Yang tak Memiliki Jawaban


 

Suatu hari pernah kau tanyakan tentang apakah aku menyayangimu, tentu aku ingin mengatakan hal yang selama ini begitu penuh di dadaku. Tetapi jawaban tak selalu tentang “ya” atau “tidak”. Yang ku tahu rasa sayang dan cinta ialah perbuatan yang tak perlu dijawab dengan kata-kata. Maka aku memilih tidak pernah menjawab pertanyaanmu.

Kau boleh marah sebab mengira aku mengacuhkanmu, kau boleh kecewa sebab aku tak menjawab pertanyanmu, kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan atas diamku itu. Namun sebelum kau melakukan itu semua tolong katakan pada bagian mana aku pernah meninggalkanmu sendirian? Kapan aku tidak peduli saat kau membutuhkan teman? Pernahkah aku membuatmu bersedih?

Jika dengan menjawab pertanyaan itu akan ada jeda di antara kita, akan ada hal-hal yang nampak tak biasa, akan ada yang berubah, maka ijinkan aku tak pernah menjawab selamanya. Biarkan aku tak pernah mengatakan apapun tentang kita. Kau tahu, jarak paling jauh dari sebuah hubungan ialah perasaan tidak nyaman dan rasa tidak percaya.

Aku ingin tetap menjadi alasan bagimu mencari seseorang yang menenangkan, aku ingin tetap menjadi tempatmu berbagi apa saja; mendengar kau tertawa, menghapus air matamu, melihat pipimu yang merah merona atau hanya sekedar menjadi yang kau cari-cari saat kau merasa kesepian.

Maafkan ketidakberdayaanku untuk mengatakan apapun tentang kita, Sebab bila dengan memilikimu aku berpeluang untuk menyakiti dan kehilanganmu, maka dengan sungguh aku memilih untuk selalu dapat menemanimu sebagai apa saja yang bisa membuat kau berhenti bersedih. Tak apa bila itu artinya tak akan pernah memilikimu selamanya.

Maka masih perlukah aku menjawab pertanyaan apakah aku menyayangimu?

 

 

Jakarta, 10 Juli 2018

 

Iklan

Pernah


Aku pernah menjadi yang kau cemaskan; kau selalu ingin tahu aku ada di mana dan apa yang aku lakukan. Lebih dari itu kau seringkali memastikan bahwa hariku berjalan baik-baik saja.

Aku pernah menjadi yang kau prioritaskan; saat ada banyak pilihan untukmu menghabiskan waktu, dan kau memilih menemaniku. Meski bersamaku kita hanya melakukan hal-hal bodoh atau hanya bercerita tentang apa saja yang kulakukan saat tanpamu.

Aku pernah menjadi yang kau Rindukan; saat jarak tidak mudah dikalahkan, saat waktu tak berpihak pada pertemuan, saat kesibukan menjadi penghalang, kau mati-matian mengalahkan semuanya hanya untuk kembali menatap mataku juga memeluk tubuhku.

Aku pernah menjadi yang selalu kau cari; tak peduli berapa banyak teman yang kau miliki, berapa orang yang siap menjadi tempatmu berbagi, kau hanya ingin aku menjadi orang pertama yang mendengarkan kabar suka dukamu.

Aku pernah menjadi yang ingin selalu kau bahagiakan; di antara kesibukan yang kau lakukan, di tengah kesulitan yang kau alami, di dalam tawa dan duka, semua menjadi bagian dari inginmu untuk membuatku bahagia.

Aku pernah menjadi yang pertama kau ingat saat membuka mata juga yang terakhir kali kau pikirkan sebelum terlelap. Akulah yang memenuhi ingatanmu sepanjang hari.

Aku pernah menjadi pinta yang paling sering kau ucap di dalam doa, juga segala perihal baik yang kau mohonkan pada Tuhan.

Aku pernah menjadi apa saja yang penting bagimu; menjadi alasanmu tersenyum, alasanmu menangis, alasanmu berjuang, alasanmu bangkit, alasanmu bangun pagi-pagi, dan berbagai alasan lainnya yang membuat hidupmu menjadi lebih baik.

Aku pernah–hanya pernah.

Aku benci menjadi yang “pernah“–menjadi bagian dari masa lalu yang kini tak kau inginkan lagi.

