Aku Tahu Jawabnya


 

Pesan itu sudah sampai di emailku sejak satu minggu yang lalu, tapi aku baru memiliki jawaban atas pertanyaannya yang sebenarnya sungguh sangat sederhana.

Aku menghela napas panjang berkali-kali sebelum akhirnya mengetik jawaban dan mengirimkan pesan itu kepada seseorang di seberang sana. Sebab aku tidak pernah ingin menasehati dan atau memberi jawaban bila aku sendiri belum dan atau tidak sanggup melakukannya.

Aku bukan konselor pernikahan, bukan pula konsultan, psikolog dan atau lainnya, aku hanyalah seseorang yang entah karena apa begitu sering mendapat curahan hati seseorang tentang pertanyaan-pertanyaan yang seringkali sudah pernah aku lalui.

Tidak pernah ada pengorbanan dalam cinta, sebab mencintai hanyalah perihal memberi, memberi, memberi dan memberi meski kau sudah tidak lagi memiliki apapun.

Cinta tidak pernah menyakiti pun membuat kau merasa sakit, maka bila kau merasa demikian, ada yang perlu kembali kau pertanyaan pada dirimu sendiri. “Apakah itu cinta?

Cinta ialah selalu perihal baik; memberi yang terbaik, melakukan yang terbaik. Bila dia yang kau cintai menduakanmu atau menjadikan kau yang kedua dan itu membuat kau merasa sakit, dan itu membuat kau merasa sedih, dan itu membuat kau bertanya-tanya apakah kau harus menunggu dan menerima lalu memaafkannya, maka jawabku “tidak pernah ada kebaikan dalam diri seseorang yang hatinya saja ia tidak tahu di mana akan di tempatkan—dan cinta ialah selalu tentang sejauh mana kau sanggup menerima.”

Salam,

Semoga kau mampu menjawab pertanyaanmu sendiri.

Aku membuka jendela dan membiarkan angin masuk memain-menerbangkan horden. Aku tahu ia tidak baik-baik saja. Kusulut rokok keempat sembari menulis sebuah pesan singkat.

Kini aku tahu bagaimana cara meredakan nyeri di dada ini.

***

Akhirnya emailku dibalasnya, sudah seminggu aku mengirimnya, aku pikir ia tidak akan pernah membalas pertanyaan yang terlampau sederhana ini. Aku membaca jawaban itu pelan-pelan dan meraba pipiku, tak ada hangat yang jatuh. Kubaca sekali lagi dan memastikan bahwa aku benar-benar tidak apa-apa.

Apakah cinta itu pengorbanan?
Apakah cinta itu menunggu?
Apakah cinta itu memaafkan?

Bila ia yang kau cintai, memiliki seseorang lain, selain kau.

Aku tahu ia baik-baik saja, ia tidak terluka, dan kini aku mengerti apa yang harus aku lakukan.

Aku tahu jawaban atas pertanyaan yang telah kubuat. Aku tahu bagaimana mengakhiri kebohongan yang selama ini kulakukan pada diri sendiri.

***

Secagkir kopi di meja, sebatang rokok di tangan kanannya, layar laptop dibiarkannya menyala tanpa ada satu kalimatpun yang dituliskannya.

“kau tak perlu memilih aku atau dia, sebab aku telah memilih untuk tidak lagi memilihmu” message received

Kau tak perlu memilih aku atau dia, sebab aku telah memilih untuk tidak lagi memilihmu.” message received 

Dua buah pesan masuk bersamaan di handphonnya, di waktu dan dengan kalimat yang sama; dari dua wanita yang dicintainya. Ia tersenyum kecut, memandang lagi layar handphonenya; berharap tidak ada pesan ketiga.



Nov 2017

Ditulis untuk #NyincingDasterClub Tema SELINGKUH

Iklan

Tiga Hal yang Mudah Membuatku Menangis


​Setelah semalam kamu tanya tentang 3 hal yang mudah membuatku menangis, aku kok merasa kamu itu berani sekali ya mas. Kamu tahukan memilih bagi perempuan itu bukan perihal mudah, apalagi memilih 3 hal dari jutaan hal yang membuatnya menangis.

