Aku Selalu Ingin Menulis Tentang Kamu


Meski kau berhenti;
Bertanya tentang kabarku
Berbincang puisi denganku
Menyebut kita untuk kau dan aku

Meski kau berhenti;
Membaca sajak-sajakku

Jakarta, 23 Maret 2016
#MaretMenulis

Kamu Buku yang Kubaca


Aku suka membayangkan kamu adalah sebuah buku
Setiap kali membacamu selalu kudapati hal baru, selalu ada tanda tanya dalam dadaku.

Aku suka membayangkan kamu adalah sebuah buku
Aku harus meluangkan waktu untuk bisa memahamimu, aku harus belajar berpikir tentang apa yang tertulis pada tiap halamanmu

Aku suka membayangkan kamu adalah sebuah buku yang tak pernah selesai aku baca meski dengan seluruh usia;
Sebab selalu ingin kupahami kamu sebagai rahasia yang ditulis Tuhan pada lembar-lembar takdirku.
Sebab kamulah buku yang diseluruh halamannya tak pernah kutemukan huruf-huruf yang merangkai namaku.

 

10 Maret 2016
#MaretMenulis Hari ke-10

Dan ijinkan aku terus membacamu, meski tak pernah ada kisah yang menuliskan tentang aku.

Ini Kali Pertama


Ini kali pertama kau tak menjadi orang pertama yang mengucap selamat
Menjadi seorang yang tidak bertanya
tentang apa yang kuharap.

Ini kali pertama kau melupa tentang aku
Setelah bertahun-tahun ada untukku
Meski sering kali, aku melupakanmu.

Ini kali pertama aku merasa kehilangan
merasa merindukan, merasa memiliki saat kau menjauh pergi
Lelahkah menjadi payung?
Lelahkah menunggu hujan reda?

Semoga kau hanya melupa, bukan lupa
Sebab, aku masih selalu ingin menjadi seorang yang kau jaga, meski hanya di dalam doa.

-dalam ingatanku, kau akan selalu menjadi payung yang tak akan pernah ku lipat-

_________________________
09 Maret 2016
Aku yang merasa ganjil saat kau berbeda
#MaretMenulis Hari ke-9

Rinai Hujan – Tiga


TIGA

“Tegar..” massage received

“Ya..” massage send

Bukan karena aku tidak kreatif untuk membalas pesannya, namun karena aku tidak tahu hendak menulis apa lagi. Karena memang tidak mudah untuk pura-pura biasa saja saat bercakap dengannya, meskipun hanya lewat chat seperti itu. Entahlah.

“Tadi, aku nangis.. Ternyata beberapa tahun berlalu aku masih tetap sama cengengnya yah. Dan entah kenapa, setiap kali menangis aku hanya ingin bicara denganmu” massage received

Tuhan, seharusnya tidak ada lagi air matanya yang jatuh andai saja aku berani memutuskan untuk ada bersamanya mendampinginya melewati masa-masa sulit dalam hidupnya kini. Andai saja aku punya keberanian itu Rinai.

“Kenapa nangis?” massage send

Beberapa detik kemudian setelah pesan itu terkirim, aku mengutuk diriku sendiri. Bagaimana mungkin pertanyaan bodoh macam itu yang aku kirimkan. Bagaimana mungkin aku masih bertanya tentang hal yang aku sepenuhnya mengetahui itu. Bodoh. Aku memang selalu menjadi lelaki bodoh saat berhadapan denganmu Nai. Selalu.

