Karena Kita Pernah Bahagia


𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐊𝐒𝐭𝐚 𝐏𝐞𝐫𝐧𝐚𝐑 𝐁𝐚𝐑𝐚𝐠𝐒𝐚

Kita pernah merencanakan banyak hal bersama, tentang bagaimanna kelak menghabiskan hari tua.

Kau dan aku pernah membuat list tentang film apa yang akan kita tonton di akhir pekan, juga cerita-cerita yang mungkin kita kisahkan di antara dua cangkir teh yang tersaji di meja dan hujan turun rintik-rintik saat kita duduk di beranda.

Kau dan aku pernah merencanakan di mana kelak anak-anak akan bersekolah dan menebak-nebak jurusan apa yang kelak akan mereka ambil, juga tentang betapa groginya kita saat kelak seseorang mengetuk pintu dan meminta ijin mengajak anak-anak berkencan.

Kau dan aku pernah merencanakan bahagia dengan begitu semangatnya, hingga detail-detail kecil yang mungkin mengacaukan luput dari perhatian.

Hari ini, kau menyebar undangan pernikahan. Tak ada namaku di sana–meski hanya sebagai tamu.

Apa kau pikir aku tak mampu mengucap selamat untukmu?
kau pikir aku akan hancur saat mendengarkan lagu-lagu yang pernah aku dan kau buat listnya untuk hari bahagia kita ternyata pada akhirnya untuk kau dan dia?

Apa kau kira aku tak sanggup memeluk perempuanmu dan mengucap selamat untuk bahagianya?
kau kira aku akan kacau ketika melihat senyummu menyalami tamu-tamu?

Aku tidak serapuh itu.

Aku akan baik-baik saja, 𝐀𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐀𝐒𝐭𝐚 𝐩𝐞𝐫𝐧𝐚𝐑 π›πšπ‘πšπ π’πš; akan kukenang itu saja. Mengapa tak kau berikan kesempatan untukku membuktikannya?

___
Jakarta 23 Agustus 2019

Kepada Kehilangan Kehilangan


Bukan aku lagi
yang kau tunggu di balik pintu
dengan tubuh meringkuk menahan rindu
sebab pada ketukan-ketukan yang ada
kau tak lagi bergegas membukanya.

Bukan aku lagi
yang kau tulis sebagai hujan
pada halaman-halaman bukumu yang basah
sebab pada kata-kata yang memudar
kau tak lagi mencari aku untuk menggantikannya.

Pada kedua mata yang terpejam
kau merekam warna warna langit,
cuaca katamu; ialah tipuan-tipuan perasaan.

Pada tangan yang memeluk lutut
kau tengah menahan sakit,
kepedihan katamu; ialah saat memiliki tubuh yang tanpa ruh.

Tetapi bukan aku lagi yang kau tunggu dan mau;

“Aku rindu diriku” katamu
sesaat sebelum mengunci pintu dan langit mengabu.

Jakarta,

05 Juli 2019

Pura Pura


Dia datang di saat yang tepat, saat kau kesepian, saat kau ingin melupakan kesedihan, saat kau butuh teman berbagi, sebab kau merasa bosan pada hari-harimu yang begitu menjenuhkan.

Dia hadir waktu yang kamu harapkan, saat kau ingin didengarkan, saat kau ingin diperhatikan, saat kau ingin dibuat tertawa, sebab kau tak bisa melakukannya sendirian.

Tapi, bukan dia yang kamu harapan, bukan dia yang membuatmu jatuh cinta, bukan dia yang sering kau pinta saat berdoa.

Kau pikir tak apa sedikit berpura-pura, kau hanya ingin merasakan bahagia. Lalu kau ijinkan dia mengisi ruang kosong di hidupmu.

Hari-harimu tak lagi sepi, selalu ada yang mengucapkan selamat pagi, menertawakan kebodohanmu, menyanjung apapun tentangmu, menghujanimu dengan kata-kata cinta dan rindu, mengkhawatirkan kabarmu, mengingatkan jadwal makanmu, menjadi teman insomniamu, tempat kau meluapkan marah, jengkel, sedih, kecewa, bahagia dan juga tempat bermanja-manja.
Harimu menjadi penuh warna karenanya.