Kalau saja kau tahu komposisi yang dibutuhkan saat Tuhan menciptakan perempuan, tentu kamu tak akan berani bertanya “Dek, coba kasih tahu aku 3 hal apa yang  mudah membuatmu menangis” Kalau ternyata kamu masih memintaku untuk menyebutkan 3 hal yang mudah membuatku menangis, tentu aku yakin sekali kalau kamu belum pernah baca buku tentang “Saat Tuhan Menciptakan Perempuan” karya semua perempuan yang diterbitkan oleh pikirannya sendiri. Buku ini nda bisa dibeli di toko buku manapun mas, tapi kau bisa memintaku untuk memaparkannya.

Begini mas, perempuan itu diciptakan dari 72% air mata, 19% rindu, 6% kebenaran, dan sisanya yang tak sampai 3% itu ialah apa yang kamu lihat itu sekarang pada diriku.

Jadi kalau aku sedikit-sedikit nangis ya kamu harus maklum, tapi kamu tak perlu kursus cara membahagiakan perempuan kok mas,  cukup sering sering mengajakku belanja, piknik dan bilang aku cantik saja. Kalau aku bilang rindu setiap Menit juga kamu jangan heran mas, tapi kamu juga ga perlu ngecekin tokopedia atau lazada demi nyari pintu kemana saja agar kapanpun aku bilang rindu kamu langsung makbendunduk ada di depanku. Cukup kamu sering-sering telpon dan bilang “dek kamu lagi di mana to? kok aku menemukanmu di mana-mana, di sini, di sana, di situ, di dalam hatiku lho nda ada selain kamu.” iya gombalin saja aku mas, gombalin terus sampe kamu yang kena karma jadi lebih rindu dari aku. Kalau aku sering marah-marah kamu juga jangan heran mas, tapi kamu juga ga perlu mempelajari  1000 cara menghindari kesalahan  yang sering dilakukan pria kepada wanita. Nda perlu mas, buang-buang waktu aja buat baca itu, cukup kamu bilang “iya dek, aku yang salah. Kamu mau apa biar kamu mau maafin aku?”

Kembali ke 3 hal yang mudah membuatku menangis, ini bukan perihal mudah mas, mengingat perempuan punya sejuta alasan dan juga jutaan lainnya tangisan yang tanpa alasan, tapi demi kamu aku akan ungkapkan alasan-alasanku menangis.

Pertama, kamu tahu to mas perempuan melahirkan anak itu bukan sebuah sulapan bim salabim yang terus bisa ada bayi oek oek yang bisa kau timang-timang dan sayang-sayang itu, tapi melalui proses membesarkan perut dulu selama sembilan bulan lebih sembilan bulan lho mas dia kudu beradaptasi dengan tubuhnya yang awalnya komposisi air matanya 72% menjadi 85% dan perubahan perubahan lainnya yang kalau aku jelaskan kamu nda akan pernah ngerti. Bukan aku mengatakan kamu bodoh sampe nda akan ngerti penjelasanku mas, tetapi komposisi itu akan berubah terus setiap saat tanpa ada aba-aba dan peringatan dulu. Jadi kalau misalnya aku nangis sebab anak kita juara kelas,  anak kita jatuh, anak kita sakit,  anak kita nda  ngapa-ngapain saja juga aku nangis, ya kamu nda usah tanya kenapa alasannya Mas, karena  penyebab utama yang membuat aku menangis itu ya anak-anak.

Kedua, kamu tahu toh komposisi terbesar kedua perempuan itu rasa rindu? ya jadi alasanku nangis selanjutnya adalah kalau aku kangen mas; kangen jalan-jalan, kangen belanja buku baru, kangen makan enak, kangen nyalon, kangen marah-marah, kangen anak-anak, jadi kalau kamu nda mau buat aku nangis kamu jangan buat aku kangen karena hal-hal tersebut mas, oh iya  kangen pelukanmu juga salah satu di antaranya.

Ketiga, oh kamu beneran mau tahu alasan ketiga ini mas? atau kamu mau katakan “hop dek, sudah cukup dua alasan saja” soalnya aku takut kamu nyesel sudah bertanya alasan ketiga itu apa..

