Kepada Raditya Nugi, yang Telah Jatuh pada Cinta yang Baik.


Kepada Raditya Nugi,

Barangkali benar pada usia kita ini, Gi, ingatan tak lagi bisa menampung banyak peristiwa dan sedikit demi sedikit kenangan masa muda pun menjadi samar, tatapi ada beberapa yang masih bisa kuingat dengan baik, salah satunya adalah kau dan sebuah lagu yang kau nyanyikan di Taman Ismail Marzuki—juga sebuah pertanyaan yang belum sempat aku ucapkan.

Tetapi tak apa, menyimpan pertanyaan itu hingga kini kurasa jawabannya tak akan pernah kadaluarsa. Seperti kata Avianti Armand bahwa peristiwa dan tafsir tak akan pernah berhenti memberikan jawab yang berbeda-beda pada pertanyaan. Maka untuk pertanyaan yang sama, kurasa jawaban itu akan terus berproses dan berubah dari waktu kewaktu bukan?

Katamu entah mengapa lebih mudah mengingat apa yang ingin kita lupakan, sementara begitu mudah melupakan apa yang ingin kita ingat; Kau benar Gi, kita terbiasa memilih hal-hal yang menyenangkan untuk diingat—namun pada akhirnya terlupa. Tetapi tubuh selalu memilih responnya sendiri terhadap suatu peristiwa.
Misalnya, aku lupa kapan terakhir kali makan nanas dan kenapa berhenti memakannya, tetapi kini setiap melihat nanas ada kesedihan yang luar bisa di dalam diriku—yang membuatku tidak tega memakannya. Ya, aku melupakan peristiwa yang membuatku tidak menyukai nanas, tetapi tubuh belum berhenti merespon atau melupakan peristiwa tersebut.

Membaca suratmu beberapa hari lalu, rasanya semakin menumbuhkan banyak pertanyaan yang tentunya tidak akan cukup dibahas dalam surat ini atau pun surat lain nantinya, sebab pada setiap jawaban aku yakin akan menumbuhkan pertanyaan baru—maka aku memilih untuk mempertanyakan beberapa hal saja.

Aku menulis surat ini sembari mendengarkan suaramu ketika menyanyikan lagu yang kau nyanyikan di Taman Ismail Marzuki;

Sebab ku telah tahu, aku telah jatuh pada cinta yang baik..
Aku telah tahu, aku telah jatuh pada sakit yang baik..

Cinta dan sakit yang baik itu seperti apakah Gi?

Apakah cinta yang baik itu seperti ketakutanmu ketika harus melewati masa pandemik ini?
“Apa yang bisa kita tinggalkan buat kehidupan?” ujarmu beberapa waktu lalu, kupikir kau ingin membuat sajak-sajak yang akan membuatmu dikenang seperti para penyair, atau menyanyikan lagu-lagu yang akan membuat kau diingat seperti penyanyi kenamaan, tetapi kau berkata bukan seperti itu yang kau mau. Katamu kau hanya ingin membuat sesuatu (tulisan atau lagu) yang membuat sesorang tahu bahwa pada suatu waktu ia pernah begitu dicintai olehmu.

Ataukah cinta yang baik, ialah keenggananmu menjadi sosok orang lain meski Tuhan memberi kesempatan dan mengijinkan, dan juga tidak memilih untuk tidak menjadi siapapun. Katamu kita nggak akan pernah sanggup untuk menjalankan hidup orang lain, pun sebaliknya sebab kita telah berada dalam cerita yang pas, konflik yang pas.

Kau tahu, jawabanmu itu menguatkanku, bahwa serumit apa pun jalan hidup ini, kita tengah berada pada jalur yang memang seharusnya kita lewati. Dan menjadi diri sendiri adalah penghargaan paling tinggi dalam mencintai diri.

Katamu akan lebih menyenangkan jika aku bisa menikmati senyum penjual es kelapa di sebuah jalan raya, atau pria yang duduk di Transjakarta sembari membaca Norwegian Wood, atau sepasang kekasih yang saling melepaskan di stastiun kereta, tetapi untuk saat ini kau tahu kan betapa sulitnya memukan atau menyaksikan peristiwa sederhana itu? Sebab sekarang ini, kurasa, menemukan hal-hal sederhana bukanlah sebuah perkara sederhana.