Sembilan puluh menit berlalu, belum juga kuterima balasan pesan dari Rinai. Ah, jangan-jangan pertanyaanku tadi membuatnya menangis kembali. Aku mulai tidak tenang, tidak seperti biasanya Riani diam atas pertanyaanku, ah bahkan tanpa pertanyaanpun Rinai lebih sering bercerita, dia suka sekali menyampaikan sendiri pertanyaan pada dirinya sendiri –pertanyaan yang sebenarnya sungguh ingin aku tanyakan, namun tidak berani– dan ia menjawabnya sendiri.
Dia suka sekali bercerita dengan panjang meski aku hanya membalasnya dengan pesan yang teramat singkat. Lalu kenapa sekarang dia malah diam atas pertanyaanku? Pertanyaan yang bisa ia balas dengan puluhan bahkan ratusan pesan.

seratus delapan puluh menit berlalu, jarum jam menunjukkan pukul 02.15 dan Rinai belum juga membalas pesanku. Pesan yang begitu aku tunggu. Bukan karena aku ingin tahu apa jawabannya karena sesungguhnya aku telah tahu alasan yang membuatnya menangis. Aku lebih dari sekedar tahu. Sebab aku bisa merasakan semua itu dari tatapan mata Nai tiap pagi saat dia berangkat ke kantor. Ya, semenjak hari di mana lelakinya meninggalkan Nai, setiap pagi sebelum ke kantor aku selalu menyempatkan diri menunggu Nai keluar rumah dan melihatnya berangkat bekerja –tanpa Nai tahu ataupun melihatku disana– aku hanya ingin memastikan bahwa ia baik-baik saja. Seperti kali ini pesan yang aku tunggu terlebih karena aku ingin memastikah bahwa Ia tetap baik-baik saja.

“Kamu baik-baik saja kan?” massage not send

“Maaf jika pertanyaanku membuatmu kurang nyaman. Kamu tak harus membalasnya. Tak harus. Aku memang tak seharusnya menanyakan hal itu Nai, hal yang membuatmu kembali mengingat apa yang tak kau inginkan. Maafkan aku” massage not send.

“Nai… ” massage not send.

Dan puluhan draft lainnya yang sudah ku tulis namun gagal aku kirimkan padanya. Ah, bahkan untuk sebuah pesan pun aku tak mampu menunjukkan betapa aku terlalu peduli padanya. Tak mampu. Apalagi untuk mengungkapkan betapa perasaan ini tidak pernah berubah meski harapan dan impian-impianku pernah ia patahkan.

Dua ratus empat puluh menit berlalu, pukul 03.15 sebuah pesan masuk di hanphone-ku. Dari Nai. Tentu saja.

“Tegar, maaf aku baru membalas pesanmu, aku berpikir cukup lama hanya untuk bisa menemukan jawaban “kenapa aku menangis?” dan hingga aku menulis pesan ini pun aku tetap tak menemukan jawaban itu. Aku tak tahu, mengapa aku bisa menangis, lalu aku mulai menerka-nerka, ketika seseorang jatuh cinta kadang tak memerlukan alasan mengapa bisa jatuh cinta, lalu apakah untuk bersedih harus punya alasan?”
Aku menghela nafas panjang membaca pesan Nai. Syukurlah kalau dia baik-baik saja. Bongkahan sesak batu dalam dada perlahan mencair mengatahui Nai tetap baik-baik saja. “Aku jadi teringat tentang dulu, di mana aku sering mengadu dan menangis padamu tiap kali aku patah hati. Aku yang selalu kau peluk dan kau tenangkan. Ah, betapa memang tiada rumah yang lebih nyaman selain pelukanmu saat itu.” massage received

Masa-masa remaja, masa-masa aku masih begitu dekat dengan Nai, umur kami masih belasan. Masih berseragam putih abu-abu. Aku masihlah teman terbaiknya tempat Nai menangis saat putus cinta, tempat Nai memeluk kegirangan saat jadian dengan seseorang yang ia taksir, tempat Nai mengatakan kepada orang tuanya akan pergi keluar denganku, padahal dia pergi dengan kekasihnya. Tempat segalanya bagi Nai. Hingga aku menyadari bahwa ada yang lain dengan perasaanku saat Nai kembali menangis, ada perasaan tak rela ketika mendapati Nai bercerita ia jatuh cinta, perasaan yang baru aku sadari saat usiaku 20 tahun.