Masih bisa mengingat posisi ketiga dari komposisi perempuan kan mas? serius mau aku lanjutin? atau hop saja? tapi sudah terlanjur mas, aku lanjut saja ya. Karena perempuan diciptakan dari kebenaran, makanya jangan pernah nyalahin perempuan sekecil apapun. Jangan pernah mas, jangan. Misalnya kamu bilang “dek masakanmu kurang asin dikit” kamu tahu to kalau jawabanku pasti “Lidahmu lho mas ngaco, coba dihabisin dulu baru komentar” dan kalau kamu ngeyel masakan itu asin, aku pasti nangis. Atau pas aku bilang “uang belanja udah abis Mas” terus kamu bilang “lho dek, itu nda aku kurangi jumlahnya dari bulan kemarin”  itu artinya kamu nda perhatian mas, sebab nda tahu kalau  bulan ini ada lipen warna baru, ada kutek lucu, ada abang-abang jual gorden yang bulan lalu nda, ada hal-hal lainnya yang menandakan kamu nda perhatian dan nda pengertian kalau sampe kamu nda tahu uang belanja habis lebih cepat karena apa. Jadi siapa yang salah kalau sampe uang belanja abis sebelum waktunya? ya kamu mas, kenapa kamu nda prediksi bahwa akan ada lipen, kutek, gorden dan lain-lainnya bulan ini?

Kalau kamu nda kasih uang belanja lagi, tentu bakal nangis meratapi nasibku yang nda disayang sama lelakinya, meratapi bahwa ternyata lelakinya nda pengertian dan nda bisa memahami diriku seutuhnya.

Jadi itu tiga hal yang mudah membuatku menangis sebab sudah kodratnya demikian mas, kamu kudu nerima dengan lapang dada sembari memelukku dan bilang “iya dek, aku akan berusaha membuatmu nda nangis lagi”

Terima kasih kamu cuma minta tiga hal mas, coba lebih banyak lagi, aku yakin kamu yang akan nangis pas baca tulisan ini.
Jakarta, 2017

#3halYangMudahMembuatkuMenangis #NyincingDaster ProjectMenulis

Aku (sedikit) Lebih Pintar


 

1469382039851_1

​Beberapa hari ini aku merasa diribetkan dengan tema tulisan #NyicingDaster tentang #TigaHalBodohYangTidakAkanKuSesali bukan karena tidak memiliki perihal bodoh, tapi karena memilih tiga di antara sekian ratus kebodohan yang kulakukan itu bukanlah perkara yang mudah.

Aku memang perempuan yang sering mengulang-ulang kesalahan, kalau keledai saja tidak mungkin jatuh di tempat yang sama dan lantas aku malah dengan sengaja sering menjatuhkan diri di tempat yang sama maka apakah aku lebih bodoh dari keledai? oh tentu tidak wong aku punya ijasah SD, SMP, SMA dan ijasah lainnya serta beberapa sertifikat uji keahlian, sementara keledai tidak, tentu pastinya aku (sedikit) lebih pintar.

Berikut adalah daftar beberapa perihal bodoh yang pernah kulakukan:

1. BERULANG KALI naik uber yang salah, dan akhirnya dikembalikan sama tukang ubernya lagi ke posisi semula. Sadar salahnya udah di tengah perjalanan. (entah siapa yang bodoh di antara aku dan driver ubernya)

2. Ketemu sama wali kelas di bus saat bolos sekolah dan aku masih menggunakan seragam lengkap. (yak tul… besoknya aku langsung disuruh menghadap beliau dan dihukum. KULAKUKAN hukuman itu dengan pasrah sebab telah tertangkap basah dan gak bisa bikin alasan atau pembelaan apa-apa).

3. Pulang main sama teman kemaleman, gerbang kost udah dikunci, jadi kita manjat pagar. Ehhh ketahuan bapak kost, kita langsung lari masuk kamar. Besoknya disidang dikumpulkan semua penghuni kost dan ketahuan aku dan temanku pelakunya (awalnya kami tidak INGIN mengaku) tapi ternyata sandal temanku copot di halaman saat lari, ini digunakan sebagai barang bukti).

4. Lupa bawa dompet, baru sadar pas udah di metromini dan ditarik ongkos sama kernetnya. (alhasil aku minta bayarin sama penumpang yang duduk di sebelah. Semoga yang bayarin dulu itu SELALU dilancarkan rezekinya).

5. Salah whatsApp ke orang saat cerita dan ngeluh soal mantan, sampe dibalas sama orang itu dengan “ciyeee mainannya sama mantan ni ye” (sungguh salah chat YANG memalukan).