Jika sampai pada paragraf ini kau belum menemukan pertanyaan-pertanyaan yang aku berikan, maka biarkan saja jawaban yang ingin aku tahu itu tetap tersimpan dan memilih tafsirnya sendiri, hingga nanti di suatu waktu, barangkali kita bisa saling bertanya lebih banyak lagi.

Salam,
Susyillona

Pamit


Kali ini bukan kalimat rindu yang dia kirimkan, bukan pula pertanyaan tentang kabar atau cerita lucu untuk menarik perhatianku; yang terkadang kuabaikan, bahkan seringkali sengaja tak kubalas.

Kali ini ia mengirim pesan permintaan maaf “Maaf aku sudah gagal membuatmu mencintaiku, aku tak berhasil membuatmu percaya bahwa aku begitu mencintaimu, mungkin aku kurang berusaha, tapi rasanya teramat melelahkan. Maka, bolehkah aku menerima cinta seseorang lain? Seseorang yang pada akhirnya membuatku melihat dunia di luar dirimu” tulisnya.

Aku membaca ulang pesan itu, seketika terasa ada yang kosong di dadaku. Apakah seperti ini rasanya kehilangan?

Aku mulai membaca lagi pesan-pesan yang pernah ia kirimkan sebelum permintaan maaf itu; kalimat manis yang tak kudapat dari selainnya, ucapan-ucapan sederhana yang membuat hangat, pemberi semangat yang kuabaikan tapi dia tidak bosan mengucapkan. Dia tidak pernah bertanya jika aku baru merespon pesannya 2 atau 3 hari kemudian, dia juga tidak marah jika aku tak membalas pesannya sama sekali. Dia tetap saja sebagaimana yang dia ingin; mengirimkan pesan dan cinta setiap hari.

Dia tidak menyelipkan ucapan selain permintaan maaf itu, aku menunggu dan berharap ia mengirimkan pesan lain, tapi tak ada.

Tiba-tiba tanganku terasa bergetar, ingin sekali membalas pesannya dengan segera, tetapi aku tak tahu akan menuliskan apa. Maka kupecet tombol dial, mungkin jika mendengar suaranya akan sedikit membuat kepalaku terbuka. “Tut.. tut.. tut..” hanya nada itu yang dapat kudengar, bukan suaranya yang renyah yang membuat suasana seketika menjadi riuh. Aku mengulangnya beberapa kali, tetapi masih nada yang sama yang aku dengarkan. Sesakit ini kah rasanya ketika aku mengabaikan panggilan-panggilannya? Ah, mungkin tidak, karena dia tidak pernah mengeluhkan saat aku tak mengangkat teleponnya. Ku rasa aku yang terlalu berlebihan.

Tiga hari berlalu, tak ada pesan juga panggilan dari dirinya, tak ada kabar atau permintaan maaf sebab ia tidak mengangkat panggilan dariku.

Ahh sedang apakah dirinya sekarang?

Kubuka lagi pesan-pesan darinya, ada yang menyesak dan terasa sakit di dada membayangkan ia mengirimkan pesan-pesan manis ini kepada seseorang lain.

Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Merapikan Laci


Setelah sekian waktu, akhirnya aku memiliki keberanian untuk merapikan laci di meja kamarku.

Laci ketiga, kutemukan jarum dan benang, yang pernah aku gunakan untuk menjahit kemeja flanel warna biru. Menambal beberapa lubang kecil, agar tetap nyaman saat digunakan.

Juga sebuah jaket, hadiah untukku pada musim hujan beberapa waktu lalu.

Laci kedua, Kutemukan kertas-kertas yang entah kenapa terselip di tumpukan buku, note-note yang tertulis membuatku tersenyum saat membacanya.

Juga beberapa bungkus kopi, telah kedaluasa. Kopi yang belum sempat aku seduh .

Laci pertama, kutarik pelan napasku sembari menarik handle laci. Kupejamkan mata sesaat begitu laci terbuka, pelan kubuka kembali; kancing baju yang terlepas, bolpoint yang tak menyala, juga sebuah cangkir–telah retak di beberapa sisinya. Entah milik siapa.

Jakarta, 31 Maret 2020

Menjadi yang Kau Sesalkan


Menjadi yang Kau Sesalkan

Aku ingin kelak kau menemukan tulisan ini satu atau dua tahun lagi, saat aku telah menjadi seseorang yang tanpa sengaja kau rindukan, namaku muncul di kepalamu ketika kau merasa kesepian, tawaku terus terngiang di telingamu saat kau tengah bersedih dan tak ada yang menenangkan, bayangku muncul lagi dan lagi meski berulang kali kau berusaha menolak kehadirannya.