 

Jakarta, 09 Agustus 2017

Apa kau juga pernah menjadi yang “pernah” ?

Masa Kanak-Kanak


Boneka anjing yang bisa berjalan dengan batu batre itu, pernah membuatku menangis saat memintanya.
Boneka Susan yang lagunya begitu kusuka semasa kecil, pernah membuatku merajuk sebab begitu ingin aku memeluknya.
Boneka buaya, boneka barbie, dan lainnya pernah membuat masa kanak-kanakku menyenangkan.

Baju bergambar sailor moon itu, pernah membuat senyumku begitu lebar.
Juga kaos bergambar siluman ular putih yang begitu keren pada masanya, pernah membuatku bangga mengenakannya.
Juga semua baju-baju yang pernah membuat masa kanak-kanakku tampak begitu lucu.

Sepeda mini warna biru yang pernah menemaniku bersekolah, kini sudah tak ada lagi.
Tapi aku selalu kuingat betapa aku pernah begitu menyukainya, pernah begitu bahagia mengayuhnya di pagi dan sore hari.

Begitu banyak hal di masa kecilku yang menyenangkan.

Masa kanak-kanak kini telah begitu jauh, masa yang ingin membuatku berkali-kali kembali ke sana.
Kembali untuk menemukan diriku berada di gendongan,
Kembali untuk menemukan diriku di pelukan,
Untuk menemukan lagi lelaki dan perempuan muda yang masih begitu sehat dan kuat,
yang bersusah payah hingga kini demi melihat bahagia di mataku.

Lekas sehat, Pak.
Aku sayang dan rindu.

PENGHARAPAN


 

 

hope

 

Beberapa orang, ditakdirkan bertemu di waktu yang tak tepat.

Ketika aku masih menjadi kanak-kanak dan terlalu banyak menuntut, ketika aku masih begitu keras kepala dan tak mau menurut, ketika aku masih sangat egois yang tak mau mengalah, ketika banyak hal yang aku lakukan tak pernah sama dengan apa yang kau inginkan.

Beberapa orang ditakdirkan berpisah di saat yang tak tepat.

Ketika aku masih harus belajar menerima, ketika aku belum bisa memaafkan kesalahan, ketika melepaskan ialah perihal paling sulit untuk dilakukan, ketika banyak hal yang membuat kepergianmu terasa begitu menyesakkan.

Dan karenanya aku belajar, sebab aku ingin memiliki satu lagi kesempatan bertemu denganmu. Agar kau tahu betapa berbedanya aku hari ini, betapa aku telah tumbuh dengan cara yang lebih baik, betapa pergimu ternyata tak sia-sia.

Sebab aku ingin kita bertemu dan saling mencintai, sekali lagi.

 

Jakarta, 12 April 2018

 

Syak Merah Jambu dan Perjalanan Menuju KKF


Grab Video 27

Syak Merah Jambu adalah judul sebuah buku yang ditulis oleh @nyincingdaster. Sebuah komunitas para pecinta buku yang kebetulan memiliki kesenangan yang sama “merawat ingatan” dan saya satu di antara beberapa anggotanya.

Buku #SyakMerahJambu merupakan buku NDC pertama yang terdiri dari beberapa Bab di antaranya :

  • Memelihara Ingatan
  • Siapa Aku
  • Fall In Love With People We Cant Have
  • Surat Rindu
  • 1998
  • Lipstik

dan beberapa bab lainnya (yang sengaja tidak saya tulis agar kalian menerka-nerka).

Postingan ini tidak akan membahas tentang apa itu “Syak” dan mengapa bukunya berjudul “Syak Merah Jambu” juga tidak akan membahas apa sih arti dari “Nyincing Daster” ataupun kenapa ada anggota laki-laki di NDC. Karena postingan ini hanya akan membahas bagaimana kami menuju KKF dan Launching buku #SyakMerahJambu.

09 Maret 2018

Seluruh anggota yang tinggal di luar Yogya berkumpul kurang lebih pukul 18.00 di rumah salah satu anggota NDC yang tinggal di Yogyakarta yaitu Vika Aditya yang kami panggil dengan Mbuk.

Sebentar sebelum saya menceritakan tentang 09 Maret 2018, saya coba menceritakan latar belakang anggota NDC terlebih dahulu.