6. Salah beli tiket kereta buat sebuah keluarga, ibu dan anak kubelikan ditanggal yang berbeda. Pas mau berangkat ternyata aku salah book tanggal dan tiketnya udah kadaluarsa 😥 (ya kali anaknya bayi pulang sendirian, Sus. Sungguh ini ADALAH KESALAHAN yang merugikan sebab musti gantiin beli tiket lagi. Mahal boooo… 😭😭)

7. Pura-pura salah chat biar bisa ngobrol sama KAMU. (semua orang pasti pernah gini kan ya… ya.. iya-in dong pliiis biar aku gak merasa bodoh sendirian)

8. Beli buku-buku yang udah sampe 3 tahun lebih tapi plastiknya aja belum dibuka. MEMILIKI buku itu satu alasan yang bisa bikin aku bahagia, meski entah kapan bacanya (ada yang merasa gini juga ga sih?)

9. Beli kopi buat seseorang yang tapi tak PERNAH kukirimkan kepadanya. Sampai sekarang kopinya masih ada di laci dan udah kadaluarsa… 😪 (terus mau buat apa itu kopinya? Embuhhh)

10. Memilih untuk menunggu seseorang yang tidak pernah tahu bahwa ia aku tunggu dan TANPA pernah mengatakan bahwa aku menunggunya. Aku penganut, mencintaimu ialah perihal menyediakan waktu untuk selalu mendoakanmu, meskipun kau tak pernah tahu itu.

11. Ikut umptn cuma buat buktiin kalau aku bisa masuk universitas negeri, jadi pas udah pengumuman diterima tetap ga diambil dan milih ke universitas swasta yang udah jadi inceran dari awal. (MELEPAS kesempatan kuliah di universitas negeri dan sekang baru berasa bodohnya, sungguh sebuah ego masa muda)

12. Susah mengingat nama seseorang saat pertama kali kenal, jadi selalu manggil dengan “eh KAMU” terus-terusan.

13. Beli oleh-oleh udah nawar-nawar dan dikasih sama penjualnya tapi ga jadi beli KARENA ternyata ga bisa bayar pake debit card. (yakk bener tempat oleh-olehnya adalah toko kecil di stasiun kereta 😥)

14. Ketempat karaoke, cuma buat bisa MENANGIS dan teriak-teriak kesel biar ga diliatin dan didenger orang.

15. Masih berani bilang “Aku kangen KAMU” ke orang yang udah jelas-jelas ninggalin aku tanpa alasan. (ps. aku kalau mencintai totalitas kok, totalisat ga tahu malunya….)

16. Nulis Typo saat marah, dan pas dibaca ulang tulisannya malah jadi ketawa ngakak sebab artinya jadi jauh beda DENGAN yang mau diutarakan (salahkan jempol segede lengkuas ini aja pliss, jangan salahin aku. Aku udah sering disalah-salahin sama orang lain meski aku ga salah soalnya)

17. Nangis sesenggukan di kereta api Jakarta – Semarang sampai diliatin penumpang sebelah.. (sesenggukan itu artinya mengeluarkan suara ya, bukan cuma air mata aja– mohon dicatat ini bukan perkara CINTA)

18. Aku dan temanku tiduran di atas genteng sembari melihat bintang-bintang di langit gitu ceritanya biar kaya di film-film, eehh lha dalah kok malah ambrol gentengnya. Alhasil temenku jatuh ke lantai bawah dan pingsan, Aku pas bunyi “kretek kretek” berhasil minggir jadi ga ikutan JATUH.

Ada banyak perihal bodoh lainnya yang aku lakukan dalam hidup, sebagian besar aku menyesalinya dan ada beberapa yang tidak, bila kau ingin tahu mana 3 hal yang tidak aku sesali, coba bacalah daftar kebodohan itu dari list paling bawah, baca hanya kata yang kutulis dengan huruf kapital saja dan beri tanda “koma (,)” setelah kata kamu.

 

Jakarta
16 Agustus 2017

* Ditulis untuk #NyincingDasterClub #BiWeeklyWritingProject dengan tema #3HalBodohYangTakAkanKusesali

 

Note : kenapa bikinnya 18 hal bodoh? sebab 1+8 adalah 9. Dan 9 adalah bulan lahir kamu.. owuuoooo…  
(btw sudah menemukan #TigaHalBodohYangTidakAkanKuSesali kan ya?)