Lalu diam-diam kau mengunjungi laman sosial mediaku yang telah lama kau unfollow, kau lihat aku yang sekarang baik-baik saja dan bahagia. Kau semakin asik menyusuri timelineku, menemukan foto-foto kita yang tak pernah aku hapus, bermain-main di blogku dan membaca tulisan-tulisan tentangmu beberapa tahun yang lalu.

Akhirnya kau tahu betapa patahnya aku menghadapi kepergianmu, betapa sulitnya menyesuaikan kondisi tanpa ada lagi kehadiranmu, betapa aku terlalu mencintaimu, dan seberapa payahnya aku saat harus melupakanmu.

Sesuatu yang tajam seolah menusuk ulu hatimu saat kau menyadari tak ada yang secinta itu denganmu kecuali aku, dan kau satu-satunya orang jahat yang masih tetap kupuja dalam cerita-ceritaku. Lalu sesuatu yang berat seolah menghantam jantungmu berkali-kali, nyeri, sakit sekali ketika akhirnya kau menyadari aku sudah terlampau jauh dari rengkuh lenganmu.

Kau kembali pada tulisan-tulisan baruku, pada postingan-postingan yang baru saja kuunggah, luka-luka yang kau beri telah terkubur jauh. Kini hanya ada suka, hanya ada tawa, hanya hal-hal yang bahagia dan tak ada lagi kau di antaranya.

Dulu kau memilih menghapus kontakku, mengunfollow semua akun sosial mediaku, menganggapku adalah perihal yang tak lagi ingin kau tahu kabarnya, tapi kini kau merasa sakit saat menyadari kau ingin kembali , tapi sudah tak lagi punya nyali untuk mengatakannya.

Kau tahu benar arah jalan pulang, kau tak berani melangkah ke sana, sebab yang kau anggap rumah, telah menjadi tempat tinggal seseorang lain.

Setelah membaca ini kau menyadari, meninggalkan aku ialah satu-satunya kesalahan yang tak akan bisa kau maafkan sendiri.

Jakarta,
05 Nov 19

Kau Boleh Menangis, Nak


Menangislah Nak, Tak apa.

:Zinan E Nararya

Hidup ini nak, ialah serangkaian peristiwa yang tak hanya berisi tentang hal-hal menyenangkan, maka bila nanti kau berada di satu kondisi yang membuatmu bersedih dan ingin menangis, menangislah.

Juga tentang sebuah perjalanan panjang penuh liku, maka jika kelak kau tengah berada di jalan yang bagimu terjal, dan terasa melelahkan, berhentilah hingga hilang lelahmu.

Hidup juga tak selalu berakhir pada mimpi-mimpi yang bisa kau gapai meski kau telah setengah mati berusaha, jika nanti kau menemu kegagalan, dan bersedih karenanya, bersedihlah.

Juga tentang semua yang pernah kau miliki namun harus kau lepas pada akhirnya dan itu membuat kau merasa sakit, terimalah sebab tanganmu memang tak mampu mengegenggam segala.

Hidup ini penuh warna, nak.
Padu padankanlah hingga kau merasakan indahnya. Tak apa jika harus bersedih, menangis, gagal, kecewa dan terluka. Sebab akan ada suka, tawa, bahagia, keberhasilan, dan hal-hal menyenangkan di waktu lainnya.

Nak, aku tak pandai mengajarimu menjalani hidup untuk mendapat segala, tak pula mampu membuatmu memenangkan semua.

Sebab hidup ini nak, bukan tentang seberapa banyak hal yang mampu kau dapat, tetapi tentang bagaimana kau menjadikan yang kau miliki bermanfaat.

Bukan tentang pertarungan dan menjadi pemenang, melainkan bagaimana cara kamu bertahan tanpa harus mengorbankan orang lain.

Dalam hidup ini, aku hanya ingin kau mengerti, bahwa menerima dan mencintai diri sendiri adalah sebaik-baiknya menjalani hidup yang rumit ini.

Bagaimanapun perjalananmu nanti, percayalah kau akan baik-baik saja, dan doa ibu akan selalu ada.

Selamat ulang tahun kuucapkan sepenuh doa dan cinta, semoga aku dimampukan untuk selalu memelukmu di seluruh cuaca.

Jakarta,

September 2019

Terima Kasih karena Kau pernah Hadir.


