustus 2019