Ini yang ngerasa lahir bulan 9 dan kepedaan merasa menjadi yang aku maksud di tulisan ini siapa hayo? hayo ngaku sini kalau berani.. 

 

Kepada Tuan Yang Gemar Sekali Mencela.


20479328_119905495308048_5610709713718083584_n

 

Malam ini malam minggu, kalau Tuan masih menghabiskan malam ini sendirian; kita sama. Jadi tak perlulah Tuan mengatakan bahwa saya ini kesepian dan kasihan.

Hari ini hari libur, kalau Tuan hanya berdiam diri di kamar; tidur-bangun-tidur-dan bangun lagi atau sedang jalan-jalan tetapi sendirian; kita sama. Jadi tak perlulah Tuan mengatakan saya butuh piknik agar tak terlalu menyebalkan.

Tuan, kadang-kadang saya ingin bertanya mengapa Tuan gemar sekali mencela saya, apakah menjadi menyebalkan ialah cara Tuan agar selalu saya rindukan?

Tuan, kadang-kadang saya bingung jika saat saya bersedih, Tuan gemar sekali mengatakan saya cengeng. Bukankah seorang lelaki seharusnya mengusap air mata perempuan lalu memeluknya erat-erat? apakah menjadi mengesalkan ialah cara Tuan agar selalu saya butuhkan?

Tuan yang sangat menyebalkan dan mengesalkan, boleh saya mengatakan satu hal? Tuan berhasil membuat saya terus menerka-nerka keisengan apa lagi yang akan Tuan lakukan tiap kali kita sedang bersama, dan itu membahagiakan.

Tuan, saya rindu. Rindu untuk sekedar berbincang hal-hal yang tak penting, kebodohan-kebodohan juga celaan yang ada hentinya. Apa Tuan juga?

Tuan, di kotaku sedang musim jatuh cinta, tak inginkah kau berkunjung lalu memetik satu buahnya untuk kau bawa pulang?

Jakarta, 29 Juli 2017

Surat ke-4 #7harimenulisSuratCinta #NyincingDaster

dalam project menulis bersama @nyincingdaster

Cara Mencintai dan Berbahagia dengan Diri Sendiri


20478705_1973849012889819_7217513500921298944_n

 

Dear Kamu,

 

Saat menulis surat ini aku sedang mendengarkan lagu The Rain yang berjudul #BermainDenganHatiku rasanya aku ingin tertawa saat mengingat banyak hal bodoh yang kuakukan atas nama –Karena, aku mencintainya– tidak, aku tidak akan menyebutnya pengorbanan, sebab aku sepakat dengan Sujiwo Tedjo jika “cinta tidak mengenal pengorbanan. Saat kau telah merasa berkorban maka itu artinya sudah tidak cinta”

Aku menulis surat ini untukmu sebab aku mengingatmu saat ini, Kau membuatku menyadari memulihkan rasa sakit untuk kemudian disakiti kembali adalah kebodohan yang terlalu, kau membuatku paham jika cinta itu tidak pernah menyakiti, yang membuat sakit ialah keinginan untuk memiliki.
Sebab kau membuatku mengerti bahwa yang kubutuhkan saat ini ialah sembuh dari rasa sakit dan bebas dari rasa ingin memiliki, dan aku merasa demikian saat bersamamu.

Bagiku, tak penting apakah kau mencintaiku, tak penting apakah kelak aku bisa memilikimu, tak penting juga seperti apakah akhir dari kisah kita; yang aku tahu aku cukup bahagia saat kau ada. Aku menjadi lebih sering tertawa saat mendengar kau bicara; aku merasa menemukan diriku yang telah lama hilang saat mencintai dia.

Terima kasih, sudah mengajariku cara mencintai dan berbahagia dengan diri sendiri.

Jakarta, 31 Juli 2017

Dariku yang mudah bahagia hanya sebab mendengar kau tertawa.

ditulis untuk #NyincingDaster dalam tema #7HariMenulisSuratCinta hari ke-4

​​Kepada yang Pernah Ada dan (mungkin) Masih Ada


Screenshot_20170725-000240_1

 

Kupikir cara paling mudah untuk melupakan ialah dengan berlari, menciptakan jarak sejauh-jauhnya hingga tubuh merasa lelah untuk sekedar mengingatmu kembali. Mungkin di jalan-jalan yang aku lewati akan Kutemukan banyak perihal yang membuatku tertawa, lalu lupa pada kesedihan yang menjadi alasanku pergi; tetapi aku lupa bahwa segala tentangmu bertempat di ingatan yang selalu kubawa kemana-mana.