  1. Vika Aditya : Model, MC, Artis Film dan Ibu dari 2 orang anak
  2. Endro Gusmoro : Dosen, Sound Man sejati dan Pecinta Perempuan garis keras
  3. Susi Haryani : Pekerja swasta dan ibu dari 2 orang anak.
  4. Gheriel Farah : Pekerja swasta dan baru saja putus dari pacarnya.
  5. Irza Khurun’in : Dosen di Universitas Brawijaya yang seringkali dikira MABA.
  6. Galuh Sitra : Pengantin baru yang sedang berbahagia dan memutuskan berhenti menjadi pekerja swasta.
  7. Gusti Hasta : Mahasiswi yang pernah ditinggal nikah.

dengan latar belakang tersebut di atas, maka bisa ditebak bahwa yang akrab dengan dunia panggung dan seni tentu hanya Mbuk Vika. Jadi bukan perihal mudah ketika akhrinya “kami dipaksa” untuk membacakan apa yang kami tulis.

Pada saat diwacanakan untuk membaca puisi awalnya saya sudah menyerah dan mengatakan “saya memilih dihukum saja, dibanding harus membaca puisi di depan umum” Yak, setakut itu saya dalam membaca puisi di depan umum. Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya membaca puisi di depan umum. Pernah suatu ketika saya dengan tanpa malu untuk mempermalukan diri sendiri, membaca puisi Sapardi di acara launcing buku Sajak_cinta di TIM 2012. Juga dengan tidak tahu malunya, saya dua kali membaca puisi saat launching buku puisi salah satu penulis favorite saya yaitu Andrei Aksana. Launching buku puisi “Mencintaimu Pagi, Siang, Malam” dan “Senyawa” (2010 dan 2015). Ohhhh damn.. ternyata saya sudah tiga kali mempermalukan diri sendiri dengan tanpa sadar dan tahu diri. Maka ketika kemudian saya sadar, tentu wacana membaca karya sendiri saat launching buku #SyakMerahJambu menjadi perihal yang mengerikan buat saya. Duuuh gusti, cobaan apa lagi ini. Memepermalukan diri sendiri gini amat ya.

Kembali ke 09 Maret 2018. Dikarenakan latar belakang yang jauh dari dunia baca puisi, maka Mbuk Vika berinisiatif untuk menghadirkan seorang coach untuk melatih kami membaca naskah puisi dan cerpen serta pembawaan diri di saat acara tersebut. Maka inilah kami perkenalkan Coach yang sangat amat berjasa melatih kami untuk berani tampil dan pede membacakan karya kami di KKF.

ROMO NASARIUS

Grab Video 61

Sesi latihan dimulai sekitar 3 minggu sebelum acara, kami latihan via group WA, dimana kami mengirim voice note dan Romo Nasar memberi masukan atas apa yang kami baca tersebut. Tentu bukan tanpa drama latihan demi latihan di WAG selama beberapa hari itu, drama milih tulisan mana yang akan dibaca saja kayaknya hamir 2 minggu hahahahaha. Belum lagi drama-drama semacam.. “duh aku ga usah baca aja ya, suraku gini, aku gitu, aku ga bisa.” Tapi Romo tetap sabar dan membuat kami percaya diri bahwa kami akan bisa tampil bagus tanggal 10 Maret 2018 nanti. Yak benar, Romo yakin melebih keyakinan kami sendiri.

Tanggal 09 Maret 2018 bada Maghrib itu ialah pertama kalinya kami bertemu Romo Nasar secara langsung dan latihan secara face to face dengan Romo di kediaman Mbuk Vika. Latihan di mulai dari pukul 18.30 hingga 01.00 dini hari.

10 Maret 2018

10 Maret 2018 dini hari. Selesai latihan, kami mulai dengan drama “Mau pakai Konstum apa?” kami keluarkan semua baju dari dalam tas dan koper yang kami bawa dari rumah masing-masing dan meskipun sudah disiapkan dari rumah, ternyata kami masih kurang puas dengan kostum tersebut. Beruntunglah ada VA Apparel yang berbaik hati mengeluarkan semua koleksi kostumnya dan pada akhirnya menjadi sponsor untuk konstum kami tanggal 10 Maret. Pukul 03.30 kami baru selesai memilah milih konstum.

