Tak Lagi Sama


Aku percaya bahwa setiap tempat, jalan, lagu, puisi, gambar, potret, minuman, dan hal-hal lainnya yang terkadang tampak tak penting, memiliki kisahnya masing-masing bagi seseorang yang ketika dengan sengaja maupun tidak akan mengantarkan ingatan pada suatu waktu yang entah.

Tiap kali kudengarkan lagu kesukaanmu diputar di kedai kopi yang kusinggahi, perlahan ingatanku terlempar ke suatu masa ketika kau masih begitu hangatnya di dalam dada; masih kuingat dengan jelas bagaimana kau yang dengan sigap menghabiskan makanan pesananku yang tak mampu lagi kuhabiskan, tentang kau yang memesankan lemon tea sebelum aku mengatakan hendak minum apa pada pramusaji yang datang atau bagaimana kau memanggil pramusaji untuk memesan lagi kopi yang telah tandas dalam beberapa menit, Juga gumamananmu meski hanya “nananana..nanana.. nana..nana…” mengikuti lagu yang bergema di udara. Begitu banyak hal-hal yang berputar di ingatan seperti sebuah film favorit yang tiap adegannya kuhapal dengan detail.

Ketika masa-masa seperti itu tiba (meski tak sering, sebab tak banyak cafe yang memutar lagu kesukaanmu itu) aku memilih menyibukkan diri dengan membaca buku, beharap tak satu kenanganpun yang mampu mengunjungiku, kubaca kata demi kata, kalimat demi kalimat, sialnya tak satupun yang mampu melawan kehadiranmu.

Atau aku sibukkan diri dengan membalas chat yang bertumpuk sedari pagi belum kubuka sebab seharian sibuk bekerja, tapi selalu saja aku gagal menafikan keinginan untuk membuka kontakmu, mengetikan “hai, aku sedang di cafe dan lagu kesukaanmu diputar di sini” namun selalu gagal kukirim sebab aku tak seberani itu untuk menyapamu lebih dulu.

Atau aku akan mencoba menulis sajak-sajak, namun begitu selesai hanya kutemukan namamu dan kata rindu yang tertulis di booknoteku.

Menyebalkan bukan, berada pada ingatan-ingatan lampau yang sekuat apapun aku coba hilangkan namun ia tetap saja hadir tanpa permisi.

Apa sesekali kau pernah berada pada saat yang seperti itu, ketika banyanganku mengusikmu dan apa-apa yang kau kerjakan selalu tak maksimal sebab kau tak tahu bagaimana caranya untuk tidak melibatkan aku pada apa-apa yang kau sentuh? Kuharap semoga tidak, sebab aku tahu betapa tidak menyenangkannya berada pada perasaan demikian; sebab sebanyak apapun kopi kau teguk, pahitnya tak akan melebihi kenyataan bahwa kita sudah menjadi masa lalu yanh jauh, sebanyak apapun rokok kau hisap dan hembuskan, hanya akan membuat dadamu semakin sesak, sebab sebaik apapun kau berlatih untuk tersenyum tak akan pernah berhasil menyakinkan dirimu sendiri bahwa kau baik-baik saja.

Kuharap kau akan baik-baik saja melewati hari-hari yang tanpaku, kuharap kau tidak dihinggapi perasaan bersalah dan penyesalan; sebab bagaimanapun tak akan pernah lagi kau temukan seseorang yang sanggup mencintaimu sebaik aku, bahkan ketika kau menyesali dan meminta kembali, aku tak akan pernah sama lagi.

11 Des 2018

Bukan Hanya Kamu


Kaupikir hanya kamu yang berjuang, aku tidak.
Kaupikir hanya kamu yang pandai merawat kesedihan, aku tidak.
Kau pikir hanya kamu yang terluka, aku tidak.
Kau pikir hanya kamu yang merasa sepi, aku tidak.
Kau pikir hanya kamu yang membuat hubungan ini baik-baik saja, aku tidak.
Kau pikir hanya kamu yang memanjakan aku, aku tidak.

Bukan hanya kamu,
Bukan hanya kamu yang melakukan hal-hal sulit.
Bukan hanya kamu yang menghabiskan air mata untuk bersedih.
Bukan hanya kamu yang kuat melakukan segalanya.

