CEMBURU


Aku cemburu
pada kesanggupanmu
melewati hari-hari tanpaku

aku cemburu
pada keberhasilanmu
melalui malam-malam sepi
tanpa mengenangku

aku cemburu
pada ketabahanmu
mendengarkan lagu-lagu sendu
tanpa merinduku

aku cemburu

pada caramu
: melupakan aku

sebab, bagaimana mungkin
kepergianku
pada akhirnya, hanya
melukai diriku sendiri

Jakarta, Okt 17
#Cemburu #kepergianku #caramelupakan #sajakpendek #poetry #menulis #selarikkata #melukai

Kita Tidak Pernah Sepakat


Kita pernah saling jatuh cinta, saling ingin membahagiakan, juga saling ingin melengkapi; dan itu bukanlah suatu hal yang telah direncanakan sebelumnya.

Bila pada akhirnya kita saling menghindari, saling menyakiti, dan saling ingin melupakan; itu juga bukanlah hal – hal yang telah kita rencanakan jauh-jauh hari.

Kita tidak pernah sepakat untuk saling jatuh cinta kemudian meninggalkan; tetapi kau dan seluruh yang kau lakukan telah menjadi sepaket yang menyesakkan.
Jakarta,

08 Mei 2017

Hujan Malam


Huruf demi huruf berjatuhan tak beraturan
Untuk memahami arti kehilangan
Jiwa enggan segera lepas, sebab tak adamu bagiku memang ketiadaan.

Aku seperti kaleng bir telah kosong di tangan pemabuk yang dahaga.
Nirkata tanpa suara, sebab di dalam; hampa paling hampa.

Malam kian terasa panjang, nafas tersenggal-senggal dan segala yang ada menjelma kau.
Abai dalam ketidakgelisahan, kehendak seperti maut; kita saling pagut.
Larik-larik puisi tak selesai; kau, aku, adalah kata-kata telah kehilangan penulisnya.

Adakah sisa keraguan yang tersisa? Semestinya tak ada, sebab kita akan segera moksa.
Meleburlah rahasia, luka dan segala yang tak terucap. Sebab kita adalah cinta, tak tersentuh usia.

Jakarta 25 Februari 2016,
Kolaborasi kata @susyillona dan @dikiumbara

Sebab Kau Bukanlah Dia


 

Kau jangan iri, dengan seseorang

yang menjatukan kepedihan di jantungku,

Sebab, kau selalu bisa menjadi seseorang yang menghapus air mataku

Menjadi seseorang dengan bahu kekar yang merengkuh lemah tubuhku

Kelak di jantungku kau akan jatuh

sebagai kebahagiaan yang akan terus tumbuh ~

 

01.01.16

untuk @belatibiru yang selalu mengingatkanku menjaga kesehatan batin

Yang Kau Lupakan


Tak perlu menghitung janji-janji yang telah ditanggalkan waktu, sebab kau akan lelah untuk mengingat dan memastikan janji itu pernah ada.

Tak usah menghintung rindu yang jatuh di dadaku, sebab kau tak akan mampu menanggung beratnya yang sudah melebihi berat tubuhku

Cukuplah kau hidup di dadaku sebagai debar, yang  tetap ada meski tak lagi tumbuh bersama cinta.

Dan aku akan tetap menunggu sekumpulan janji dan rindu dipeluk olehmu. Meski kau telah menjadikanku sebagai perempuan yang kau hapus namanya dari ingatanmu.

.

.

13 Desember 2015

Pada Suatu Hari


image

Suatu hari nanti, aku ingin bermain hujan bersamamu, basah di bawahnya hingga gigil kedinginan lalu kita saling melingkarkan pelukan; saling menghangatkan”

Katamu, mungkin hari itu tidak akan pernah datang, tidak pernah meninggalkan kenangan dalam ingatan kita. Sebab hujan tidak pernah mau berteman dengan tubuhmu.