10 Maret 2018, pukul 06.30 kami sudah kembali latihan, menyeduh kopi sembari haha hihi dan satu persatu mandi.

10 Maret 2018, pukul 12.30 kami sampai di KKF, untuk pertama kalinya saya bertemu dengan Alfin Rizal (Editor kesayangan yang begitu sabar menghadapi kebawelan NDC dalam proses penerbitan buku #SyakMerahJambu.)

Maka, perkenalkan; inilah Editor kami yang juga membuat cover kece dari buku #SyakMerahJambu.

ALFIN RIZAL

grab-video-1-e1521710636927.jpg

Saat tiba di KKF, ruangan masih dirapikan, dipasang lampu-lampu dan lainnya. Kami masing-masing latihan satu kali agar tidak grogi saat malam nanti. latihan dan penataan ruangan selesai sekitar 17.00.

10 Maret 2018, Bada maghrib. Beberapa dari kami sudah berganti pakaian dan sedang memakai make up masing-masing, Mbuk Vika sedang ngobrol dengan MC dan saya baru selesai mandi. Tiba-tiba tercetuslah ide untuk opening acara sayalah yang tampil membacakan puisi (duhh Gusti… iki aku salah opo sih sebenernya, kok ujian mempermalukan diri gini amat) berhubung sudah mendekati acara, dan itu permintaan Mbuk Vika, maka saya tidak bisa menolak (kalau menolak dan nanti jadi saling tunjuk-menunjuk siapa yang akan opening, maka ga akan selesai-selesai dan memperburuk mood kami semua). Ok, saya mengajukan sajak “Siapa Aku?” untuk dibawakan saat opening itu. Mbuk Vika setuju.

30 menit sebelum acara yaitu pukul 19.30, Saya merasa sajak itu kurang pas untuk membuka acara launching buku. Maka, sayapun meminta untuk mengubah sajak yang saya baca, menjadi “Bagian Diriku”. Tentu sajak yang saya bawakan sebagai opening ini saya belum pernah latihan membacanya sama sekali. Sama sekali. Ya sudah Pede saja.

10 Maret 2018 pukul 19.50 separuh kursi penonton masih kosong (jujur saya takut kalau sampai tidak ada yang hadir di acara ini) saya pun mengajukan saran agar acara diundur hingga 20.15 menunggu beberapa pengunjung lagi. Dan jawabnya adalah……. ACARA AKAN TETAP DIMULAI PUKUL 20.00 ADA ATAU TIDAK ADA PENONTON SEKALIPUN. Duhh yaa sumpah deg degan dan grogi.

10 Maret 2018 pukul 19.55 kami berdoa bersama untuk kelancaran acara

Grab Video 43

10 Maret 2018 pukul 20.00 Acara dimulai. Perasaan deg degan itu hilang melihat seluruh kursi sudah terisi penuh oleh pengunjung.

Berikut susunan acara Launching buku #SyakMerahJambu

  1. Pembacaan karya “Bagian Diriku” oleh Susi haryani
  2. Diskusi singkat tentang NDC dan buku #SyakMerahJambu oleh moderator dan Susi
  3. Launching buku dan penandatangannan buku #SyakMerahJambu oleh seluruh anggota NDC
  4. Diskusi dan bedah buku #SyakMerahJambu oleh Alfin Rizal dan Bernando J. Sujibto
  5. Pembacaan karya “Anak-anak Manis di Kota ini” oleh Geriel Farah
  6. Pembacaan karya “Cinta Jatuh Tak Pernah Permisi Pada Hati ” oleh Irza Khurun”in
  7. Pembacaan karya “Tulisan Tentang Hujan Ini Belum Sempat Diberi Judul” oleh Gusti Hasta
  8. Musikalisasi Puisi “Kereta Jaya Baya” oleh Roby dan team
  9. Pembacaan karya “Kepada Pemilik Pertanyaan ‘kamu kangen ya?'” oleh Susi
  10. Pembacaan karya “Rentang Lengan” oleh Galuh Sitra
  11. Pembacaan karya “Kepada Mba” oleh Geriel Farah
  12. Pembacaan karya “The Universe Conspires Againts Me” oleh Vika Aditya
  13. Penyerahan buku #SyakMerahJambu untuk pengunjung yang beruntung yang mengshare acara launching buku #SyakMerahJambu.
  14. Bincang-bincang oleh Alfin Rizal dan Bernando J. Sujibto terkait dengan bagaimanakah pendapatnya setelah karya dalam buku tersebut dibacakan oleh penulisnya.
  15. Foto bersama seluruh pengunjug
  16. Sesi tanda tangan dan foto-foto.