Biarkan, biarkan aku membuat kau mengerti
Cinta, tak pernah berjuang sendirian.
Cinta, tak pernah merasa bahagia sendirian.
Bila bagimu aku terlampau lemah untuk itu;
Maka katakan, untuk apa aku tetap tinggal, jika ternyata kau menganggapku terlampau jauh dari kata “saling”?

____

Menjawab postingan blog @fermenkisd

https://fermendkis.wordpress.com/2018/09/02/aku-saja/amp/?__twitter_impression=true

Kamu, Bukan Lagi Kamu yang Dulu


Bila nanti seseorang yang pernah pergi dari kehidupanmu datang kembali meminta kesempatan untuk bersamamu lagi, katakan padanya bahwa kamu tak lagi sama dengan yang ia kenal dahulu.

Setidaknya satu hal yang membedakan ialah kamu yang sekarang berani memintanya pergi.

Ia tak perlu tahu bagaimana dulu kamu berusaha menyembuhkan diri, juga seberapa sering air matamu jatuh ketika mengingatnya.

Ia tak perlu tahu bagaimana caramu berusaha lupa, juga saat kau berpura-pura baik-baik saja ketika berada di tempat-tempat yang pernah kalian kunjungi dulu.

Ia tak perlu tahu sebanyak apa waktu yang kamu habiskan hanya untuk stalking laman sosmednya ketika kamu rindu, hanya untuk mengetahui apakah kabarnya baik-baik saja.

Ia tak perlu tahu bagaimana malam-malam kau habiskan untuk menunggu sebuah notifikasi berisi pesan maaf yang nyatanya tak pernah ada hingga sekarang. Juga tak perlu tahu seberapa sulitnya kamu menahan diri untuk tak menghubunginya terlebih dahulu.

Ia tak perlu tahu seberapa patahnya hatimu dan bagaimana kamu bangkit menyusun kembali kehidupanmu.

Yang ia perlu tahu, kamu baik-baik saja saat tanpanya, kamu berhasil melewati semua dengan bahagia, kamu adalah yang terbaik yang ia lewatkan untuk mengejar hal yang tak pasti.

Maka ketika kini ia menyesal dan memintamu menerimanya kembali, percayalah kau pantas mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari dirinya.
Yang ia perlu tahu, penyesalan memang akan selalu hadir belakangan dan karenanya ia harus lebih berhati-hati ketika memutuskan pergi.

Cintamu, bukan perihal murah yang kapan saja bisa ia miliki kembali.

__
Jakarta, 14 Agustus 2018

Pernah


Aku pernah menjadi yang kau cemaskan; kau selalu ingin tahu aku ada di mana dan apa yang aku lakukan. Lebih dari itu kau seringkali memastikan bahwa hariku berjalan baik-baik saja.

Aku pernah menjadi yang kau prioritaskan; saat ada banyak pilihan untukmu menghabiskan waktu, dan kau memilih menemaniku. Meski bersamaku kita hanya melakukan hal-hal bodoh atau hanya bercerita tentang apa saja yang kulakukan saat tanpamu.

Aku pernah menjadi yang kau Rindukan; saat jarak tidak mudah dikalahkan, saat waktu tak berpihak pada pertemuan, saat kesibukan menjadi penghalang, kau mati-matian mengalahkan semuanya hanya untuk kembali menatap mataku juga memeluk tubuhku.

Aku pernah menjadi yang selalu kau cari; tak peduli berapa banyak teman yang kau miliki, berapa orang yang siap menjadi tempatmu berbagi, kau hanya ingin aku menjadi orang pertama yang mendengarkan kabar suka dukamu.

Aku pernah menjadi yang ingin selalu kau bahagiakan; di antara kesibukan yang kau lakukan, di tengah kesulitan yang kau alami, di dalam tawa dan duka, semua menjadi bagian dari inginmu untuk membuatku bahagia.

Aku pernah menjadi yang pertama kau ingat saat membuka mata juga yang terakhir kali kau pikirkan sebelum terlelap. Akulah yang memenuhi ingatanmu sepanjang hari.