Hatimu perlahan pulih, kau jadi sering tertawa, kau mulai lupa pada patah hatimu, kau tak lagi menangis malam-malam, kau tak lagi mengeluhkan ketidakadilan dunia, kau mulai terbiasa dengan segala tentangnya, kau mulai menggantungkan banyak hal padanya.
Hatimu menjadi semakin penuh bahagia.

Tetapi dia tidak.
Dia merasa kelelahan sebab hanya dia yang berusaha membuat bahagia, sebab hanya dia yang menorehkan warna-warna, hanya dia yang menyediakan telinga, lengan, apapun yang kau butuhkan.

Dia lelah, dan pada akhirnya memutuskan pergi.

Celakanya dia pergi, di saat kau telah lupa, bahwa kau tengah berpura-pura.

Jakarta, 10 April 19

Membiarkan Dia Pergi


 

Ketika kamu mecintai seseorang melebihi dirimu sendiri, akan selalu ada maaf, pemakluman, dan banyak pengorbanan lain yang kau lakukan.
Kau akan merelakan waktumu, tenagamu, pikiranmu, perhatianmu; segala yang kau miliki.

Ketika kau mencintai seseorang melebihi dirimu sendiri, akan selalu ada rasa sakit, luka yang tak pernah sembuh, juga perihal lain yang mudah menjatuhkan air mata.
Kau akan berjuang untuk terlihat baik-baik saja, pura-pura bahagia dan melakukan segala tipuan yang menyuburkan duka.

Ketika kau mencintai seseorang melebihi dirimu sendiri, kau akan mati-matian memperjuangkannya, meski sadar benar tengah dilukai.

Mengapa masih berpikir bahwa kehilangannya adalah sesuatu yang kelak akan kau sesali?

Mempertahankan ia yang tak mencintaimu, ialah seperti meletakkan pisau di genggamanmu sendiri.
Dan membiarkan ia pergi, ialah sebaik-baiknya cara menyembuhkan patah hati.

 

___
Jakarta 29 Maret 2019

Yang tak Sempat Terucap


 

Ada perih yang tak aku mengerti setiap kali mengingat
Tatap matamu yang teduh
Genggaman tamanmu yang hangat
Senyummu yang menenangkan
Pelukmu yang begitu nyaman
segala yang baru kusadari jika itu begitu membuatku candu

Ada sakit yang tak dapat aku hindari setiap kali
Mendengar lagu kesukaanmu
Menonton film favoritmu
Membaca buku-buku kegemaranmu
Menyinggahi cafe langgananmu
segala yang membuatmu tiba-tiba memenuhi kepalaku

Ada sesal yang membuat dadaku penuh sesak,
membuat jantungku begitu nyeri;
bukan karena kepergianmu
bukan karena melihat bahagianmu dengan seseorang yang bukan aku,
melainkan “aku mencintaimu” yang tak pernah kukatakan saat kau masih di sini.

 

Jakarta 28 Maret 2019

Tak Lagi Sama


Aku percaya bahwa setiap tempat, jalan, lagu, puisi, gambar, potret, minuman, dan hal-hal lainnya yang terkadang tampak tak penting, memiliki kisahnya masing-masing bagi seseorang yang ketika dengan sengaja maupun tidak akan mengantarkan ingatan pada suatu waktu yang entah.

Tiap kali kudengarkan lagu kesukaanmu diputar di kedai kopi yang kusinggahi, perlahan ingatanku terlempar ke suatu masa ketika kau masih begitu hangatnya di dalam dada; masih kuingat dengan jelas bagaimana kau yang dengan sigap menghabiskan makanan pesananku yang tak mampu lagi kuhabiskan, tentang kau yang memesankan lemon tea sebelum aku mengatakan hendak minum apa pada pramusaji yang datang atau bagaimana kau memanggil pramusaji untuk memesan lagi kopi yang telah tandas dalam beberapa menit, Juga gumamananmu meski hanya “nananana..nanana.. nana..nana…” mengikuti lagu yang bergema di udara. Begitu banyak hal-hal yang berputar di ingatan seperti sebuah film favorit yang tiap adegannya kuhapal dengan detail.