Acara yang awalnya dijadwalkan pukul 20.00 – 22.00 ternyata menjadi 20.00-23.00 dan dengan penuh perasaan bangga juga bahagia saya ingin mengatakan,”hingga selarut itu, pengunjung masih penuh” sungguh ini pengalaman luar biasa untuk saya.

Terima kasih untuk seluruh yang telah hadir di acara launching buku #SyakMerahJambu sungguh kalian telah membuat saya sangat bahagia hari itu.

Jakarta, 22 Maret 2018

Mau tahu foto-foto pembacaan karya dan cerita saat acara? hem.. nanti deh kalau sudah ingin menulis lagi.

Pertemuan Tanpa Percakapan


Mataku, matamu beradu tatap, tapi tak satupun dari kita yang menyapa. Kita berdua segera mengalihkan pandang masing-masing seolah ada yang salah dengan apa yang kita lihat (kau boleh meralatnya jika mungkin hanya aku yang merasa demikian dan kau tidak). Aku melangkah menjauh darimu, kuharap kau masih memperhatikan punggungku yang berlalu (meski mungkin tidak pun tak apa) aku tak kan pernah tahu yang sebenarnya bukan?

Aku tahu, bukan hal yang mudah untuk nampak biasa saja saat kau ada, sebab seolah telah secara naluriah aku akan mencari-cari perhatian agar kau melihatku, agar kau memperhatikanku, agar kau mengalihkan pandang kepadaku. Tapi kali ini aku hanya mematung, seperti seorang yang tak mengenalimu. Mungkin aku sedang berusaha menepati janji pada diriku sendiri untuk bisa berhenti mengharapkanmu.

Menatapmu di kejauhan, mengamati gerak gerikmu dan diam-diam melihat kau tertawa, ternyata masih sangat menyenangkan.

Seharusnya ada banyak percakapan yang bisa kita bicarakan, juga pertanyaan-pertanyaan yang bisa kuajukan–yang tak akan cukup untuk kau jawab meski seharian. Tetapi tak satu katapun kuucap.

Setidaknya ada satu “hai” atau “apa kabar?” basa-basi yang mungkin bisa membuat kita mengawali percakapan lainnya, atau berhenti di sana dengan jawaban “aku baik-baik saja” dari masing-masing kita.

Nyatanya tak ada apapun yang terjadi kecuali dua pasang mata yang saling mengingkari setiap kali bertemu tatap.

Kupikir setelah sekian waktu tidak ada “kita” aku akan baik-baik saja saat melihatmu kembali, nyatanya aku salah.

Karena ternyata pertemuan yang meskipun tanpa percakapan, sanggup membuat hariku begitu berantakan.

Jakarta, 14 Januari 2018

​Sajak Terima Kasih


:Raff

Banyak doa kau panjatkan
tak semua dikabulkan
Banyak pinta kau ucapkan
tak semua jadi kenyataan
: banyak perihal
tak untuk kau miliki

Langkah telah jauh
tak bisa diukur dengan selain ingatan
jalan semakin panjang
dan tak menyediakan arah kembali
: banyak hal yang tercipta
tak untuk diperbaiki

Memejamlah,
sebentar. Seperti
selayaknya bercengkarama
dengan Tuhan
mulailah menghitung;
yang membuatmu bahagia
tanpa perlu mencari
yang kau miliki
tanpa harus meminta

Tubuh itu rumah,
berkah bisa datang dari
arah pun celah mana saja
Tetapi seringkali;
Kau hanya duduk di depan
menunggu pintu diketuk

Hidup itu baik,
Kesedihan hanyalah tamu
yang tak seharusnya mematahkanmu

Selamat ulang tahun,
Semoga segala yang kau lalui
memberi kekuatan
untuk menghadapi hari depan.
Dan karenanya, tak perlu
mencari cara untuk lupa:
berterima kasih.

13 Jan 2018