Perasaan yang membawa kehancuran hatiku. Tepat satu minggu sebelum Nai berulang tahung yang ke 20 aku akan mengucapakan perasaan itu, agar ketika hari ulang tahunnya nanti aku bisa memeluknya lebih erat dari pelukan menenangkan, membisikkan sesuatu yang lain dari “kau akan baik-baik saja Nai” atau ” aah.. Lelaki mana yang tidak akan jatuh hati padamu, Nai” lebih dari dua kalimat yang selalu aku ucapkan saat memeluknya. Aku hanya ingin mengucapkan “Aku mencintaimu, Nai. Teramat mencintaimu. Semoga untuk usia yang sekarang dan seterusnya, aku akan menjadi bagian dari kebahagiaanmu” namun semua gagal, rencana itu tidak pernah terwujud sebab hari itu, satu minggu sebelum dia berulang tahun, Nai mengaku jatuh cinta pada lelakinya, sahabatku. Itulah hari dimana aku mulai membenci hujan.

Dan aku mulai kehilangan kalimat untuk membalas pesan Nai. Aku bingung mau menuliskan apa.

“Berhentilah bersedih, Rinai.” massage send

………..Bersambung

#MaretMenulis hari-ke 5

Rinai Hujan – Dua


DUA

Dengan kaos biru lengan panjang dan celana jeans Rinai terlihat cantik. Sangat cantik. seperti biasa malam itu aku berkunjung ke rumahnya, untuk bercerita, bercanda bermain teka-teki, apa saja. Aku sering berkunjung ke rumah Rinai, mengenal baik keluarganya. Seperti malam-malam sebelumnya aku menghabiskan sabtu malam bersama Rinai di Rumahnya.

Di Ruang tamu kami duduk disebuah sofa panjang, berdekatan. setelah banyak bercerita dan bercanda, seperti yang aku telah rencanakan bahwa malam itu aku ingin mengungkapkan perasaanku padanya. Aku ingin dia tahu bahwa aku mencintainya. Begitu mencintainya.

“Nai, aku ingin mengatakan sesuatu” ucapku sambil mencoba tidak gugup. Namun mungkin saat mengucapkan itu  aku nampak begitu bodoh, atau nampak begitu aneh.

“Aku juga ingin bicara sesuatu sama kamu Tegar, ini penting sangat penting. Sebenarnya aku ingin membuat kejutan ini buatmu tepat di hari ulang tahunku minggu depan. Namun rasanya aku sudah tidak sanggup menahan rahasia ini denganmu terlalu lama” ucap Rinai dengan mata yang berbinar.

Aku semakin gugup, menerka apakah yang ingin Rinai katakan adalah hal yang sama dengan apa yang ingin aku katakan padanya, ah semoga Rinai memang akan berkata bahwa dia men….

“Aku jatuh cinta dengannya, Tegar.  Lelaki yang kau kenalkan padaku 5 bulan lalu. Semenjak perkenalan itu kami sering berkomunikasi dan aku merasa cocok dengannya. Dia telah mengatakan bahwa dia mencintaiku, dan aku, aku sangat mencintainya, Tegar”  mata Rinai semakin berbinar megucapkan itu.

Namun binar matanya itu telah menghancurkan seluruh harapanku. Menghancurkan semua kalimat yang telah aku susun indah sebelum aku berangkat ke rumahnya.

“Kau senang kan Tegar, mendengar ceritaku ini, kau senangkan jika Rinai-mu ini berhenti menurunkan hujan dari matanya? Kelak akan ada anak-anak pelangi dari mataku ini. Pelangi yang indah. Kau percaya kan, Tegar?” Rinai menatap mataku tajam, seolah memintaku untuk melihat bahwa kelak akan ada pelangi di matanya.

Ku peluk tubuh mungilnya dan berbisik “setelah hujan reda, akan ada pelangi indah”.

Rinai melepaskan pelukanku dan berkata “kau sungguh sahabat terbaikku, Tegar. Dalam hidupku, aku yakin tak akan ada sahabat yang lebih baik darimu.”

“Tadi kamu bilang mau cerita sesuatu, ayo katakanlah. Apa kau juga sedang jatuh cinta sepertiku” ucap Rinai sembari tertawa.