“Suatu hari nanti, aku ingin menghabiskan waktu bersamamu, kepalaku rebah dipangkumu sambil membaca buku, dan kau menghitung kebahagiaan yang jatuh dari mataku”

Katamu aku tak kan pernah menyelesaikan buku itu, sebab aku akan lebih sering membaca apa yang ada di wajahmu. Dan kau akan menjadi lelaki yang khidmad mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibirku.

Suatu hari nanti peluklah aku sebentar saja dan bisikkan padaku bahwa aku tidak pernah sendiri”

Aku hanya ingin kau ada, dan seluruh resah yang kupunya akan hilang begitu saja.

Berjanjilah bahwa kau tidak akan pernah menjadi salah satu alasan jatuhnya air mataku, berjanjilah bahwa kelak hari itu akan datang; Suatu hari, yang belum pernah terjadi.

——————–
Sebuah percakapan dengan seorang teman tentang suatu hari yang belum pernah terjadi.

10 Nov 2015

Andai Melupakanmu Bisa Kulakukan Sebaik Aku Mencintaimu Tentu Kebahagiaan Tak Akan Takut Bertamu


Bersamamu, sering kali kebahagiaan bertamu. Kita tak pernah menunggu. Selalu ada gelak tawa diantara kita.

Kelak bila satu diantara kita harus pergi lebih dulu, aku tak akan mampu menunggu, duduk sendiri di ruang tamu dan tak ada siapapun yang bertamu.

Mungkin aku akan lebih akrab dengan kesepian, yang tak pernah lagi kukenal sejak aku mengenalmu.
Mungkin aku akan lebih dekat dengan kesedihan, yang tak pernah lagi mengetuk pintu rumahku sejak aku tinggal bersamamu.
Aku harus membiasakan diri melakukan apapun yang tak biasa aku lakukan saat kau ada. Tapi aku tak yakin bisa melakukannya sebaik melalukan hal tersulit sekalipun yang pernah kulakukan sebelumnya.

Dalam hidupku, mungkin akan ada satu pekerjaan yang tak mampu kuselesaikan dengan baik; melupakanmu.

Suatu saat nanti


img_20121125020909_50b11b5568b94Suatu saat nanti   Saat semua telah menyebut kita sebagai seorang yang renta   Seorang yang termakan usia (meskipun sesungguhnya tidak ada yang habis karenanya).

Suatu saat nanti   Saat waktu mulai rajin mengganti warna rambutmu, mulai rajin mengendurkan kulitmu dan membuat lipatan-lipatan kecil. Aku ingin engkau tidak melupakan satu hal. Hanya satu, tidak lebih.

Aku tidak meminta engkau menghapal namaku yang saat itu mungkin menjadi begitu rumit untuk kau ingat. Aku tidak meminta engkau untuk mengingat sajak-sajak yang pernah aku buat. Yang saat itu mungkin tak lagi terbaca oleh matamu yang kian renta. Aku juga tidak meminta enggkau untuk mengingat seluruh kisah yang pernah kita lewati bersama. Yang mungkin disaat yang sama juga telah aku lupakan. Biar semua yang tak mampu kau ingat, di gulung waktu. Karena disaat itu, Tuhan mulai rajin mengambil ingatan kita. Biar saja. Biarkan Tuhan melakukannya, itu adalah tugasNya.

Aku hanya ingin kau mengingat satu hal  ”kita tidak akan pernah merasa tersakiti oleh sebab apapun yang pernah kita lakukan. Sebab cinta akan selalu memaafkan”   lalu, kita akan sama-sama tersenyum mengingat hari hari, ternyenyum menghadapi mati, tersenyum karena kita berhasil membuat ”kita” bahagia.

Yang (mungkin) Telah Kau Lupakan


Masihkah kau ingat sungai dimana hanya ada bulan yang terpantul di wajahnya, dan kita ikan kecil yang mencoba membelah cahayanya.

Masihkah engkau mengingat hitam legam payung yang kugenggam saat hujan, dan kau berkata ada pelangi kecil menaungi kepala kita.

Dan pernahkah engkau mengingat aku, sekali saja, sebagai seseorang yang pernah begitu kau cintai.