Terima Kasih karena Kau pernah Hadir.

Tidak ada kepergian yang tidak melukai, pun meski diri sendiri yang memutuskan pergi. Tidak ada yang pernah siap pada kehilangan, meski sudah jauh-jauh hari menyiapkan diri. Tidak pernah mudah usaha untuk melepaskan, meski tahu tak ada lagi yang bisa diperjuangkan.

Sebab semua tentang kita istimewa, tak ada perihal yang biasa-biasa saja, waktu-waktu bersamamu selalu menyenangkan, percakapan denganmu tak pernah membosankan. Kau; segala yang membuatku aman dan nyaman.

Meski pada akhirnya semua hanya menjadi bagian dari masa lalu yang panjang; aku tak menyesalinya.

Terima kasih untuk semua yang pernah ada, untuk pelukan-pelukan yang menghapus sedih, genggaman yang menenangkan, suka duka di setiap peristiwa, semua tawa pun air mata. Terima kasih, karena kau pernah hadir di antaranya.

Semoga kita tak memilih untuk saling melukai setelah tak lagi saling mengasihi. Tak saling membenci meski berhenti mencintai.

Terima kasih sudah menjadi bagian dari kisah yang menyenangkan dalam ingatan. Kau akan ada di sana; selamanya.

___
Untuk kursi kosong di hapadanku, semoga suatu ketika kelak kau mau mengisinya kembali. Kita bertukar cerita tentang kebahagiaan-kebahagian atau apa saja yang bisa membuat tertawa–meski tak lagi bersama.

Sampai memeluk kembali, aku pasti merindukanmu.

Dear Diriku, Maaf


𝐃𝐞𝐚𝐫 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐤𝐮,
Maafkan aku sering melupakan kesehatan, kebutuhan dan kebahagiaanmu dengan membuatmu sibuk memikirkan dan mencemaskan kehidupan orang lain.

Maafkan aku yang pernah mengajarimu berpura-pura dalam banyak hal, menimbun kebohongan demi kebohongan agar terlihat baik-baik saja dan bisa diterima, memintamu menjadi seorang lain hanya agar disukai lingkungan sekitar.

Maafkan aku yang pernah mengajakmu berjuang mempertahankan hubungan yang salah, meski sudah tahu dari awal namun tetap memaksakan diri dan berharap kenyataan akan berubah.

Maafkan aku sebab sering membuatmu menangis malam-malam, merasa kesepian, dan membenci diri sendiri.

Maaf sebab sering melukaimu dengan sengaja, sering menyalahkanmu tanpa sebab, sering tidak percaya pada dirimu, sering memaksakan apa yang tak sanggup kau lakukan.

Maaf saat kau berbuat baik aku lupa mengapresiasi, saat kau berhasil melakukan sesuatu aku tidak bersyukur, saat kau bisa melewati banyak rintangan aku tidak berterima kasih.

Maafkan aku untuk banyak hal yang bahkan aku lupa menyebutnya di sini, namun aku tahu kau terlukai karenanya. Aku yang pelupa ini sering kali tak sadar tengah menyakiti diri sendiri.

Maaf sudah berlaku tidak adil dan tidak manusiawi pada dirimu.

𝐃𝐞𝐚𝐫 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐤𝐮,
Bila suatu hari aku melakukan kesalahan yang sama, tolong maafkan. Sebab menanggung stigma bodoh dari diri sendiri itu menyakitkan. Bantu saja aku belajar memperbaiki pelan-pelan.

Bila suatu hari aku begitu keras kepala dan lagi-lagi membuatmu kelelahan, tolong maafkan. Sebab menanggung dendam pada diri sendiri itu rasanya menyesakkan. Biarkan aku belajar jatuh dan bangun tanpa perlu merasa diintimidasi diri sendiri.

𝐃𝐞𝐚𝐫 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐤𝐮,
Tolong ingatkan aku untuk lebih sering memeluk dan mendoakan dirimu.

𝐃𝐞𝐚𝐫 𝐝𝐢𝐫𝐢𝐤𝐮,
Terima kasih sebab masih mampu bertahan sejauh ini.

Bila suatu hari kelak kau merasa kelelahan dan ingin menyerah, tolong katakan ini sesegera mungkin “Aku mencintaimu, tolong jangan menyerah setelah kita berjuang sejauh ini”

Peluk cium,
dariku; dirimu sendiri.