Kupikir cara paling mudah untuk memaafkan ialah dengan mengabaikan salahmu, menganggap semua tidak pernah terjadi lalu menyakinkan diri sendiri bahwa semua baik-baik saja. Mungkin luka-luka yang berbaris rapi di dada bisa tiba-tiba saja hilang seperti ketika kita meletakkan dompet di jalan raya; tetapi aku lupa bahwa cinta ialah tentang rasa sakit yang menolak disembuhkan.

Perpisahan hanyalah perkara waktu, bila mungkin tiada hal-hal di dunia yang bisa memberi alasan satu dari kita pergi lebih dulu, maka usia yang akan memutusnya. Tetapi yang terjadi di antara kita ialah kau pergi dengan sebab sederhana; sudah tidak lagi ada cinta.

Tidak ada yang sepenuhnya salah ataupun seluruhnya benar dihadapan perpisahan, kita adalah terdakwa yang  menyusun pembelaan untuk diri sendiri demi terhindar dari hukum penyesalan berkepanjangan. Maka maafkan, bila sikapku pada akhirnya membuat kau memutuskan untuk meninggalkan kita.

Katamu cinta itu adalah perihal doa-doa yang tak luput diucapkan meski raga tak cukup dekat untuk bisa didekap dengan kedua tangan. Maka yang bisa kulakukan sekarang ialah menyelipkan doa untukmu, agar kau tak lupa menjaga kebahagiaan.

Selamat malam, tuan. Semoga setelah selesai kau membaca surat ini, kau berkenan untuk tersenyum sembari mendoakan beberapa perihal baik untukku; agar mampu melupakanmu misalnya.

.

.

.

.

Jakarta 27 Juli 2017
Dariku yang tak pernah mampu menahan diri sedetik saja untuk tidak segera membalas chat darimu.

ditulis untuk #7hariMenulisSuratCinta #NyincingDasterClub

Kepada yang Meninggalkan “Kita” Lebih Dulu


Saat surat ini sampai padamu, mungkin matahari sedang beranjak pergi dan kau tengah duduk di beranda sembari menyeruput kopi. Sedang segala tentangku tinggal ingatan yang samar di kepala, seperti udara selepas hujan; tenang, dingin, namun cukup membuatmu menggigil saat tak mengenakan sweater.

Atau mungkin kau tengah terjebak kemacetan ibu kota dengan lagu-lagu di radio yang tak kau tahu siapa penyanyinya. Sedang segala tentangku seperti sebuah lirik hilang pada sebuah lagu yang kau hafal benar nada dan penyanyinya; tak penting, tapi cukup menyita pikiranmu beberapa saat lalu membuat kau mengepalkan tangan dan memukul setir mobilmu sembari berkata “bangsat..”

Atau mungkin kau tengah menonton stand up comedy tapi kau tak bisa tertawa dengan materi yang di suguhkan pesertanya. Sedang aku seperti lelucon garing yang kau tak sukai tapi selalu kau ingat susunan ceritanya lalu kau akan berteriak “gak lucu!!” namun sembari menahan tawa.

Sedang apapun kau sekarang, surat ini akan menjadi pintu yang memisahkanmu dari dunia saat ini, membawamu kembali ke masa ada aku yang tertawa-tawa saat memandang senyummu, ada mataku yang berseri-seri tiap kali menatap wajahmu, ada aku yang mengenggam erat tanganmu saat ketakutan, juga aku yang menangis saat kau tinggalkan.

Tak perlu merasa bersalah sebab meninggalkan “kita” lebih dulu, aku tidak berusaha mempertahankan apapun selepas ketiadaanmu, sebab “kita” hanya akan ada saat kau bersamaku.

Tak perlu merasa telah menyakiti aku sebab membuatku menangis hari itu, aku hanya tidak tahu bagaimana mengatakan cinta saat kau tiba-tiba tiada.

Tak perlu merasa menyesal sebab telah berusaha melupakanku lebih dulu.

Terima kasih; telah menjadi yang pertama pergi dan melupakan kita; kehilanganmu membuatku ditemukan dan menemukan bahagia.

Jakarta, 26 Juli 2017

ditulis untuk #7hariMenulisSuratCinta hari ke-1