“Bukan, bukan sesuatu yang penting. Ah, bahkan aku telah lupa mau bicara apa tadi.” aku memang telah lupa apa yang ingin aku katakan padamu Nai, namun aku masih mengingat bahwa aku baru saja patah hati.

Ternyata memang sulit menahan rasa hancur, meski ketika Rinai bercerita aku masih mencoba untuk tersenyum. Mencoba seolah aku turut berbahagia, namun aku tidak mampu berlama-lama tersenyum dalam kehancuran hatiku dan aku memutuskan pulang meski saat itu jarum jam masih menunjukkan pukul 20.15.

Keluar dari pekarangan rumah Rinai, hujan turun dengan deras. Sepeda motor yang ku kendarai entah sedang menuju kemana, pikiranku kalut, harapanku sirna sudah, kesempatan itu tidak pernah ada untukku. Tidak pernah.

Sejak malam itu aku memutuskan membenci hujan, aku tidak mau lagi kuyup di bawahnya, tidak mau.

…..Bersambung

Rinai Hujan  #MaretMenulis hari ke-4

Rinai Hujan


SATU

Malam kesekian, dan bayangan tentangnya belum juga bisa aku hapuskan. Jika saja aku punya alasan untuk membencinya, mungkin aku tak akan sesulit ini melupakannya. Andai saja aku punya alasan pergi darinya, mungkin meninggalkannya akan menjadi lebih ringan. Sayangnya aku terjebak dalam perasaanku sendiri, terjebak pada hal yang memberatkan langkahku untuk pergi.

Wanita itu bernama Rinai, aku mengenalnya sejak usianya masih belasan tahun, saat dia masih di bangku SMP. Manginjak bangku SMA kami menjadi teman dekat, teramat dekat meski kami tidak berada pada satu sekolah yang sama. Rinai adalah wanita yang menyenangkan saat diajak ngobrol dan berdiskusi, aku suka bermain teka-teki silang, nonton film atau hanya sekedar ngobrol santai di rumahnya.

Hingga suatu hari aku menyadari ada yang salah dengan perasaanku, ada yang ganjil saat menatapnya, ada yang berdetak lebih kencang saat berbincang dengannya. Ada yang lain, yang tak berani kusebut sebagai cinta. Percakapan sederhana, pertemuan-pertemuan singkat dan tawanya yang menyenangkan membuatku selalu ingin mengulangnya lagi dengan lebih lama. Sayangnya apa yang aku inginkan sepenuhnya hanya berada dalam pikiranku saja, tak pernah sekalipun terucap untuk menahan kepergiannya.

Malam semakin sepi, gemerisik daun daun kering di halaman yang tertiup angin semakin jelas terdengar, bahkan aku mulai dapat mendengar detak jantungku sendiri dan merasakan detaknya semakin kencang setiap kali kusebut namanya. Enam puluh menit berlalu, aku masih terpaku menatap halaman.

Ku ambil kembali handphone yang dengan sengaja ku letakkan enam puluh menit yang lalu saat pesan darinya masuk. Hanya satu kata, dan seperti semua pesan yang ia tujukan kepadaku, selalu ia mulai dengan satu kata sederhana; namaku. Dia selalu hanya menuliskan namaku pada setiap pesannya, ketika aku membalasnya barulah ia menceritakan apa yang ingin ia ceritakan, atau pesan tersebut berlalu begitu saja ketika aku tak memiliki keberanian untuk menjawabnya, meski hanya sekedar menuliskan kata “ya” atau sebuah emoticon smile sederhana.

Ku buka kembali pesan darinya ku baca kembali meskipun sesungguhnya aku telah hafal, bagaimana tidak hafal dengan nama sendiri. Namun bukan itu sebenarnya tujuanku, aku membaca pesannya yang hanya ada namaku, namun banyak hal lain tak tersirat yang ia sampaikan.

Delapan tahun yang lalu, aku menemukan diriku tidak lagi hidup, saat Rinai akhirnya menikah. Dengan Sahabatku.
Delapan tahun berlalu, aku masih selalu menyimpan perasaan itu. Dan kini Rinai, menjatuhkan ribuan hujan dalam kehidupannya dalam hidupku. Perceraian.