Aku pernah menjadi pinta yang paling sering kau ucap di dalam doa, juga segala perihal baik yang kau mohonkan pada Tuhan.

Aku pernah menjadi apa saja yang penting bagimu; menjadi alasanmu tersenyum, alasanmu menangis, alasanmu berjuang, alasanmu bangkit, alasanmu bangun pagi-pagi, dan berbagai alasan lainnya yang membuat hidupmu menjadi lebih baik.

Aku pernah–hanya pernah.

Aku benci menjadi yang “pernah“–menjadi bagian dari masa lalu yang kini tak kau inginkan lagi.

 

Jakarta, 09 Agustus 2017

Apa kau juga pernah menjadi yang “pernah” ?

Masa Kanak-Kanak


Boneka anjing yang bisa berjalan dengan batu batre itu, pernah membuatku menangis saat memintanya.
Boneka Susan yang lagunya begitu kusuka semasa kecil, pernah membuatku merajuk sebab begitu ingin aku memeluknya.
Boneka buaya, boneka barbie, dan lainnya pernah membuat masa kanak-kanakku menyenangkan.

Baju bergambar sailor moon itu, pernah membuat senyumku begitu lebar.
Juga kaos bergambar siluman ular putih yang begitu keren pada masanya, pernah membuatku bangga mengenakannya.
Juga semua baju-baju yang pernah membuat masa kanak-kanakku tampak begitu lucu.

Sepeda mini warna biru yang pernah menemaniku bersekolah, kini sudah tak ada lagi.
Tapi aku selalu kuingat betapa aku pernah begitu menyukainya, pernah begitu bahagia mengayuhnya di pagi dan sore hari.

Begitu banyak hal di masa kecilku yang menyenangkan.

Masa kanak-kanak kini telah begitu jauh, masa yang ingin membuatku berkali-kali kembali ke sana.
Kembali untuk menemukan diriku berada di gendongan,
Kembali untuk menemukan diriku di pelukan,
Untuk menemukan lagi lelaki dan perempuan muda yang masih begitu sehat dan kuat,
yang bersusah payah hingga kini demi melihat bahagia di mataku.

Lekas sehat, Pak.
Aku sayang dan rindu.

Tak Perlu Ada Pertanyaan


Tak perlu berdebat tentang mana yang lebih menarik, orangnya ataukah sketsanya. sebab keduanya adalah obyek yang sama.

Seperti halnya tak perlu memperdebatkan siapakah yang paling mencintai di antara aku dan kamu. Sebab, kita telah memilih jalan yang sama–jatuh cinta.

Maka kelak, tak perlu lagi ada pertanyaan tentang siapa yang lebih patah saat kehilangan.
____

Jakarta, 24 Juli 2016

Berhutang Kebahagiaan


: Chispa Illona Neratama
Yang tumbuh di sudut bibirmu adalah nyala yang mampu memadamkan kesedihanku

Yang tumbuh di dalam doamu, adalah nyala yang mampu memadamkan keputus asaanku

Yang tumbuh di binar matamu, adalah nyala abadi bagi seluruh kehidupanku.

Kaulah alasanku berbahagia, meski aku tak selalu berhasil membuatmu bahagia. Kaulah semangatku menghadapi segala kekalahan, meski aku tak selalu mampu membuatmu menang melawan kesedihan.

Maafkan bila masih ada air matamu yang tak mampu ku selamatkan, maafkan jika masih ada mimpi-mimpi yang karenaku harus kau tanggalkan, aku berjanji akan menjadi ibu yang lebih baik lagi. Sebab, padamu aku berhutang banyak kebahagiaan.
______

21 Juli 2016

Selamat ulang tahun, gadisku.

Mari kita berbahagia untuk hari ini, esok dan selamanya.

Tinggalkan Saja


Jika ingin pergi, jangan bertanya apakah aku sanggup untuk hidup sendiri . Cukup katakan selamat tinggal dan doakan aku baik-baik saja.

Jika ingin pergi, jangan cemaskan apa yang akan terjadi padaku saat kau tiada, cukup pikirkan bahwa apa yang akan kau perjuangkan lebih baik dari yang hendak kau lepaskan.

Jika ingin pergi, jangan merasa bahwa kau tak setia. Cukup sampaikan bahwa setiap hal memiliki waktu untuk di akhiri.