Aku ini Pendendam yang Baik


𝐀𝐤𝐮 𝐢𝐧𝐢 𝐏𝐞𝐧𝐝𝐞𝐧𝐝𝐚𝐦 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐁𝐚𝐢𝐤.

Ketika kau memilih pergi, aku tidak akan pernah menahan. Aku akan membiarkan kau melangkah sebagaimana yang kau mau.

Saat kau berkata bahwa kau tak lagi mencintai, perasaanmu padaku tak lagi seperti dulu, maka aku tak akan mempertanyakan. Aku akan membiarkan kau mengikuti kata hatimu.

Aku tidak mahir perihal membujuk dan memintamu untuk tetap tinggal. Aku tak pandai mengenakan wajah penuh kesedihan hingga membuat kau urung menyakiti.

Patah hati selalu membuatku berjuang mati-matian untuk menjadi lebih baik dalam banyak hal, bukan untuk membuat kau kembali, melainkan agar bisa tersenyum manis ketika kau berkata menyesal lalu menertawakan saat kau ingin kembali.

Aku ini pendendam yang baik, akan selalu mengingat jika aku pernah begitu mencintaimu namun kau sia-siakan.

Jangan tanyakan mengapa aku tak membiarkanmu memperbaiki semua, tetapi tanyakanlah mengapa dulu kau memilih pergi dan membiarkanku menyalakan api di dada kiri.

Aku ini pendendam yang baik, jangan berharap padaku perihal kesempatan, sebab rasa sakit selalu lebih lama bertahan.

Selamat menyesali, aku tengah bertepuk tangan untuk hal ini.

Jakarta,
25 Agustus 2019

Panggung


Sedang memerankan apa hari ini?

Sebelum akhirnya menyematkan kata “usai” aku mencoba memutar lagi semua adegan beberapa waktu ke belakang.

Ketika kau berbicara banyak hal denganku, itu bukan karena percakapan denganku begitu menyenangkan, kau hanya tengah berusaha melawan kesepianmu.

Ketika kau memeluk tubuhku, itu bukan karena kau ingin membuatku merasa aman, kau hanya sedang berusaha menenangkan diri sendiri selepas kehilangan.

Saat kau mengecup keningku, itu bukan karena kau mengasihiku, kau hanya tengah mengasihi diri sendiri.

Saat kau mengatakan rindu, itu bukan karena kau sungguh tengah rindu, kau hanya ingin melambungkan hatiku dan membuatku terjatuh.

Aku berpura-pura tak menyadari, kumainkan peranku dengan manis, kucintai kau sepenuh hati.
Kumainkan peranku dengan sungguh-sungguh, berharap suatu hari kau akan lupa bahwa tengah berpura-pura mencintaiku.

Aku hanyut pada peran yang kumainkan, peran yang aku tahu akan berakhir penuh kesedihan, peran yang akan membuatku menangis bermalam-malam, tapi aku tidak keberatan. Sebab tepuk tangan di akhir pementasan, membuatku kecanduan.

Sayangnya aku lupa, hatiku bukan puzzel yang bisa dirangkai kembali setelah dibuat berantakan berulang kali.
Dan pementasan, bisa juga diakhiri hanya dengan air mata, tanpa ada tepuk tangan di antaranya.

27 Juli 2019

Untuk apa Kamu Bertahan?


Untuk apa Kamu Bertahan?

Ketika sudah sadar kamu bukan prioritasnya,
kamu bukan yang dia cari,
kamu bukan yang dia inginkan,
kenapa masih saja menutup mata, telinga
dan hati, seolah tak tahu apa-apa.

Pesan-pesanmu tak lekas dibalas,
tak ada lagi waktu luang yang dihabiskan bersama,
tak ada kabar bahagia atau sedih yang ia bagi denganmu,
tak ada pertanyaan-pertanyaan tentang hari-harimu,
tak ada percakapan yang membuat lupa waktu,
Satu-satunya pertukaran kabar,
sebatas basa-basi sebab kalian masih “bersama”

Mengapa kau masih merasa seolah tak ada yang salah?
Mengapa kau masih menyakini bahwa semua baik-baik saja?
Mengapa kau masih berharap bahwa kau masih menjadi satu-satunya?

Apa baiknya jika hanya sebatas pura-pura dicintai?

Kau sudah kehilangan hatinya,
mengapa masih bersikeras menggenggam tangannya,
masih sekuat tenaga memeluk tubuhnya?

Tidak sakitkah?