***

Bip” ponselku berdering sekali, tanda sebuah pesan masuk. Aku segera membukanya, sebuah massage dari Rinai.
Sudah hampir dua tahun aku dan dia tidak saling berkirim pesan maupun bertanya kabar. Enam tahun semenjak pernikahan Rinai, aku masih mencoba bertahan, berbahagia dengan kebahagiaan Rinai, masih sering berkirim pesan maupun telepon dengan Rinai dan lelakinya. Namun dua tahun terakhir aku mencobaa menghindar, menjaga jarak, menjauh dari Rinai. Agar aku bisa menghapus sisa-sisa perasaanku yang pernah tumbuh lebat untuknya. Bukan tanpa alasan, karena setiap kali aku mencoba menjalin hubungan dengan wanita lain, yang terbayang di kepalaku hanya Rinai, berulang kali mencoba mencintai wanita lain dan aku selalu gagal karena masih terus berharap bahwa wanita itu memiliki lesung pipit seperti Rinai, tatapan mata yang tajam, bibir yang penuh dengan senyum dan tawa, kata-kata yang menenangkan, ketegaran yang luar biasa, kecerdasan yang selalu bisa diajak berdiskusi tentang apapun, pengertiannya, hobby bacanya, kemampuannya menuliskan saja-sajak pendek yang aku sukai, rambut hitam legamnya, tubuhnya yang kecil namun selalu nyaman untuk melingkarkan pelukan. Dan tak pernah kutemui wanita seperti itu selain Rinai.

Sore itu, Rinai menghubungi dengan sebuah pesan pendek “Tegar” ya selalu seperti itu dia memulai percakapan. Mengingatkanku pada hari-hari dimasa lalu saat aku masih begitu berharap dia mengerti perasaanku. Tapi kini telah berbeda, aku telah berhasil menjauh -meski perasaanku tidak pernah pergi-

“Ya”. Begitu aku menjawabnya. Singkat. Iya begitu singkat. Karena semenjak aku memutuskan pergi -tetapi bukan hatiku yang pergi- aku berusaha sedikit mungkin bercakap dengannya, agar tak semakin banyak rasa sesak di dalam dada saat mengubur harapan-harapan itu.

“Tidak, apa-apa. Hanya ingin menyapa saja. Sepertinya memang sudah terlalu lama aku melupakanmu. Berdiam dalam hidupku sendiri”

Tolong katakan padaku, apa yang harus aku jawab dari pesan Rinai itu? Haruskah aku membalasnya “iya, kamu terlalu lama menghilang, membiarkan aku sendiri, membiarkan rindu tumbuh lebat di dadaku, membiarkan malam-malam semakin panjang dalam hariku, menjadikanku seorang yang paling sibuk se dunia yang selalu mencari-cari alasan untuk dapat melupakanmu” haruskah seperti itu? Sayangnya tidak.

” ☺ ” hanya itu yang aku tuliskan untuk mebalas pesannya.

“Kamu sedang sibuk? Boleh aku mengganggumu? Tak usah dijawab pertanyaan ini. Tak perduli kau membolehkanku mengganggu atau tidak, aku akan tetap mengganggumu. Karena cuma kamu yang selalu bisa aku ganggu, cuma kamu yang selalu ada saat aku rindu. Tegar, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan, banyak. Lebih banyak dari cerita-cerita bertahun-tahun lalu. Lebih banyak dari seluruh yang pernah kau tahu tentang aku. Ah, aku salah kau selalu tahu lebih banyak dari diriku sendiri. ” pesan panjang itu yang masuk ke ponselku berikutnya.