Ketika masa-masa seperti itu tiba (meski tak sering, sebab tak banyak cafe yang memutar lagu kesukaanmu itu) aku memilih menyibukkan diri dengan membaca buku, beharap tak satu kenanganpun yang mampu mengunjungiku, kubaca kata demi kata, kalimat demi kalimat, sialnya tak satupun yang mampu melawan kehadiranmu.

Atau aku sibukkan diri dengan membalas chat yang bertumpuk sedari pagi belum kubuka sebab seharian sibuk bekerja, tapi selalu saja aku gagal menafikan keinginan untuk membuka kontakmu, mengetikan “hai, aku sedang di cafe dan lagu kesukaanmu diputar di sini” namun selalu gagal kukirim sebab aku tak seberani itu untuk menyapamu lebih dulu.

Atau aku akan mencoba menulis sajak-sajak, namun begitu selesai hanya kutemukan namamu dan kata rindu yang tertulis di booknoteku.

Menyebalkan bukan, berada pada ingatan-ingatan lampau yang sekuat apapun aku coba hilangkan namun ia tetap saja hadir tanpa permisi.

Apa sesekali kau pernah berada pada saat yang seperti itu, ketika banyanganku mengusikmu dan apa-apa yang kau kerjakan selalu tak maksimal sebab kau tak tahu bagaimana caranya untuk tidak melibatkan aku pada apa-apa yang kau sentuh? Kuharap semoga tidak, sebab aku tahu betapa tidak menyenangkannya berada pada perasaan demikian; sebab sebanyak apapun kopi kau teguk, pahitnya tak akan melebihi kenyataan bahwa kita sudah menjadi masa lalu yanh jauh, sebanyak apapun rokok kau hisap dan hembuskan, hanya akan membuat dadamu semakin sesak, sebab sebaik apapun kau berlatih untuk tersenyum tak akan pernah berhasil menyakinkan dirimu sendiri bahwa kau baik-baik saja.

Kuharap kau akan baik-baik saja melewati hari-hari yang tanpaku, kuharap kau tidak dihinggapi perasaan bersalah dan penyesalan; sebab bagaimanapun tak akan pernah lagi kau temukan seseorang yang sanggup mencintaimu sebaik aku, bahkan ketika kau menyesali dan meminta kembali, aku tak akan pernah sama lagi.

11 Des 2018

Bukan Hanya Kamu


Kaupikir hanya kamu yang berjuang, aku tidak.
Kaupikir hanya kamu yang pandai merawat kesedihan, aku tidak.
Kau pikir hanya kamu yang terluka, aku tidak.
Kau pikir hanya kamu yang merasa sepi, aku tidak.
Kau pikir hanya kamu yang membuat hubungan ini baik-baik saja, aku tidak.
Kau pikir hanya kamu yang memanjakan aku, aku tidak.

Bukan hanya kamu,
Bukan hanya kamu yang melakukan hal-hal sulit.
Bukan hanya kamu yang menghabiskan air mata untuk bersedih.
Bukan hanya kamu yang kuat melakukan segalanya.

Biarkan, biarkan aku membuat kau mengerti
Cinta, tak pernah berjuang sendirian.
Cinta, tak pernah merasa bahagia sendirian.
Bila bagimu aku terlampau lemah untuk itu;
Maka katakan, untuk apa aku tetap tinggal, jika ternyata kau menganggapku terlampau jauh dari kata β€œsaling”?

____

Menjawab postingan blog @fermenkisd

https://fermendkis.wordpress.com/2018/09/02/aku-saja/amp/?__twitter_impression=true