Jangan beratkan langkahmu untuk aku yang telah mulai kau ragukan, yang tak lagi sebaik yang kau harapkan dan tak lagi pantas untuk kau tunggalkan.

Ringankanlah langkahmu dengan hal-hal yang membuatmu mudah untuk melupakan aku.

Mungkin aku hanyalah seseorang yang lemah, selalu membutuhkanmu untuk bersandar dan tentu itu membuatmu kelelahan. Mungkin aku hanyalah seseorang yang penuh dengan kekurangan, tentu tak mudah bagimu untuk bisa terus menggenapkan. Mungkin aku adalah seseorang yang begitu menjenuhkan, maka memilikiku terlalu lama tentu membuatmu merasa bosan.

Pikirkanlah dan ingatlah segala hal yang buruk tentang aku, ungkitlah segala kesalahan-kesalahanku dan buatlah daftar-daftar menganai segala hal yang tidak kau sukai tentang aku.

Akulah seburuk-buruknya orang yang kau kenali sekarang, dan jika ada yang menahanmu dan berkata aku adalah orang yang baik, jangan pernah percaya.

Sebab jika benar aku seseorang yang baik; maka tak akan pernah kau menjadikan aku seseorang yang ingin kau tinggalkan.

 

 

Jakarta, 20 Juli 2016

Sebab selalu, seseorang meninggalkan karena mereka merasa menemukan seorang yang lebih baik.

Semoga itu benar. Agar esok hari tak ada yang menangis karena menyesali ia pernah memilih pergi.

Saat Kau Tiada


Seperti gelap yang ditutupi kabut, angin tentangmu mulai menjadikannya awan, dadaku gemercik air danau yang menantikan hujan

Pernahkah kau ingat jalan saat punggung kita saling menjauh? lalu air mata jatuh tanpa tahu kapan sakitnya akan sembuh. Mencintaimu, membuat pikiranku kerepotan saat malam, melelapkan dua anak-anak rewel; kangen dan kenangan.

Aku terjebak dalam kotak waktu, saat segala tentangmu masih selalu aku tunggu; selalu aku rindu.

Ketika mengenangmu sesekali, dadaku kini tahu, jaraklah yang selama ini melemparinya batu. Dan kini di dadaku tak ada apa-apa selain hampa, saat kau tiada yang tinggal hanyalah air mata.

30 Des 2015
Ditulis bersama @dhehusnan

Aku Merindukanmu


Ada banyak kata yang kutulis dan hapus berkali-kali hanya untuk sebuah pesan sederhana “Aku merindukanmu”
Seperti menyusun rangkaian petasan yang tak pernah berani kusulut sebab banyak kanak-kanak tertidur lelap.

Begitu banyak huruf yang terusun tapi kemudian tereliminasi. Hanya demi rindu yang harus terucap. Aku berpikir berulang bagai  bermain catur, agar tak salah kumelangkah maju. Agar tak salah, rinduku tertuju.

Kata-kata bagai mata pisau yang mengarah ke dalam dada, aku harus mengeja pelan-pelan, menuliskan dengan benar agar sampai padamu tanpa harus meninggalkan luka.

Biar, biarkan saja bagian yang tajam mengarah kepadaku, seperti aku yang tak lagi perduli pada pesan pesan yang tak menemui balasan. Seperti rindu ini, seperti temu yang mungkin tiada lagi.

Sebab aku hanya berharap kau membaca, sebab aku hanya ingin kau tahu, agar kecemasan tak selamanya tinggal di dadaku.
Biarkan rinduku bertamu di dadamu, meski pada akhirnya kau tak pernah membukakan pintu.

Maafkan kebebalan rinduku, maafkan aku yang telah tahu bahwa kau tak lagi mau tahu. Sebab rindu yang tak terucap, benar benar benalu. Menggerogoti kewarasanku.
Tenang saja, kau tak perlu membalasnya, kau hanya perlu tahu bahwa resah sesekali perlu dilepaskan. Agar ia tak liar di dalam ingatan.

Juni 2016
Kolaborasi : Susyillona & Galuh Sitra

Di tulis dari dua kota yang berbeda (Jakarta & Bali)