“Aku tahu” massage send

“Aku bahkan tidak tahu ingin memulainya dari mana, apa saja yang ingin aku ceritakan, rasanya semua menjadi begitu sulit untuk aku katakan. Aku tahu, kau pasti telah mendengar ceritaku ini dari orang lain, namun sebanyak apapun yang telah kau dengar dari orang lain, tetap mereka tak akan bisa menceritakan apa yang aku alami, apa yang aku rasakan.” massage received

“Ya, aku telah mendengar cerita itu aku telah mengetahui banyak hal, namun aku tetap tidak mengetahui semuanya. Apupun yang ingin kau dan orang lain kisahkan, aku tidak perduli, aku tidak ingin tahu, yang aku ingini adalah berada disisimu dan membuatmu kembali tertawa. Melihatmu tertawa membuatku seolah memiliki separuh isi dunia, separuhnya lagi ada di matamu. Nai, sedalam apapun ia melukaimu, kau tetap saja tak pantas menangis, tak pantas bersedih.” massage not send

“Kamu pasti kuat” massage send

“Hahha, kamu selalu begitu, selalu saja yakin bahwa aku pasti bisa melewati semuanya dengan baik-baik saja. Meski diriku sendiri tidak seyakin itu. Bahkan saat ini, saat aku merasa sedang tidak baik-baik saja, bahwa perasaanku seolah seperti sedang terjun bebas dan entah akan jatuh dimana, kau tetap saja percaya aku akan kuat.
Kau melupakan satu hal, Tegar. Aku bukan karang yang selalu kuat diterpa ombak, bukan. Aku Rinai, yang akan jatuh tak lama setelah gemuruh terdengar.” massage received

Aku menghela nafas panjang saat membacanya. Rinai, kenapa harus seperti ini.

“Nai, tak perduli seberat dan sesulit apapun jalan yang kau lewati, aku percaya kau tak akan pernah terjatuh. Ada aku yang akan selalu menjagamu, melindungimu dimanapun. Nay, jika saja kau mengijinkan, akan ku hancurkan mereka semua yang berani menjatuhkan air dari matamu.” massage not send

“Semua akan baik-baik saja” massage send

“Iya, kau benar. Semua akan baik-baik saja. Terima kasih karena lagi-lagi kau telah menguatkan aku” massage received

Pesan terakhir sore itu, dan aku tak lagi membalasnya.

Beberapa bulan yang lalu aku mendengar kisah itu, gemuruh yang hendak Rinai ceritakan padaku. Sahabatku, lelakinya, pergi meninggalkan Rinai dan putri kecilnya Pelangi. Lelaki itu memilih wanita lain. Tak banyak cerita yang aku dengar dari bisik-bisik temanku lainnya. Hanya sekilas tentang Rinai yang ditinggalkan, namun telah cukup bagiku untuk merasakan rasa sakitnya hati Rinai, hancurnya dia dan satu hal yang aku selalu yakini tentang Rinai, sehancur apapun perasaannya dia selalu mampu bangkit lebih awal dari yang aku mampu perkirakan. Dia wanita paling tangguh dan tegar, wanita pintar. Karena itulah dulu–dulu sekali– aku jatuh hati padanya. Sayangnya dia memilih sahabatku, teman baikku. Dan bodohnya aku hanya diam, menerima kekalahanku. Sederhananya aku mengubur harapan dan perasaanku sebelum Rinai dan atau siapapun mengetahuinya. Dan kini aku mengutuk kebodohan itu.

…….bersambung
Rinai Hujan
#MaretMenulis hari ke-3

Buku yang Kau Miliki


Seperti buku, aku tak bisa memaksa seorang menyelesaikan membacanya.

Kamu telah memilikinya, membuka beberapa halaman pertama dan tertawa, namun kemudian meletakkan begitu saja saat sebuah halaman memuat kalimat yang tak kau suka.

Biarlah perihal aku tetap menjadi rahasia bagimu, rahasia yang kau abaikan atau akan kau perjuangkan untuk dimengerti. Pun tak apa bila pada akhirnya hanya menjadi sesuatu yang terlupa. Sebab buku yang kau miliki mungkin akan kamu sukai atau hanya kau letakkan dalam almari, mungkin akan kau baca sampai akhir dan mengulangnya kembali atau tak pernah kau selesaikan sama sekali. Namun setidaknya kau tahu, di mana harus mencari saat ingin membacanya kembali.

#MaretMenulis
Jakarta, 01 Maret 2016